Format Teks
Paragraf & Spasi
Line Spacing
List
Bullets Library
Number Library
Font
Sisipkan
Hapus
Border Sel
Shading Sel
Aksi
Modul Ajar

IDENTITAS MODUL

Satuan Pendidikan : SD Negeri 1 Wringin Anom
Nama Guru : Didik Sadi, S.Pd.
Mata Pelajaran : Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA)
Kelas / Fase : Kelas V / C
Semester / Tahun Pelajaran : Ganjil / 2026/2027
Alokasi Waktu : 2 x 35 menit (1 Pertemuan)
Materi / Topik : Keamanan Informasi Pribadi
Elemen Capaian Pembelajaran : Literasi Digital dan Keamanan Siber
Model Pembelajaran : Case Study & Critical Thinking
Pendekatan Pembelajaran : Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) berbasis Kontekstual
Integrasi Lokal dan Diferensiasi : Diferensiasi visual berbasis studi kasus media sosial; Kearifan lokal etika kehati-hatian dan kesantunan (unggah-ungguh/sarekat)

ANALISIS AWAL PEMBELAJARAN

Karakteristik dan Gaya Belajar Peserta Didik

Sebagian besar peserta didik Kelas V SD Negeri 1 Wringin Anom memiliki kecenderungan gaya belajar visual-spasial yang kuat. Peserta didik menunjukkan respons antusias dan daya tangkap optimal saat disajikan stimulus berupa gambar infografis, video simulasi, dan tata letak grafis interaktif. Meskipun demikian, asesmen diagnostik non-kognitif dan kognitif awal menunjukkan bahwa pemahaman konseptual mereka terhadap batasan data pribadi masih minim. Peserta didik terbiasa berinteraksi dengan gawai pintar dan platform digital (seperti YouTube, TikTok, dan game daring), namun belum menyadari konsekuensi logis dari membagikan informasi identitas diri secara terbuka di ruang publik virtual.

Kesiapan Belajar (Readiness)

  1. Kelompok Siap: Peserta didik telah mengenal istilah kata sandi (password) dan akun, namun belum dapat mengklasifikasikan jenis data yang berbahaya jika dibagikan.
  2. Kelompok Menengah: Peserta didik menggunakan gawai hanya untuk konsumsi hiburan tanpa menyadari adanya jejak digital atau pertukaran data personal.
  3. Tindak Lanjut: Pembelajaran diawali dengan penyajian representasi visual yang konkret dan dekat dengan kehidupan nyata untuk menjembatani kesenjangan konsep abstrak mengenai data pribadi.

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Memahami konsep dasar teknologi digital, membedakan perangkat keras dan perangkat lunak komputer, memahami alur kerja masukan-proses-luaran (IPO), serta menerapkan prinsip keamanan informasi pribadi.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan Umum

Peserta didik mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan menerapkan prinsip perlindungan data dan keamanan informasi pribadi di lingkungan digital secara kritis, beretika, dan bertanggung jawab.

Indikator Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (IKTP)

  1. Mengidentifikasi minimal empat jenis informasi pribadi yang bersifat rahasia (sensitif) dan tidak boleh dipublikasikan secara umum.
  2. Menganalisis risiko keamanan siber dari berbagai contoh unggahan media sosial melalui studi kasus visual.
  3. Menyusun rekomendasi tindakan perlindungan data digital dengan mengintegrasikan nilai etika kehati-hatian (unggah-ungguh/sarekat) dalam kehidupan sehari-hari.

PEMAHAMAN BERMAKNA

Informasi pribadi adalah identitas berharga yang menjadi kunci akses kehidupan nyata dan digital seseorang. Membagikan data pribadi sembarangan di dunia maya diibaratkan meninggalkan kunci rumah di pinggir jalan umum. Menerapkan kehati-hatian dan etika santun (unggah-ungguh/sarekat) dalam beraktivitas digital melindungi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar dari ancaman penipuan, perundungan siber, dan pencurian identitas.

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Jika kalian memiliki buku harian rahasia atau kunci rumah, apakah kalian akan memberikannya kepada orang asing di pasar? Mengapa?
  2. Pernahkah kalian melihat seseorang memamerkan foto kartu identitas, tiket perjalanan, atau lokasi rumahnya di internet? Apa bahaya yang mungkin terjadi pada orang tersebut?
  3. Mengapa kita perlu menerapkan sikap hati-hati (sarekat) dan sopan santun saat membagikan sesuatu di media sosial?

PROFIL DAN KOMPETENSI YANG DIKEMBANGKAN

Profil Pelajar Pancasila

  1. Bernalar Kritis: Menganalisis kebenaran, motif, dan dampak dari pembagian data pribadi melalui studi kasus kontekstual.
  2. Mandiri: Menyadari tanggung jawab pribadi dalam menjaga kerahasiaan identitas dirinya di dunia digital.
  3. Bergotong Royong: Bekerja sama secara aktif dalam diskusi kelompok untuk memecahkan persoalan studi kasus keamanan data.

Kompetensi Abad 21 (4C)

  1. Critical Thinking: Mengurai informasi pada gambar unggahan media sosial dan mengevaluasi tingkat risikonya.
  2. Communication: Menyampaikan argumentasi hasil telaah kasus di depan kelas secara terstruktur dan santun.
  3. Collaboration: Berbagi peran dalam kelompok untuk menyepakati klasifikasi data aman versus data berbahaya.
  4. Creativity: Merumuskan slogan atau aturan etika digital yang kreatif dan mudah diingat oleh rekan sebaya.

MATERI PEMBELAJARAN

Konsep Informasi Pribadi

Informasi pribadi adalah setiap data yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi, melacak, atau menghubungi seseorang secara langsung maupun tidak langsung. Dalam ruang digital, informasi dibagi menjadi dua kategori:

  1. Informasi Publik: Nama panggilan, hobi, karya seni, makanan kesukaan, atau prestasi sekolah yang sifatnya umum dan tidak membahayakan keselamatan fisik maupun materiil.
  2. Informasi Sensitif/Rahasia (Privat): Nama lengkap, Nomor Induk Kependudukan (NIK), alamat rumah lengkap, nomor telepon pribadi, nama ibu kandung, tanggal dan tempat lahir, kata sandi (password), kode OTP, informasi perbankan orang tua, rute perjalanan harian, dan tiket perjalanan/acara dengan kode batang (barcode/QR code).

Ancaman Kejahatan Siber Akibat Kebocoran Data

  1. Pencurian Identitas (Identity Theft): Pelaku kejahatan membuat akun palsu atas nama korban untuk meminta uang atau menipu orang lain.
  2. Rekayasa Sosial (Social Engineering): Penipu memanfaatkan informasi pribadi yang tersebar untuk mengelabui korban agar menyerahkan data perbankan atau kata sandi.
  3. Penguntitan dan Ancaman Fisik (Stalking): Mengetahui lokasi tempat tinggal dan sekolah anak secara real-time dapat membuka potensi kejahatan fisik.
  4. Perundungan Siber (Cyberbullying): Data pribadi yang disalahgunakan untuk mempermalukan korban di ruang publik.

Kearifan Lokal: Sarekat dan Unggah-Ungguh di Ruang Siber

Dalam budaya lokal masyarakat Jawa, dikenal prinsip unggah-ungguh (tata krama dan etika kesopanan) serta sarekat (kehati-hatian, kecermatan, dan pengendalian diri sebelum bertindak). Dalam konteks digital, nilai ini diwujudkan melalui:

  1. Berpikir matang sebelum mengunggah (saring sebelum sharing).
  2. Menghormati privasi diri sendiri dan orang lain dengan tidak membagikan foto atau data teman tanpa izin.
  3. Berkomunikasi secara santun dan tidak memamerkan privasi secara berlebihan (adigang, adigung, adiguna).

MODEL DAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN

Pendekatan

Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dengan karakteristik Mindful (berkesadaran penuh), Meaningful (bermakna secara kontekstual), dan Joyful (menyenangkan berbasis eksplorasi visual).

Model Pembelajaran

Case Study & Critical Thinking, dengan sintaks:

  1. Orientasi Masalah Visual (Pemaparan Kasus Kontekstual)
  2. Pengorganisasian Penyelidikan Kelompok (Investigasi Data Pribadi)
  3. Analisis Kritis dan Pemecahan Kasus (Evaluasi Ancaman Siber)
  4. Pengembangan dan Penyajian Solusi (Presentasi Etika Sarekat)
  5. Refleksi dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah

ASESMEN

Asesmen Awal (Diagnostik)

Kuis visual cepat menggunakan Smart TV: Menampilkan 5 kartu gambar data digital (foto selfie, foto rapor ber-NIK, foto kucing, foto tiket kereta, foto halaman rumah) di mana peserta didik mengangkat kartu merah (Bahaya/Privat) atau hijau (Aman/Publik).

Asesmen Formatif (Proses)

  1. Observasi keaktifan diskusi dan penalaran kritis selama proses pemecahan studi kasus.
  2. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) kelompok berupa Analisis Kasus Unggahan Media Sosial.

Asesmen Sumatif (Akhir)

Tes tertulis mini berupa 5 soal pilihan ganda kontekstual dan 1 soal analisis skenario singkat mengenai tindakan pengamanan informasi pribadi.

RUBRIK PENILAIAN

Rubrik Penilaian Formatif (Diskusi Kelompok dan LKPD)

Aspek PenilaianKategori Mahir (Skor 4)Kategori Cakap (Skor 3)Kategori Layak (Skor 2)Kategori Berkembang (Skor 1)
Identifikasi Data PribadiMampu menemukan seluruh data sensitif tersembunyi pada studi kasus visual dengan tepat tanpa bantuan.Menemukan sebagian besar data sensitif pada studi kasus visual dengan tepat.Menemukan sebagian kecil data sensitif dengan bimbingan guru.Belum mampu membedakan data publik dan data sensitif pada gambar kasus.
Analisis Risiko SiberMampu menjelaskan minimal dua risiko nyata secara logis dan runtut atas kebocoran data tersebut.Mampu menjelaskan satu risiko nyata dengan cukup logis.Menjelaskan risiko namun kurang relevan dengan jenis data yang bocor.Tidak mampu mengemukakan potensi risiko dari kebocoran data.
Integrasi Etika/Kearifan LokalMerumuskan solusi preventif berbasis sikap kehati-hatian (sarekat) secara orisinal dan sangat santun.Merumuskan solusi preventif yang memuat prinsip kehati-hatian umum.Merumuskan solusi sederhana namun belum menggambarkan sikap kehati-hatian.Solusi yang diberikan tidak relevan dengan tindakan pencegahan siber.
Kerjasama dan KomunikasiBerpartisipasi aktif, membagi tugas merata, dan menyampaikan ide secara percaya diri dan runtut.Berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok dan menyampaikan hasil dengan cukup baik.Partisipasi minim dalam kelompok dan penyampaian hasil masih terbata-bata.Pasif dalam kelompok dan enggan terlibat dalam presentasi.

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Kegiatan Pendahuluan (10 Menit)

  1. Pembiasaan dan Pengkondisian: Guru membuka pembelajaran dengan salam santun, memeriksa kesiapan ruang, dan mengajak peserta didik berdoa bersama yang dipimpin oleh ketua kelas.
  2. Asesmen Diagnostik Visual (Mindful Learning): Guru menyalakan Smart TV dan menampilkan gambar simulasi beranda media sosial milik seorang siswa fiktif bernama "Doni" yang memuat biodata lengkap beserta foto kartu pelajar.
  3. Apersepsi dan Pengaitan Kearifan Lokal: Guru bertanya, "Apakah tindakan Doni ini mencerminkan sikap hati-hati (sarekat)? Apa yang terjadi jika orang yang berniat jahat membaca kartu identitas Doni?"
  4. Penyampaian Tujuan Pembelajaran: Guru menyampaikan tujuan kegiatan, skenario studi kasus detektif digital, serta manfaat mempelajari keamanan informasi pribadi.

Kegiatan Inti (50 Menit)

Tahap 1: Orientasi Masalah Visual (10 Menit)

  1. Guru menayangkan video animasi pendek berdurasi 2 menit mengenai kasus seorang anak yang akun permainannya diretas dan rumahnya didatangi penipu karena memamerkan alamat serta identitas keluarga di media sosial.
  2. Peserta didik mengamati detail permasalahan secara seksama melalui Smart TV.
  3. Guru mengajukan pertanyaan kritis: "Informasi apa saja yang bocor dari video tersebut? Mengapa hal itu bisa menjadi celah bagi penjahat siber?"

Tahap 2: Pengorganisasian Penyelidikan Kelompok (10 Menit)

  1. Peserta didik dibagi ke dalam kelompok heterogen beranggotakan 4-5 anak.
  2. Setiap kelompok berperan sebagai "Detektif Siber Cilik Wringin Anom".
  3. Guru membagikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang dilengkapi dengan dua lembar studi kasus visual berupa cetakan tangkapan layar unggahan media sosial yang dirancang dekat dengan kehidupan harian peserta didik.

Tahap 3: Analisis Kritis dan Pemecahan Kasus (15 Menit)

  1. Peserta didik dalam kelompok memeriksa gambar unggahan media sosial pada LKPD:
    • Kasus A: Unggahan foto anak memegang tiket bioskop dan kartu identitas pelajar dengan keterangan "Hore, liburan di rumah sendirian jalan Mawar No 12!".
    • Kasus B: Unggahan kuis daring interaktif "Cari tahu karaktermu berdasarkan tanggal lahir, nama ibu, dan nomor gawai orang tua!".
  1. Peserta didik menandai elemen berbahaya dengan spidol warna, mengidentifikasi ancaman yang mungkin muncul, serta merumuskan saran perbaikan berlandaskan prinsip unggah-ungguh (etika menjaga martabat dan batas privasi).
  2. Guru berkeliling memberikan scaffolding, terutama kepada kelompok yang membutuhkan visualisasi tambahan atau penjelasan bertingkat.

Tahap 4: Pengembangan dan Penyajian Solusi (10 Menit)

  1. Perwakilan dua kelompok mempresentasikan hasil analisis di depan kelas melalui bantuan Smart TV yang memproyeksikan lembar kerja kelompok.
  2. Kelompok lain bertindak sebagai penguji kritis, memberikan tanggapan, serta menanyakan alternatif tindakan pengamanan data pribadi.
  3. Guru mengonfirmasi argumen peserta didik dan menekankan pentingnya filter informasi sebelum mengunggah konten apa pun.

Tahap 5: Refleksi dan Evaluasi Pemecahan Masalah (5 Menit)

  1. Peserta didik merangkum pedoman utama perlindungan data pribadi bersama guru.
  2. Guru memvalidasi konsep bahwa data sensitif harus dijaga rapat-rapat layaknya benda berharga keluarga.

Kegiatan Penutup (10 Menit)

  1. Rangkuman Bermakna: Peserta didik bersama guru menyimpulkan butir-butir pembelajaran mengenai jenis data privat versus publik.
  2. Asesmen Sumatif Cepat: Peserta didik menjawab 3 butir kuis interaktif yang ditampilkan pada Smart TV.
  3. Apresiasi: Guru memberikan apresiasi atas kerja sama tim detektif siber cilik dan keberanian berpendapat.
  4. Tindak Lanjut: Peserta didik diberi misi rumah untuk memeriksa pengaturan privasi gawai masing-masing bersama orang tua di rumah.
  5. Doa Penutup: Guru menutup sesi dengan doa bersama dan salam perpisahan santun.

PENGALAMAN BELAJAR MENDALAM

Dimensi Mindful (Berkesadaran)

Peserta didik diajak berhenti sejenak dan merefleksikan jejak digital mereka sendiri melalui analogi visual: membandingkan pintu rumah yang terkunci rapat dengan akun media sosial yang dibuka tanpa proteksi privasi. Mereka diajak sadar bahwa setiap ketukan jari di layar gawai memiliki konsekuensi jangka panjang.

Dimensi Meaningful (Kebermaknaan)

Materi tidak disajikan dalam bentuk definisi teoritis hafalan, melainkan melalui fenomena nyata yang dihadapi peserta didik setiap hari: tren pamer tiket liburan, tren kuis nama ibu kandung di media sosial, dan penipuan daring. Peserta didik melihat hubungan nyata antara materi pelajaran dengan perlindungan keselamatan diri dan keluarganya.

Dimensi Joyful (Kesenangan)

Suasana belajar dihidupkan melalui metode penyelidikan bertema "Detektif Siber Cilik". Kerja kelompok yang interaktif dengan visual berwarna cerah serta apresiasi positif dari guru menciptakan rasa ingin tahu yang tinggi tanpa rasa takut salah.

STRATEGI DIFERENSIASI

Diferensiasi Konten

Menyediakan media analisis kasus dengan variasi tingkat kompleksitas visual. Kelompok yang masih berkembang mendapatkan lembar gambar dengan petunjuk visual berupa lingkaran bantuan, sedangkan kelompok yang sudah mahir mendapatkan gambar tangkapan layar utuh tanpa petunjuk visual untuk menantang ketelitian mereka.

Diferensiasi Proses

Guru memberikan pendampingan intensif (scaffolding terarah) bagi kelompok peserta didik yang lambat dalam menyimpulkan bahaya digital, sementara kelompok mandiri diberikan keleluasaan melakukan eksplorasi skenario lanjutan (misalnya, merancang langkah penyelamatan akun jika kata sandi terlanjur bocor).

Diferensiasi Produk

Dalam menyampaikan hasil telaah, kelompok diberikan kebebasan memilih cara penyajian: membacakan poin-poin detektif secara lisan, membuat poster peringatan visual sederhana, atau mendramatisasikan dialog singkat antara penipu siber dan calon korban.

PEMANFAATAN TEKNOLOGI

  1. Smart TV: Menampilkan video studi kasus resolusi tinggi, kuis diagnostik visual, dan mirroring lembar kerja kelompok secara real-time.
  2. Laptop Guru: Mengelola alur presentasi interaktif dan media demonstrasi visual.
  3. Jaringan Internet: Mengakses video edukasi resmi keamanan siber dari Kominfo dan rujukan literasi digital ramah anak.

MEDIA DAN SUMBER BELAJAR

  1. Media Pembelajaran: Slide presentasi visual interaktif, video studi kasus animasi keamanan digital, kartu sortir "Privat vs Publik", dan lembar kerja studi kasus media sosial.
  2. Sumber Belajar Guru: Buku Panduan Literasi Digital Kominfo, Modul Keamanan Siber Anak BSSN, serta referensi kurikulum Informatika Fase C.
  3. Sumber Belajar Siswa: Buku Koding dan Kecerdasan Artifisial Kelas V, lembar bahan bacaan visual detektif siber.

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

Identitas Peserta Didik

LabelIsi
Nama KelompokDetektif Siber Kelompok: ............................................
Anggota Kelompok1. .................................................................................
2. .................................................................................
3. .................................................................................
4. .................................................................................
5. .................................................................................
Kelas / FaseKelas V / Fase C
No. Absen...................................................................................
Tanggal...................................................................................

Petunjuk Pengerjaan

  1. Bacalah basmalah sebelum memulai investigasi.
  2. Amati dua gambar tangkapan layar simulasi unggahan media sosial berikut dengan cermat bersama kelompokmu.
  3. Lingkari setiap informasi yang kalian anggap berbahaya jika dilihat oleh orang yang tidak dikenal.
  4. Tuliskan alasan bahaya dan solusi pencegahannya pada tabel investigasi yang tersedia.

Stimulus Kasus Visual

Deskripsi Gambar Kasus 1 (Akun Medsos "Rani Si Bintang"):

Terdapat foto anak perempuan mengenakan seragam sekolah dengan badge nama jelas "Rani Maharani - SDN 1 Wringin Anom". Di sampingnya terdapat foto kartu perpustakaan yang memuat NIK, tanggal lahir 14 Mei 2015, dan alamat rumah "Jalan Kenanga No. 4, RT 02 RW 01". Teks keterangan foto (caption): "Asyik, kartu perpus baruku sudah jadi! Pulang sekolah sendirian jalan kaki lewat jembatan lama, mampir beli es boba dulu!".

Deskripsi Gambar Kasus 2 (Akun Permainan Daring "Gamer Hebat"):

Terdapat gambar tangkapan layar pesan obrolan (chat) dari akun tidak dikenal berlogo hadiah: "Selamat! Akunmu terpilih mendapatkan 10.000 koin game gratis. Silakan kirimkan alamat email, kata sandi (password), dan nama gadis ibu kandungmu sekarang untuk verifikasi sistem!".

Tabel Investigasi Detektif Siber

Nomor KasusData Sensitif yang DitemukanBahaya yang Dapat TerjadiSaran Perbaikan Berdasarkan Etika Kehati-hatian (Sarekat)
Kasus 1....................................................................................................................................................................................
Kasus 2....................................................................................................................................................................................

Pertanyaan Reflektif Kelompok

Menurut kelompok kalian, mengapa kita tidak boleh sembarangan percaya pada tawaran hadiah gratis di internet yang meminta data rahasia? Jelaskan dengan singkat!

Jawaban:

................................................................................................................................................................

................................................................................................................................................................

REMEDIAL

Program remedial ditujukan bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal pada indikator identifikasi data pribadi:

  1. Bentuk Bimbingan: Bimbingan perorangan atau kelompok kecil (maksimal 3 anak) menggunakan metode "Pilah Kartu Identitas Fisik". Guru menyediakan 10 kartu bergambar benda/informasi nyata (foto wajah, KTP mainan, nomor sepatu, kata sandi buku harian, warna baju favorit). Peserta didik memasukkan kartu ke dalam dua kotak bertuliskan "Kotak Brankas Rahasia" (Data Privat) dan "Kotak Mading Sekolah" (Data Publik).
  2. Asesmen Ulang: Menyelesaikan lembar pengelompokan 5 data pribadi dengan target minimal 4 jawaban tepat.

PENGAYAAN

Program pengayaan ditujukan bagi peserta didik yang telah mencapai kriteria ketuntasan dengan capaian mahir:

  1. Aktivitas: Berperan sebagai "Duta Keamanan Siber Kelas". Peserta didik diminta merancang draf poster kampanye digital atau komik strip 4 panel pada kertas gambar A4 mengenai tips membuat kata sandi yang kuat dan aman dari tebakan orang lain.
  2. Materi Tambahan: Pengenalan konsep autentikasi dua langkah (Two-Factor Authentication/2FA) dan cara mengenali tautan penipuan (phishing) sederhana di internet.

REFLEKSI GURU

NoFokus RefleksiTemuan dan Catatan LapanganTindak Lanjut Perbaikan
1Ketercapaian Tujuan PembelajaranSebanyak 85% peserta didik berhasil membedakan data publik dan privat secara akurat melalui studi kasus visual.Memberikan penguatan konsep kepada 15% peserta didik yang masih rancu membedakan nama lengkap dan nama panggilan.
2Efektivitas Media Visual dan Smart TVPenggunaan media visual tangkapan layar media sosial terbukti sangat efektif memusatkan perhatian peserta didik visual.Mengembangkan variasi studi kasus interaktif yang dapat langsung diklik atau disentuh di layar Smart TV.
3Integrasi Budaya Lokal (Unggah-Ungguh)Peserta didik memahami analogi kehati-hatian (sarekat) saat dikaitkan dengan menjaga barang berharga milik keluarga.Membiasakan penggunaan istilah etika lokal dalam aturan komunikasi digital sehari-hari di sekolah.
4Manajemen Waktu PembelajaranSesi diskusi kelompok membutuhkan waktu 5 menit lebih lama dari perencanaan karena antusiasme berargumen.Mempertegas penanda waktu (timer visual) di layar Smart TV agar peserta didik lebih disiplin mengelola waktu.

REFLEKSI PESERTA DIDIK

Lembar Refleksi Diri (Diisi oleh Peserta Didik)

NoPernyataan Refleksi DiriTanggapan (Sangat Setuju / Setuju / Masih Bingung)
1Saya sudah tahu data apa saja yang tidak boleh disebarkan di media sosial.............................................................
2Saya bisa menjelaskan bahaya membagikan alamat rumah dan kata sandi kepada orang asing.............................................................
3Saya merasa senang belajar memecahkan kasus detektif digital bersama teman sekelompok.............................................................
4Saya akan bersikap hati-hati (sarekat) sebelum mengunggah foto atau tulisan di internet.............................................................

BAHAN BACAAN

Bacaan Guru: Urgensi Pendidikan Keamanan Siber untuk Anak Usia Sekolah Dasar

Anak usia sekolah dasar generasi alfa tumbuh dalam ekosistem digital yang melekat erat dengan keseharian mereka. Namun, kematangan kognitif dalam mengevaluasi risiko sering kali tertinggal dibanding keterampilan motorik mereka dalam mengoperasikan gawai. Data pribadi seperti tanggal lahir, nama ibu kandung, dan alamat sering kali bocor bukan karena peretasan sistem rumit, melainkan melalui manipulasi sosial sederhana (social engineering). Guru memiliki peran strategis menanamkan kesadaran bahwa privasi bukanlah rahasia yang memalukan, melainkan pagar pelindung kedaulatan identitas diri. Menghubungkan konsep keamanan digital dengan nilai kearifan lokal seperti unggah-ungguh dan sarekat membumikan materi siber menjadi pedoman moral yang dihayati oleh anak secara kultural.

Bacaan Peserta Didik: Detektif Cilik dan Harta Karun Rahasia

Tahukah kalian bahwa kalian memiliki "harta karun" yang paling dicari oleh penjahat di seluruh dunia? Harta karun itu bukan emas batangan, melainkan informasi pribadi kalian! Nama lengkapmu, tempat tanggal lahirmu, alamat rumah tempat tinggalmu, dan kata sandi akun permainanmu adalah kunci brankas kehidupanmu. Jika penjahat berhasil mendapatkan kunci itu, mereka bisa berpura-pura menjadi dirimu, mengambil barang berharga milik orang tuamu, atau mengetahui ke mana kamu pergi. Oleh karena itu, jadilah detektif yang cerdas dan berhati-hati (sarekat). Jangan pernah memamerkan kunci rumahmu di pinggir jalan, dan jangan pernah memamerkan data pribadimu di media sosial!

GLOSARIUM

  1. Identitas Pribadi: Seluruh keterangan faktual yang melekat pada diri seseorang yang membedakannya dari individu lain.
  2. Data Sensitif: Informasi rahasia yang apabila diketahui pihak yang tidak berhak dapat menimbulkan kerugian finansial, fisik, maupun mental.
  3. Kata Sandi (Password): Kumpulan karakter rahasia yang digunakan untuk mengautentikasi pengguna agar dapat mengakses sistem digital.
  4. Jejak Digital (Digital Footprint): Rekam jejak data yang tertinggal saat seseorang beraktivitas dan menggunakan layanan internet.
  5. Rekayasa Sosial (Social Engineering): Tindakan memanipulasi psikologis seseorang agar bersedia membagikan informasi rahasia secara sukarela.
  6. Unggah-Ungguh: Konsep tata krama, sopan santun, dan etika berperilaku dalam tatanan kebudayaan masyarakat Jawa.
  7. Sarekat: Sikap kehati-hatian, kecermatan, dan pengendalian diri sebelum mengambil tindakan agar tidak terjerumus pada bahaya.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). 2021. Panduan Keamanan Siber Ramah Anak di Ruang Digital. Jakarta: Direktorat Proteksi Sektor Pembangunan Manusia BSSN.
  2. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. 2022. Modul Literasi Digital: Aman Bermedia Digital untuk Peserta Didik. Jakarta: Kominfo.
  3. Pusat Perbukuan Kemendikbudristek. 2022. Buku Panduan Guru Informatika Kelas V SD. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  4. Tim Pengembang Kurikulum Koding & Kecerdasan Artifisial. 2024. Konsep Pembelajaran Literasi Digital dan AI Tingkat Dasar. Jakarta: Pustaka Edukasi Digital Indonesia.

LAMPIRAN

Lembar Observasi Sikap dan Keterampilan Bernalar Kritis

NoAspek yang DinilaiKriteria Skor 1Kriteria Skor 2Kriteria Skor 3Kriteria Skor 4Skor
1Ketelitian Mengidentifikasi Data SensitifPeserta didik tidak menemukan data sensitif pada visual kasus.Peserta didik hanya menemukan 1 data sensitif secara tepat dengan bantuan penuh guru.Peserta didik menemukan 2-3 data sensitif secara tepat dengan sedikit bimbingan guru.Peserta didik menemukan seluruh data sensitif (lebih dari 3) secara mandiri dan cermat.
2Kemampuan Bernalar Kritis atas RisikoPeserta didik tidak mampu memprediksi akibat dari pembagian data.Menjelaskan risiko yang tidak logis atau tidak berhubungan dengan kasus digital.Menjelaskan satu risiko logis yang mungkin menimpa pemilik data.Menjelaskan lebih dari satu risiko logis dan sistematis secara komprehensif.
3Penerapan Sikap Kehati-hatian (Sarekat)Tidak menunjukkan kesadaran pentingnya kehati-hatian privasi.Menunjukkan sikap hati-hati hanya jika diperingatkan oleh guru di kelas.Menunjukkan kesadaran kehati-hatian dalam memilih data yang akan dipublikasikan.Mengajak dan mengedukasi teman sebaya untuk selalu berhati-hati dan menjaga etika privasi.
4Kolaborasi dalam Penyelidikan KasusPasif, mengganggu jalannya diskusi kelompok, atau bekerja sendiri tanpa peduli teman.Cenderung pasif dan hanya menjalankan tugas saat diminta oleh anggota lain.Berbagi tugas dengan baik dan berkontribusi aktif dalam merumuskan jawaban LKPD.Menjadi inisiator, menghargai setiap pendapat rekan, dan menjaga kekompakan kerja tim.

Instrumen Asesmen Sumatif (Pilihan Ganda & Analisis Kasus)

  1. Manakah dari informasi berikut yang tergolong sebagai informasi publik yang aman dibagikan di internet?

A. Nomor Induk Kependudukan (NIK) pada kartu keluarga

B. Hobi bermain sepak bola dan warna kesukaan

C. Kata sandi akun surat elektronik dan nomor telepon rumah

D. Alamat lengkap tempat tinggal dan denah rute pulang sekolah

  1. Mengapa kita dilarang membagikan foto tiket kereta api atau tiket pesawat yang memiliki barcode/QR code di media sosial?

A. Karena barcode tersebut dapat dipindai oleh orang lain untuk mencuri data pribadi perjalanan kita.

B. Karena foto tiket akan membuat memori penyimpanan ponsel orang lain menjadi penuh.

C. Karena gambar barcode membuat tampilan unggahan media sosial menjadi kurang menarik.

D. Karena tiket perjalanan tidak boleh difoto oleh kamera gawai jenis apa pun.

  1. Apabila ada orang yang baru kalian kenal di game online meminta nomor telepon orang tua dengan janji akan memberikan skin karakter gratis, tindakan yang paling tepat mencerminkan sikap hati-hati (sarekat) adalah:

A. Segera memberikan nomor telepon tersebut agar segera mendapat hadiah gratis.

B. Memberikan nomor telepon palsu milik teman sekelas agar tidak dirugikan sendiri.

C. Menolak dengan sopan, tidak memberikan data apa pun, dan segera melaporkan kepada orang tua/guru.

D. Mengirimkan nomor rekening bank orang tua sebagai ganti nomor telepon yang diminta.

  1. Budi memotret temannya yang sedang terjatuh di halaman sekolah hingga menangis, lalu mengunggahnya ke status media sosial tanpa izin temannya. Ditinjau dari nilai unggah-ungguh dan etika digital, tindakan Budi adalah:

A. Benar, karena Budi membagikan kabar berita terkini kepada teman-teman lainnya.

B. Benar, agar temannya menjadi terkenal dan mendapat banyak tanda suka (likes).

C. Salah, karena mempermalukan privasi teman dan melanggar sopan santun dalam bermedia digital.

D. Salah, seharusnya Budi meminta bayaran terlebih dahulu sebelum mengunggah foto tersebut.

  1. Analisis Skenario Singkat:

Keluarga Dimas akan berlibur ke luar kota selama satu minggu. Dimas ingin membuat video siaran langsung (live streaming) di depan rumahnya yang kosong sambil menunjukkan kunci gembok pagar. Jelaskan bahaya apa yang mengancam rumah Dimas jika siaran langsung tersebut ditonton oleh orang jahat di internet, dan apa yang seharusnya Dimas lakukan!

Jawaban Analisis:

................................................................................................................................................................

................................................................................................................................................................

................................................................................................................................................................

Kunci Jawaban Asesmen Sumatif

  1. B (Hobi bermain sepak bola dan warna kesukaan)
  2. A (Karena barcode tersebut dapat dipindai oleh orang lain untuk mencuri data pribadi perjalanan kita)
  3. C (Menolak dengan sopan, tidak memberikan data apa pun, dan segera melaporkan kepada orang tua/guru)
  4. C (Salah, karena mempermalukan privasi teman dan melanggar sopan santun dalam bermedia digital)
  5. Kunci Analisis Skenario:
    • Bahaya: Penjahat dapat mengetahui bahwa rumah sedang dalam keadaan kosong tanpa penghuni dan mengetahui kondisi pengamanan rumah, sehingga memicu terjadinya aksi pencurian atau perampokan fisik.
    • Tindakan yang seharusnya: Dimas tidak mempublikasikan kondisi rumah kosong dan jadwal kepergian secara real-time. Jika ingin berbagi dokumentasi liburan, unggahlah foto atau video setelah keluarga sudah kembali pulang ke rumah dengan aman.
 
Mengetahui,
Kepala Sekolah,
Sri Anggriyani, S.Pd.
NIP. 198004152008012016
 
Situbondo, ___________2026
Guru Kelas,
Didik Sadi, S.Pd.
NIP. 198406162025211130