Line Spacing
Bullets Library
Number Library
Border Sel:
Shading Sel:
Modul Ajar

IDENTITAS MODUL

Satuan Pendidikan : SD Negeri 1 Wringin Anom
Nama Guru : Didik Sadi, S.Pd.
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial
Kelas / Fase : Kelas V / C
Semester / Tahun Pelajaran : Ganjil / 2026/2027
Alokasi Waktu : 3 x 35 menit (1 Pertemuan)
Materi / Topik : Pengembunan menjadi awan (kondensasi) dan jatuhnya titik air/hujan (presipitasi)
Elemen Capaian Pembelajaran : Pemahaman IPAS (Sains Lingkungan dan Alam)
Model Pembelajaran : Cooperative Learning
Pendekatan Pembelajaran : Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
Integrasi Lokal dan Diferensiasi : Diferensiasi: Pilihan Pertanyaan Diskusi; Kearifan Lokal: Pola Curah Hujan di Daerah Wringin Anom

ANALISIS AWAL PEMBELAJARAN

Karakteristik Peserta Didik

Peserta didik kelas V SD Negeri 1 Wringin Anom berjumlah 28 anak. Berdasarkan hasil asesmen diagnostik non-kognitif dan observasi awal, mayoritas peserta didik memiliki gaya belajar visual yang dominan. Mereka sangat antusias dan cepat menyerap informasi ketika disajikan tayangan gambar, animasi, dan video interaktif melalui Smart TV. Namun demikian, secara kognitif pemahaman konsep sains mereka masih berada pada tataran hafalan superficial (permukaan). Peserta didik mengetahui bahwa air hujan berasal dari awan, tetapi belum memahami mekanisme fisik dan kimiaWI yang mendasari fenomena mengapa air hujan yang berasal dari penguapan air laut yang asin dapat jatuh ke daratan Wringin Anom dengan rasa tawar.

Analisis Lingkungan Lokal dan Sarana

SD Negeri 1 Wringin Anom terletak di kawasan yang dikelilingi oleh area pertanian dan perkebunan yang sangat bergantung pada siklus curah hujan lokal. Pengalaman langsung peserta didik mengenai musim hujan dan dampaknya terhadap pertanian lokal menjadi konteks nyata yang sangat kaya untuk dieksplorasi. Ketersediaan sarana berupa Laptop, Smart TV, dan koneksi Internet di kelas menjadi daya dukung utama untuk memfasilitasi visualisasi fenomena mikro seperti pengembunan (kondensasi) dan pemisahan molekul air dari garam.

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Pada akhir Fase C, peserta didik memiliki kemampuan menganalisis alasan mengapa air hujan di darat berasa tawar melalui pemahaman terpadu mengenai proses pengembunan (kondensasi) dan jatuhnya titik-titik air (presipitasi) dalam daur air, serta dampaknya terhadap ketersediaan air bersih di lingkungan setempat.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

  1. Peserta didik mampu menjelaskan proses kondensasi (pengembunan uap air menjadi awan) dan presipitasi (jatuhnya air sebagai hujan) melalui pengamatan simulasi digital dan eksperimen sederhana dengan tepat.
  2. Peserta didik mampu menganalisis alasan sains di balik fenomena air hujan berasa tawar meskipun uap air berasal dari pemanasan air laut yang asin.
  3. Peserta didik mampu mengaitkan pola curah hujan lokal di daerah Wringin Anom dengan kebutuhan air tawar bagi ekosistem dan pertanian di lingkungan sekitar secara kritis.

PEMAHAMAN BERMAKNA

Air di bumi senantiasa bergerak dalam sebuah daur raksasa yang dirancang secara sempurna. Ketika air laut yang asin menguap akibat panas matahari, hanya molekul air murni (H2O) yang naik ke atmosfer, sedangkan zat garam dan mineral lainnya tertinggal di laut. Di atmosfer yang dingin, uap air murni ini mengalami pengembunan (kondensasi) membentuk awan. Ketika titik-titik air dalam awan bertambah berat, air tersebut jatuh ke bumi sebagai hujan (presipitasi) yang berasa tawar. Fenomena ini memastikan keberlangsungan kehidupan di daratan, termasuk menyokong lahan pertanian warga di Wringin Anom.

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Mengapa air laut rasanya sangat asin, tetapi ketika air hujan jatuh di atas lidah kita di Wringin Anom rasanya tawar?
  2. Kemana perginya rasa asin laut saat airnya menguap naik ke langit menjadi awan?
  3. Apa yang terjadi jika air hujan yang jatuh di desa kita rasanya sama asinnya dengan air laut?

PROFIL DAN KOMPETENSI YANG DIKEMBANGKAN

Profil Pelajar Pancasila

  1. Bernalar Kritis: Memproses informasi ilmiah, menganalisis hubungan sebab-akibat perubahan wujud benda, dan menyimpulkan pemisahan zat pada daur air.
  2. Gotong Royong: Bekerja sama dalam kelompok kooperatif, berbagi tugas, dan mendiskusikan pemecahan masalah bersama.
  3. Kreatif: Menyalurkan gagasan ilmiah dalam bentuk diagram/infografis sederhana atau narasi penjelasan fenomena alam.

Kompetensi Utama (Deep Learning)

  1. Mindful Inquiry: Kepekaan dan kesadaran penuh terhadap fenomena alam di sekitarnya.
  2. Deep Conceptual Understanding: Kemampuan menjelaskan konsep di balik gejala visual.
  3. Collaborative Problem Solving: Kemampuan berdiskusi dan mengambil keputusan bersama dalam kelompok.

MATERI PEMBELAJARAN

Konsep Dasar Siklus Air (Evaporasi, Kondensasi, Presipitasi)

  1. Evaporasi dan Pemisahan Zat: Pemanasan matahari menyebabkan air permukaan menguap. Pada proses ini terjadi pemisahan fisika; molekul air murni menguap menjadi gas, sedangkan garam dan mineral yang terlarut tidak dapat menguap karena memiliki titik didih dan titik uap yang jauh lebih tinggi.
  2. Kondensasi (Pengembunan): Uap air murni naik ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi dan bersuhu rendah (dingin). Akibat penurunan suhu, uap air mengembun kembali menjadi titik-titik air halus yang berkumpul membentuk awan.
  3. Presipitasi (Hujan): Titik-titik air di dalam awan saling bergabung. Ketika ukuran dan beratnya sudah tidak mampu ditopang oleh arus udara, titik air tersebut jatuh ke daratan sebagai hujan tawar.

Integrasi Kearifan Lokal Wringin Anom

Kawasan Wringin Anom memiliki siklus musim hujan yang memengaruhi pola tanam padi dan palawija. Air hujan tawar yang jatuh membasahi tanah Wringin Anom mengisi sumur-sumur warga dan mengaliri irigasi sawah tanpa merusak struktur tanah, berbeda jika yang jatuh adalah air asin yang dapat mematikan tanaman.

MODEL DAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN

Model Pembelajaran

Cooperative Learning tipe Student Teams-Achievement Divisions (STAD) yang dimodifikasi dengan metode diskusi terbimbing dan investigasi kelompok.

Pendekatan Pembelajaran

Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) melalui 3 pilar:

  1. Mindful Learning: Peserta didik diajak melakukan pengamatan sadar dan reflektif terhadap fenomena fisika (embun dan air).
  2. Meaningful Learning: Menghubungkan konsep sains dengan kehidupan nyata dan keberlangsungan pertanian di Wringin Anom.
  3. Joyful Learning: Menggunakan simulasi visual interaktif di Smart TV dan dinamika kelompok yang seru.

ASESMEN

Asesmen Diagnostik (Sebelum Pembelajaran)

Kuis visual singkat menggunakan kuis interaktif pada Smart TV untuk mengidentifikasi pengetahuan awal peserta didik mengenai daur air dan sifat air tawar/asin.

Asesmen Formatif (Selama Pembelajaran)

  1. Lembar Observasi Keterampilan Diskusi Kelompok (Cooperative Learning).
  2. Penilaian Proses Kinerja pada Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD).

Asesmen Sumatif (Akhir Pembelajaran)

Tes tertulis berbasis penalaran HOTS berupa pertanyaan uraian singkat untuk mengukur kedalaman analisis peserta didik terhadap fenomena air hujan tawar.

RUBRIK PENILAIAN

Rubrik Penilaian Asesmen Formatif (Diskusi Kelompok)

Aspek yang DinilaiSkor 4 (Sangat Baik)Skor 3 (Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Perlu Bimbingan)
Kerjasama TimAktif membagi tugas, membantu teman, dan mendengarkan pendapat orang lain dengan sangat santun.Mampu bekerja sama dengan baik dan menghargai pendapat teman kelompok.Cukup bekerja sama namun kadang dominan atau pasif dalam kelompok.Tidak mau bekerja sama dan mengganggu dinamika kelompok.
Keaktifan DiskusiSelalu mengajukan ide bernalar kritis dan menjawab pertanyaan diskusi dengan aktif.Sering berpendapat dan merespons pertanyaan diskusi.Kadang-kadang berpendapat jika ditanya oleh ketua kelompok.Pasif dan tidak memberikan kontribusi pendapat.
Penggunaan Bahasa SainsMenggunakan istilah kondensasi, presipitasi, dan evaporasi secara tepat dan rinci.Menggunakan istilah sains dengan tepat dalam sebagian besar penjelasan.Menggunakan istilah sains namun kadang masih tertukar maknanya.Tidak menggunakan istilah sains sama sekali dalam berpendapat.

Rubrik Penilaian Asesmen Sumatif (Penalaran Konsep)

Kriteria KetercapaianSkor 4 (Sangat Baik)Skor 3 (Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Perlu Bimbingan)
Analisis Air Hujan TawarMampu menjelaskan lengkap pemisahan garam saat evaporasi, pembentukan awan (kondensasi), hingga presipitasi hujan tawar.Mampu menjelaskan bahwa garam tidak ikut menguap sehingga hujan yang jatuh menjadi tawar.Menjelaskan hujan berasal dari awan tawar tanpa menyebutkan pemisahan garam saat penguapan.Hanya menjawab air hujan tawar karena berasal dari langit tanpa alasan sains.
Koneksi Lokal Wringin AnomMampu menganalisis dampak air hujan tawar bagi pertanian dan lingkungan Wringin Anom secara logis dan runtut.Mampu menyebutkan manfaat air hujan bagi pertanian Wringin Anom secara rinci.Hanya menyebutkan air hujan untuk minum atau menyiram tanaman secara umum.Tidak mampu mengaitkan fenomena air hujan dengan lingkungan sekitar.

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Kegiatan Awal (15 Menit)

  1. Kesadaran Penuh (Mindful Opener): Guru menyapa peserta didik dengan hangat, memandu olah napas sejenak (STOP Technique) untuk memfokuskan perhatian peserta didik.
  2. Apersepsi Visual: Guru menampilkan video pendek 1 menit di Smart TV yang menunjukkan ombak laut asin dan guyuran air hujan deras di area persawahan Wringin Anom.
  3. Pertanyaan Pemantik: Guru mengajukan pertanyaan, "Anak-anak, air laut di pantai itu sangat asin. Tapi, mengapa saat hujan turun di persawahan desa kita, airnya rasanya tawar? Ke mana garamnya pergi?"
  4. Penyampaian Tujuan: Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan membentuk kelompok belajar kooperatif (masing-masing 4-5 siswa heterogen).

Kegiatan Inti (75 Menit)

Fase 1: STAD - Penyajian Materi (Meaningful & Visual Presentation)

  1. Guru menayangkan video animasi simulasi molekul air pada proses evaporasi, kondensasi, dan presipitasi melalui Smart TV.
  2. Guru menunjukkan demonstrasi sederhana: air panas garam di dalam wadah tertutup kaca dengan es batu di atasnya. Peserta didik mengamati titik-titik air (kondensasi) yang menetes dari kaca, lalu guru mengambil sampel tetesan tersebut dan menjelaskan konsep kemurnian embun.
  3. Peserta didik diajak secara mindful mengamati proses perubahan uap air menjadi titik air pada dinding kaca.

Fase 2: STAD - Kerja Kelompok (Cooperative Learning & Deep Discussion)

  1. Guru membagikan LKPD yang dirancang bertingkat (berdiferensiasi berdasarkan tingkat kedalaman pertanyaan diskusi).
  2. Setiap kelompok mendiskusikan fenomena ilmiah:
    • Bagaimana uap air murni memisahkan diri dari garam.
    • Bagaimana proses kondensasi membentuk awan di langit Wringin Anom.
    • Bagaimana proses presipitasi menurunkan hujan tawar.
  1. Peserta didik bebas memilih jalur pertanyaan diskusi sesuai dengan tingkat tantangan yang mereka pilih (Diferensiasi Proses & Pertanyaan).

Fase 3: STAD - Kuis / Presentasi Interaktif (Joyful Learning)

  1. Setiap kelompok mengirimkan perwakilan untuk mempresentasikan hasil analisisnya menggunakan media Smart TV (menampilkan gambar siklus air yang ditunjuk langsung oleh siswa).
  2. Kelompok lain memberikan tanggapan, koreksi, atau pertanyaan lanjutan.
  3. Guru memberikan apresiasi (skor kelompok) bagi dinamika tim yang paling kooperatif dan responsif.

Kegiatan Penutup (15 Menit)

  1. Rangkuman Bersama: Guru dan peserta didik merangkum inti pembelajaran bahwa evaporasi memisahkan air dari garam, kondensasi membentuk awan, dan presipitasi menjatuhkan air tawar.
  2. Refleksi Mendalam: Peserta didik merenungkan betapa pentingnya keberadaan air hujan tawar bagi kehidupan masyarakat Wringin Anom.
  3. Tindak Lanjut & Evaluasi: Guru memberikan soal tes sumatif singkat dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam.

PENGALAMAN BELAJAR MENDALAM

Pilar Deep LearningImplementasi dalam Pembelajaran
Mindful LearningPeserta didik diajak mengamati secara cermat dan fokus tetesan embun pada kaca demonstrasi serta menghayati setiap tahapan perubahan wujud air tanpa terburu-buru.
Meaningful LearningPeserta didik tidak sekadar menghafal istilah sains, tetapi menghubungkan konsep pemisahan molekul air dengan keberlangsungan hidup petani padi di Wringin Anom yang membutuhkan air tawar.
Joyful LearningPenggunaan media animasi interaktif pada Smart TV, dinamika kelompok kooperatif yang saling mendukung, dan simulasi sains langsung yang berkesan.

STRATEGI DIFERENSIASI

Diferensiasi Konten/Proses (Pilihan Pertanyaan Diskusi)

Guru menyediakan 3 Tingkat Pilihan Pertanyaan Diskusi pada LKPD:

  1. Tingkat Dasar (Opsi A): Mengidentifikasi tahapan kondensasi dan presipitasi serta menjelaskan perubahan wujudnya.
  2. Tingkat Menengah (Opsi B): Menganalisis mengapa garam tertinggal di laut saat penguapan sehingga awan menghasilkan hujan tawar.
  3. Tingkat Tantangan HOTS (Opsi C): Memprediksi dampak ekologis dan ekonomi terhadap pertanian Wringin Anom apabila air hujan yang jatuh memiliki tingkat salinitas tinggi (asin).

Setia kelompok diperbolehkan memilih level pertanyaan yang siap mereka selesaikan setelah berdiskusi.

PEMANFAATAN TEKNOLOGI

  1. Smart TV: Digunakan untuk menampilkan animasi 3D daur air, video fenomena presipitasi, dan sebagai media pameran digital hasil diskusi kelompok.
  2. Laptop: Alat kontrol guru untuk mengoperasikan simulasi interaktif (PhET Simulation atau media animasi sains interaktif).
  3. Internet: Sumber pencarian fakta menarik seputar curah hujan di Jawa Timur dan wilayah Wringin Anom.

MEDIA DAN SUMBER BELAJAR

Media Pembelajaran

  1. Video Animasi Siklus Air Interaktif.
  2. Alat Demonstrasi Kondensasi: Wadah transparan, air panas bertakar garam, penutup wadah, dan es batu.
  3. Infografis Siklus Air dan Pola Hujan Wringin Anom.

Sumber Belajar

  1. Buku Panduan Guru dan Buku Siswa IPAS Kelas V Kurikulum Merdeka.
  2. Artikel Iklim dan Curah Hujan Wilayah Lokal Wringin Anom.
  3. Simulasi Sains Digital Interaktif.

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

LabelIsi
Nama Kelompok....................................................................
Anggota Kelompok1. ................................................................
2. ................................................................
3. ................................................................
4. ................................................................
Kelas / FaseV (Lima) / Fase C
Tanggal....................................................................

Judul Aktivitas: Mengapa Air Hujan di Wringin Anom Berasa Tawar?

Petunjuk Kerja

  1. Duduklah bersama kelompok kooperatifmu dengan tertib.
  2. Amati tayangan simulasi Smart TV dan demonstrasi yang ditunjukkan oleh guru di depan kelas!
  3. Pilih salah satu atau lebih tingkat pertanyaan diskusi di bawah ini yang paling siap ditantang oleh kelompokmu!
  4. Tuliskan hasil diskusi kelompokmu pada kolom jawaban yang tersedia dengan bahasa yang santun dan jelas.

Pilihan Pertanyaan Diskusi (Diferensiasi)

Opsi A (Tingkat Dasar)

  1. Tuliskan apa yang dimaksud dengan peristiwa Kondensasi dan Presipitasi berdasarkan tayangan yang kalian saksikan!
  2. Perubahan wujud apa yang terjadi saat uap air berubah menjadi titik-titik air di awan?

Opsi B (Tingkat Menengah)

  1. Air laut rasanya asin karena mengandung banyak garam. Mengapa saat air laut menguap terkena sinar matahari, garamnya tidak ikut naik ke langit membentuk awan?
  2. Jelaskan urutan proses sampai air hujan yang jatuh di atas tanah Wringin Anom berasa tawar!

Opsi C (Tingkat Tantangan HOTS)

  1. Bayangkan jika suatu hari proses pemisahan alamiah ini tidak terjadi, sehingga air hujan yang jatuh di Wringin Anom rasanya sama asinnya dengan air laut. Apa yang akan terjadi pada tanah pertanian, tanaman padi, dan sumur air minum warga desa kita?
  2. Buatlah kesimpulan ilmiah mengenai keagungan proses alamiah daur air ini bagi kehidupan manusia!

Kolom Jawaban Diskusi Kelompok

Jawaban Kelompok Kami:

..................................................................................................................................................

..................................................................................................................................................


REMEDIAL

Peserta didik yang belum mencapai kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (belum memahami konsep pemisahan garam saat penguapan dan kondensasi) diberikan bimbingan individual/perorangan dengan bantuan media konkret sederhana:

  1. Guru membimbing siswa mengamati kembali uap air dari cangkir hangat yang menempel pada penutup cangkir transparan.
  2. Guru memberikan pertanyaan penuntun sederhana secara bertahap hingga siswa menyadari bahwa tetesan air di tutup cangkir tersebut adalah air murni tawar.

PENGAYAAN

Peserta didik yang telah mencapai kompetensi dengan sangat baik diberikan tugas pengayaan berbasis proyek penalaran:

  1. Menjadi "Duta Sains Cilik" yang bertugas menjelaskan proses pembentukan hujan tawar kepada adik kelas III atau IV.
  2. Membuat poster infografis manual atau digital sederhana tentang "Siklus Air dan Pentingnya Menjaga Kelestarian Air Tawar di Wringin Anom".

REFLEKSI GURU

NoPertanyaan RefleksiHasil Evaluasi Diri Guru
1Apakah penggunaan Smart TV dan demonstrasi langsung berhasil memperjelas konsep kondensasi dan presipitasi yang abstrak bagi siswa visual?Penggunaan media visual sangat efektif membakar rasa ingin tahu siswa, siswa lebih cepat menangkap fenomena perubahan wujud air secara konkret.
2Apakah pembagian kelompok kooperatif (STAD) berjalan dengan efektif dan semua siswa terlibat aktif?Mayoritas kelompok berjalan efektif, namun ada 2 siswa pasif yang perlu didorong dengan penugasan peran khusus (penulis/pembicara).
3Apakah integrasi kearifan lokal Wringin Anom membuat pembelajaran lebih bermakna bagi siswa?Sangat bermakna. Siswa merasa materi IPAS ini relevan langsung dengan kondisi lingkungan persawahan di sekitar rumah mereka.
4Apa langkah perbaikan yang perlu dilakukan untuk pertemuan pembelajaran berikutnya?Mengalokasikan waktu demonstrasi lebih tertata agar sesi diskusi kelompok memiliki durasi yang lebih lapang.

REFLEKSI PESERTA DIDIK

NoPertanyaan Refleksi Peserta DidikTanggapan Peserta Didik
1Bagian mana dari kegiatan belajar hari ini yang paling menyenangkan buatmu?Saat melihat demonstrasi es batu dan mengamati animasi siklus air di Smart TV.
2Apakah kamu sekarang sudah tahu alasan mengapa air hujan di desa kita berasa tawar? Jelaskan singkat!Sudah tahu, karena garam laut tidak bisa ikut menguap ke langit, yang naik hanya air murni.
3Pertanyaan apa yang masih membuatmu penasaran tentang awan dan hujan?Mengapa awan kalau mau hujan warnanya bisa berubah menjadi hitam pekat?

BAHAN BACAAN

Bahan Bacaan Guru

Proses pembentukan hujan merupakan gabungan fenomena termodinamika dan perubahan fase zat. Saat pemanasan radiasi matahari mengenai badan air (laut, danau, sungai), molekul H2O mendapatkan energi kinetik untuk melepaskan diri dari ikatan molekuler cair menjadi fase gas (evaporasi). Dalam air laut, senyawa terlarut seperti Natrium Klorida (NaCl) memiliki titik didih yang sangat tinggi (lebih dari 1400 derajat Celsius) sehingga tidak ikut menyublim atau menguap pada suhu lingkungan (25-40 derajat Celsius). Uap air murni melayang naik ke troposfer. Makin tinggi dari permukaan bumi, suhu udara semakin dingin (laju lapse rate). Penurunan suhu ini menyebabkan uap air kehilangan energi kinetik dan mengembun (kondensasi) di sekitar inti kondensasi aerosol (debu halus) membentuk awan. Ketika molekul air bergabung dan mencapai ukuran kritis (0.1-2 mm), gaya gravitasi melebihi gaya angkat udara (updraft), sehingga terjadi presipitasi (hujan) yang membawa air murni berasa tawar kembali ke daratan.

Bahan Bacaan Peserta Didik

Tahukah kamu dari mana datangnya air hujan? Air hujan berasal dari air di bumi seperti air laut, sungai, dan waduk yang dipanaskan oleh sinar matahari. Ketika air laut yang asin dipanaskan matahari, airnya berubah menjadi uap air halus yang naik ke langit. Lucunya, rasa asin dan garamnya tidak bisa ikut naik ke atas karena garam terlalu berat dan tidak bisa menjadi uap pada panas matahari! Uap air yang naik ke langit adalah air yang sangat murni. Di langit yang tinggi dan dingin, uap air ini berkumpul dan mengembun menjadi titik-titik air kecil yang kita lihat sebagai awan. Peristiwa perubahan uap air menjadi awan dinamakan Kondensasi. Saat awan semakin tebal dan berat, titik-titik air tidak bisa bertahan di udara lagi, lalu jatuh membasahi tanah Wringin Anom sebagai air hujan. Peristiwa jatuhnya air hujan dinamakan Presipitasi. Karena garamnya tertinggal di laut, maka air hujan yang jatuh di rumah dan sawah kita rasanya tawar dan segar!

GLOSARIUM

  1. Evaporasi: Proses perubahan wujud air dari cair menjadi gas (uap air) akibat pemanasan matahari.
  2. Kondensasi: Proses perubahan wujud uap air menjadi titik-titik air cair akibat penurunan suhu (pengembunan) yang membentuk awan.
  3. Presipitasi: Peristiwa jatuhnya air dari atmosfer ke permukaan bumi dalam bentuk hujan, salju, atau es.
  4. Salinitas: Tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air.
  5. Daur Air: Daur ulang air secara alami yang berlangsung terus-menerus dari bumi ke atmosfer dan kembali lagi ke bumi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk SD Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
  2. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk SD Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
  3. Tjasyono, B. (2014). Klimatologi: Bandung: ITB Press.

LAMPIRAN

Lembar Observasi Keterampilan dan Sikap Peserta Didik

NoAspek yang DinilaiKriteria Skor (1-4)Skor
1Kemampuan Analisis Konsep SainsSkor 4: Mampu menganalisis hubungan pemisahan garam, kondensasi, dan presipitasi dengan sangat tepat dan logis.
Skor 3: Mampu menganalisis bahwa garam tertinggal saat penguapan dengan baik.
Skor 2: Memahami kondensasi dan presipitasi tetapi belum mampu mengaitkan pemisahan garam.
Skor 1: Belum memahami konsep dasar pengembunan dan hujan.
2Keterampilan Bekerja Sama (Cooperative)Skor 4: Sangat aktif membantu rekan kelompok, membagi tugas fair, dan menghargai semua pendapat.
Skor 3: Bekerja sama dengan baik dalam tugas kelompok.
Skor 2: Cukup kooperatif namun sesekali kurang fokus pada tugas kelompok.
Skor 1: Tidak mau bekerja sama atau pasif sepanjang kegiatan kelompok.
3Sikap Bernalar KritisSkor 4: Mengajukan pertanyaan mendalam dan mampu memberikan argumen ilmiah logis.
Skor 3: Mengajukan pertanyaan bernalar dan mampu menjawab pertanyaan diskusi.
Skor 2: Hanya menjawab jika ditunjuk guru tanpa mengajukan argumen lanjutan.
Skor 1: Tidak menunjukkan rasa ingin tahu atau nalar kritis terhadap materi.
4Komunikasi dan PresentasiSkor 4: Menyampaikan hasil diskusi dengan bahasa runtut, percaya diri, dan memanfaatkan media visual Smart TV dengan efektif.
Skor 3: Menyampaikan hasil diskusi dengan lancar dan jelas.
Skor 2: Menyampaikan hasil diskusi dengan ragu-ragu dan membaca teks secara penuh.
Skor 1: Tidak berani menyampaikan hasil diskusi di depan kelas.
 
Mengetahui,
Kepala Sekolah,
Sri Anggriyani, S.Pd.
NIP. 198004152008012016
 
Situbondo, ___________2026
Guru Kelas,
Didik Sadi, S.Pd.
NIP. 198406162025211130