Line Spacing
Bullets Library
Number Library
Border Sel:
Shading Sel:
Modul Ajar

IDENTITAS MODUL

Meta/Label : Isi
Satuan Pendidikan : SD Negeri 1 Wringin Anom
Nama Guru : Didik Sadi, S.Pd.
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial
Kelas / Fase : Kelas V / C
Semester / Tahun Pelajaran : Ganjil / 2026/2027
Alokasi Waktu : 3 x 35 menit (1 Pertemuan)
Materi / Topik : Proses penguraian materi organik oleh bakteri/jamur menjadi humus.
Elemen Capaian Pembelajaran : Pemahaman IPAS (Sains dan Sosial)
Model Pembelajaran : Experiential Learning
Pendekatan Pembelajaran : Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
Integrasi Lokal dan Diferensiasi : Pemanfaatan limbah dapur lokal / Pengamatan skala pot dan tanah terbuka

ANALISIS AWAL PEMBELAJARAN

Profil Peserta Didik

Peserta didik kelas V SD Negeri 1 Wringin Anom berjumlah 24 anak. Berdasarkan hasil pemetaan gaya belajar dan pemahaman awal, mayoritas peserta didik memiliki kecenderungan gaya belajar visual yang sangat kuat. Mereka sangat mudah tertarik dan fokus apabila materi disajikan melalui tayangan gambar, video animasi, maupun peragaan langsung. Namun demikian, secara konseptual peserta didik masih berada pada tingkat pemahaman konkret-sederhana. Sebagian besar peserta didik tahu bahwa sampah sisa makanan dapat membusuk dan berbau, tetapi belum memahami mekanisme sains di baliknya, yaitu bagaimana mikroorganisme seperti bakteri dan jamur bekerja mengurai materi organik tersebut hingga menjadi humus yang berguna bagi kesuburan tanah.

Kebutuhan Pembelajaran

  1. Penyajian tayangan audio-visual yang memperlihatkan proses pembusukan berkecepatan tinggi (time-lapse) untuk mengakomodasi gaya belajar visual.
  2. Pengalaman belajar langsung melalui manipulasi objek nyata (limbah dapur lokal) agar konseptualisasi materi penguraian organik dapat dipahami secara mendalam dan berkesan.
  3. Diferensiasi pengamatan langsung pada media skala pot plastik transparan dan media tanah terbuka di lingkungan sekolah untuk memberikan tingkat pemahaman spasial serta ekologis yang kaya.

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Pada akhir Fase C, peserta didik mampu membuktikan proses pembusukan dan penguraian sampah organik, serta mendeskripsikan peran mikroorganisme (bakteri dan jamur) dalam mengubah materi organik menjadi humus guna mendukung keberlanjutan lingkungan hidup.

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Melalui pengamatan video pembusukan time-lapse dan manipulasi media konkret limbah dapur, peserta didik mampu mendeskripsikan peran bakteri dan jamur sebagai dekomposer dalam proses penguraian materi organik dengan tepat.
  2. Melalui kegiatan eksperimen pengamatan terpandu pada media pot dan tanah terbuka, peserta didik mampu membuktikan tahapan penguraian sampah organik menjadi humus berdasarkan indikator perubahan fisik (warna, tekstur, dan aroma) secara sistematis.
  3. Melalui diskusi kelompok berorientasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), peserta didik mampu menganalisis keterkaitan antara pemanfaatan limbah dapur lokal dengan peningkatan kesuburan tanah di lingkungan sekitar sekolah secara kritis.

PEMAHAMAN BERMAKNA

Sampah organik berupa sisa bahan dapur yang sering dianggap limbah tidak berguna sebenarnya merupakan sumber nutrisi penting bagi tanah. Di alam, terdapat mikroorganisme pengurai (bakteri dan jamur) yang bekerja tanpa terlihat untuk mengembalikan nutrisi tersebut ke dalam tanah dalam bentuk humus. Pembelajaran ini menyadarkan peserta didik bahwa proses alamiah penguraian adalah bagian penting dari siklus kehidupan yang menjaga kelestarian bumi.

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian melihat sisa sayuran atau buah di dapur yang dibiarkan beberapa hari? Apa yang terjadi pada sisa bahan makanan tersebut?
  2. Ke mana perginya daun-daun kering yang berguguran di bawah pohon rindang setelah berbulan-bulan tidak disapu?
  3. Mengapa tanah di bawah tumpukan daun atau sampah dapur sering kali berwarna lebih gelap dan terasa gembur? Siapa "pekerja rahasia" yang membuatnya menjadi seperti itu?

PROFIL DAN KOMPETENSI YANG DIKEMBANGKAN

Profil Pelajar Pancasila

  1. Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia: Ditunjukkan melalui sikap menyayangi lingkungan dan memelihara kelestarian alam sebagai wujud rasa syukur atas ciptaan Tuhan.
  2. Bernalar Kritis: Ditunjukkan melalui kemampuan menganalisis perubahan bentuk sampah organik dan mengidentifikasi sebab-akibat keterlibatan dekomposer.
  3. Gotong Royong: Ditunjukkan melalui kerja sama kelompok saat menyiapkan alat, bahan, melakukan pengamatan, dan mendiskusikan hasil eksperimen.

Kompetensi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

  1. Mindful Learning (Pembelajaran Bermakna dan Kesadaran Penuh): Peserta didik terlibat aktif menggunakan seluruh indra secara sadar saat mengamati tekstur, warna, dan perubahan materi organik.
  2. Meaningful Learning (Pembelajaran Relevan): Peserta didik mengorelasikan materi pelajaran dengan pemanfaatan sampah dapur di rumah mereka sendiri.
  3. Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan): Peserta didik merasakan kegembiraan eksplorasi ilmiah melalui penemuan ilmiah mandiri dan tayangan teknologi visual yang interaktif.

MATERI PEMBELAJARAN

Pengertian Pembusukan dan Penguraian Organik

Pembusukan atau penguraian (dekomposisi) adalah proses perubahan kimiawi dan biologis yang dialami oleh bahan-bahan yang berasal dari makhluk hidup (materi organik) setelah mati. Bahan organik meliputi sisa makanan, kulit buah, daun-daun kering, dan bangkai makhluk hidup.

Peran Dekomposer (Bakteri dan Jamur)

Bakteri dan jamur adalah organisme mikroskopis yang berperan sebagai dekomposer (pengurai). Dekomposer memakan materi organik mati, memecah senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana, serta melepaskan nutrisi seperti nitrogen, fosfor, dan kalium kembali ke dalam tanah.

Proses Pembentukan Humus

Humus adalah hasil akhir dari proses penguraian lengkap materi organik. Karakteristik humus antara lain:

  1. Warna: Hitam atau cokelat gelap.
  2. Tekstur: Gembur, renyah, dan memiliki kapasitas menahan air yang tinggi.
  3. Aroma: Berbau khas tanah segar alami (geosmin).
  4. Fungsi: Menyediakan nutrisi utama bagi tanaman, memperbaiki struktur tanah, serta meningkatkan daya simpan air tanah.

Pemanfaatan Limbah Dapur Lokal

Limbah dapur rumah tangga seperti kulit pisang, sisa sayur sawi, kulit bawang, dan ampas kelapa di kawasan Wringin Anom dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai bahan baku pembuatan humus atau kompos alami untuk mengurangi penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir.

MODEL DAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN

  1. Model Pembelajaran: Experiential Learning (Pembelajaran Berbasis Pengalaman)

Tahapan:

    • Concrete Experience (Pengalaman Konkret)
    • Reflective Observation (Observasi Reflektif)
    • Abstract Conceptualization (Konseptualisasi Abstrak)
    • Active Experimentation (Eksperimentasi Aktif)
  1. Pendekatan Pembelajaran: Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Sains Kontekstual Berbasis Lingkungan.

ASESMEN

Asesmen Diagnostik (Awal Pembelajaran)

  1. Jenis: Non-tes dan Tes Lisan Sederhana.
  2. Bentuk: Pertanyaan pemantik dan kuis visual mengenai perbedaan sampah organik dan anorganik.

Asesmen Formatif (Proses Pembelajaran)

  1. Jenis: Unjuk Kerja / Performa dan Penilaian Sikap.
  2. Bentuk: Lembar observasi diskusi kelompok, keaktifan simulasi pengamatan, serta pengisian LKPD.

Asesmen Sumatif (Akhir Pembelajaran)

  1. Jenis: Tes Tertulis.
  2. Bentuk: Soal esai singkat konseptual dan pemecahan masalah sederhana tentang penguraian dan humus.

RUBRIK PENILAIAN

Rubrik Penilaian Sikap (Profil Pelajar Pancasila)

Indikator SikapKriteria Skor 4 (Sangat Baik)Kriteria Skor 3 (Baik)Kriteria Skor 2 (Cukup)Kriteria Skor 1 (Perlu Bimbingan)
Bernalar KritisAktif bertanya, menganalisis data pengamatan secara logis, dan menyimpulkan peran dekomposer secara akurat.Mampu menganalisis data pengamatan dan menyimpulkan materi dengan sedikit arahan.Menuliskan hasil pengamatan namun belum mampu menyimpulkan hubungan sebab-akibat.Pasif dalam pengamatan dan belum mampu menjawab pertanyaan analisis.
Gotong RoyongBerbagi tugas secara adil, membantu teman satu kelompok, dan menghargai pendapat anggota tim.Bekerja sama dengan baik dalam kelompok tetapi perlu sesekali diingatkan tentang pembagian tugas.Hanya mau mengerjakan tugas tertentu dalam kelompoknya.Tidak mau bekerja sama dan mengganggu jalannya diskusi kelompok.
Perilaku Peduli LingkunganMenunjukkan kepedulian tinggi pada kebersihan media pengamatan dan penanganan sampah dapur.Menjaga kebersihan area kerja setelah mendapat teguran atau instruksi dari guru.Kurang peduli terhadap kebersihan sampah yang digunakan saat eksperimen.Acuh tak acuh dan membuang sampah sisa praktik secara sembarangan.

Rubrik Penilaian Keterampilan (Praktik Eksperimen)

Keterampilan yang DinilaiKriteria Skor 4 (Sangat Baik)Kriteria Skor 3 (Baik)Kriteria Skor 2 (Cukup)Kriteria Skor 1 (Perlu Bimbingan)
Observasi Fisik Sampah OrganikMengidentifikasi warna, tekstur, dan bau limbah secara sangat detail dan tepat.Mengidentifikasi dua dari tiga perubahan fisik limbah organik dengan tepat.Mengidentifikasi satu perubahan fisik limbah organik dengan tepat.Tidak dapat mengidentifikasi perubahan fisik limbah organik.
Penggunaan Alat dan BahanMenggunakan media pot/tanah terbuka dan alat pengamat secara mandiri dan aman.Menggunakan alat dan bahan secara tepat tetapi memerlukan pengawasan guru.Menggunakan alat dan bahan dengan bantuan instruksi berulang dari guru.Tidak mampu menggunakan alat dan bahan praktikum secara benar.
Penyajian Data LKPDMencatat data pengamatan ke dalam tabel LKPD dengan sangat rapi, jelas, dan lengkap.Mencatat data pada LKPD dengan lengkap tetapi kurang rapi dalam penulisan.Mencatat sebagian data pada LKPD secara tidak lengkap.Tidak mengisi tabel pengamatan pada LKPD.

Rubrik Penilaian Pengetahuan (Soal Evaluasi Sumatif)

Indikator PengetahuanSkor MaksimalKeterangan Skor
Menjelaskan pengertian dekomposer dan menyebutkan contohnya (bakteri/jamur).25Skor penuh jika menyebutkan fungsi dan 2 contoh mikroorganisme pengurai secara tepat.
Membuktikan alur perubahan sampah organik menjadi humus berdasarkan ciri-cirinya.25Skor penuh jika menyebutkan 3 indikator fisik humus (warna gelap, tekstur gembur, bau tanah).
Menganalisis alasan mengapa sampah plastik tidak dapat diurai menjadi humus.25Skor penuh jika menjelaskan ketidakmampuan bakteri/jamur memecah ikatan sintetis plastik.
Mengusulkan tindakan nyata pemanfaatan sampah dapur di lingkungan sekolah/rumah.25Skor penuh jika memberikan 2 solusi konkret bernilai lingkungan (misal: pengomposan).

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Kegiatan Pendahuluan (15 Menit)

  1. Pembukaan dan Kondisifasi Kelas:
    • Guru menyapa peserta didik dengan ramah, memeriksa kerapian dan kebersihan kelas, serta memimpin doa bersama.
    • Guru mengecek kehadiran peserta didik dan melakukan apersepsi singkat.
  1. Apersepsi dan Pengkondisian Visual:
    • Guru menampilkan gambar tanah hutan yang gembur dan tumpukan limbah dapur di Smart TV.
    • Peserta didik mengamati perbedaan kedua gambar tersebut.
  1. Penyampaian Tujuan dan Motivasi:
    • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, langkah kegiatan, dan aspek penilaian yang akan dilaksanakan.
    • Guru memberikan pertanyaan pemantik untuk membakar rasa ingin tahu peserta didik.

Kegiatan Inti (75 Menit)

Tahap 1: Concrete Experience (Pengalaman Konkret - 20 Menit)

  1. Guru membagi peserta didik ke dalam 4 kelompok heterogen berdasarkan tingkat kemampuan dan preferensi pengamatan.
  2. Guru membagikan sampel limbah dapur lokal (kulit pisang yang telah menguning/membusuk, sisa daun sawi, dan ampas teh/kelapa) serta tanah humus siap pakai kepada setiap kelompok.
  3. Peserta didik menyentuh, meraba dengan sarung tangan plastik, serta mengamati ciri-ciri fisik materi organik dalam kondisi awal dan kondisi setengah terurai.
  4. Guru menayangkan video time-lapse durasi 3 menit melalui Smart TV yang menampilkan penguraian buah dan daun secara cepat oleh jamur (mycelium) dan bakteri.

Tahap 2: Reflective Observation (Observasi Reflektif - 15 Menit)

  1. Peserta didik dalam kelompok mendiskusikan apa yang mereka lihat pada tayangan video dan sampel media nyata.
  2. Guru mengajukan pertanyaan reflektif: "Mengapa kulit pisang yang keras lama-kelamaan menjadi lembek dan menyatu dengan tanah? Apa yang dilakukan oleh bercak putih (jamur) pada video tersebut?"
  3. Peserta didik mencatat pengamatan awal perubahan warna, aroma, dan tekstur pada lembar kerja masing-masing.

Tahap 3: Abstract Conceptualization (Konseptualisasi Abstrak - 20 Menit)

  1. Guru memfasilitasi penjelas materi menggunakan pemetaan konsep interaktif di Smart TV mengenai rantai penguraian:
    • Bahan Organik -> Peran Bakteri/Jamur -> Proses Dekomposisi -> Humus.
  1. Peserta didik menghubungkan temuan fisik pengamatan mereka dengan teori sains bahwa mikroorganisme tidak terlihat oleh mata telanjang tetapi bekerja memecah nutrisi.
  2. Guru meluruskan pemahaman peserta didik yang masih menganggap pembusukan hanya sekadar "sampah rusak" menjadi "proses alami pembentukan nutrisi tanah".

Tahap 4: Active Experimentation (Eksperimentasi Aktif - 20 Menit)

  1. Peserta didik melakukan simulasi proyek penguraian terkontrol sesuai pembagian diferensiasi:
    • Kelompok A & B (Skala Pot Transparan): Memasukkan lapisan tanah, limbah dapur potong kecil, dan menyiram sedikit air untuk mengamati zona mikro Penguraian.
    • Kelompok C & D (Skala Tanah Terbuka): Membuat lubang kecil di tanah taman sekolah, memasukkan limbah dapur lokal, lalu menutupnya kembali dengan tanah.
  1. Peserta didik merancang jadwal pengamatan harian serta menandai lokasi pengamatan untuk membuktikan pembentukan humus dalam beberapa waktu ke depan.
  2. Setiap kelompok menyelesaikan LKPD bagian penyimpulan awal.

Kegiatan Penutup (15 Menit)

  1. Evaluasi dan Penyimpulan:
    • Guru bersama peserta didik merumuskan kesimpulan umum bahwa sampah organik diurai oleh bakteri dan jamur menjadi humus yang menyuburkan tanah.
  1. Refleksi Pembelajaran:
    • Peserta didik mengutarakan perasaan dan pemahaman baru yang mereka dapatkan selama pembelajaran berlangsung.
  1. Tindak Lanjut dan Penutup:
    • Guru memberikan instruksi tindak lanjut untuk melakukan pemantauan berkala pada pot dan tanah terbuka kelompok masing-masing.
    • Pembelajaran ditutup dengan doa bersama dan salam.

PENGALAMAN BELAJAR MENDALAM

  1. Mindful Learning: Peserta didik dilatih untuk fokus dan sadar penuh saat mengamati perubahan materi organik menggunakan kriteria keterindraan (melihat perubahan warna dari hijau/kuning menjadi cokelat/hitam, meraba perubahan tekstur dari padat menjadi lembut/gembur, serta mengenali bau tanah alami).
  2. Meaningful Learning: Peserta didik menghubungkan materi sains dekomposisi dengan pemecahan masalah penumpukan sampah dapur di rumah mereka sendiri, sehingga materi menjadi sangat kontekstual dan berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.
  3. Joyful Learning: Pembelajaran dikemas secara kolaboratif, menggunakan media audio-visual time-lapse yang menarik perhatian gaya belajar visual, serta interaksi praktis langsung dengan tanah dan tumbuhan di luar kelas.

STRATEGI DIFERENSIASI

Diferensiasi Konten

Menyediakan media belajar visual berupa video animasi penguraian tingkat tinggi untuk peserta didik berkecepatan belajar tinggi, serta kartu bergambar alur pembusukan tahap demi tahap untuk peserta didik yang memerlukan bantuan visual lebih terstruktur.

Diferensiasi Proses

  1. Pengamatan Skala Pot Transparan: Diperuntukkan bagi kelompok yang membutuhkan pengamatan visual mikro yang terisolasi dan mudah dipantau di dalam ruangan.
  2. Pengamatan Skala Tanah Terbuka: Diperuntukkan bagi kelompok yang siap mengeplorasi interaksi makro lingkungan alami di luar ruangan kelas (taman sekolah).

Diferensiasi Produk

  1. Kelompok Visual/Spasial: Menyajikan hasil laporan pengamatan dalam bentuk gambar komik alur penguraian limbah menjadi humus.
  2. Kelompok Teks/Verbal: Menyajikan hasil laporan dalam bentuk tabel naratif deskriptif yang mendetail mengenai tahap penguraian.

PEMANFAATAN TEKNOLOGI

  1. Smart TV: Digunakan untuk menampilkan video berdurasi pendek time-lapse pembusukan materi organik oleh mikroorganisme dan tayangan slide materi interaktif.
  2. Laptop: Digunakan guru untuk memutar media pembelajaran digital dan mengolah data asesmen kelas.
  3. Akses Internet: Digunakan untuk mengakses sumber belajar tambahan seperti simulasi interaktif ekosistem tanah dan penelusuran gambar jamur dekomposer secara daring.

MEDIA DAN SUMBER BELAJAR

Media Pembelajaran

  1. Video time-lapse proses dekomposisi sampah organik oleh bakteri dan jamur.
  2. Pot plastik transparan dan cetok kecil.
  3. Sampel limbah dapur lokal (kulit pisang, daun sawi, kulit bawang, ampas teh).
  4. Sampel tanah humus gelap dan gembur sebagai pembanding.
  5. Sarung tangan plastik sekali pakai dan kaca pembesar (lup).

Sumber Belajar

  1. Buku Panduan Guru IPAS Kelas V Kurikulum Merdeka.
  2. Buku Siswa IPAS Kelas V Kurikulum Merdeka.
  3. Artikel digital kontekstual tentang pengomposan limbah dapur lingkungan SD Negeri 1 Wringin Anom.

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

LabelIsi
Nama Peserta Didik...
Kelas / FaseKelas V / C
No. Absen...
Tanggal...

Judul Kegiatan

Membuktikan Penguraian Sampah Organik Menjadi Humus oleh Dekomposer

Tujuan Kegiatan

  1. Mengamati ciri-ciri fisik limbah dapur sebelum dan sesudah mengalami penguraian.
  2. Mengidentifikasi keberadaan dekomposer (bakteri/jamur) serta fungsinya dalam pembentukan humus.

Alat dan Bahan

  1. Sampel limbah dapur (kulit pisang / sisa sayuran).
  2. Sampel tanah humus dan sampel tanah biasa.
  3. Pot transparan atau lokasi tanah terbuka.
  4. Kaca pembesar (lup) dan sarung tangan.

Langkah Kerja

  1. Pakailah sarung tangan plastik demi menjaga kebersihan diri.
  2. Amatilah limbah dapur lokal yang dibawa! Gunakan kaca pembesar jika diperlukan.
  3. Catat warna, aroma, dan tekstur limbah tersebut pada tabel pengamatan di bawah ini!
  4. Timbunlah sebagian limbah dapur tersebut ke dalam media yang ditentukan (pot transparan atau tanah terbuka sekolah).
  5. Siramlah dengan sedikit air agar lembap, kemudian amati tayangan video demonstrasi penguraian yang diputar oleh guru untuk membayangkan proses yang terjadi dalam beberapa hari ke depan.
  6. Jawablah pertanyaan diskusi bersama kelompokmu!

Tabel Pengamatan Fisik

Bahan yang DiamatiWarna BahanTekstur BahanBau / Aroma
Limbah Dapur Segar.........
Limbah Dapur Membusuk.........
Tanah Humus Alami.........

Pertanyaan Diskusi Kelompok

  1. Berdasarkan pengamatanmu, perubahan apa saja yang terjadi pada limbah dapur saat membusuk?

Jawab: ...

  1. Makhluk hidup apakah yang bertugas menguraikan sampah tersebut tetapi tidak terlihat jelas tanpa alat bantu? Apa istilah untuk kelompok makhluk hidup ini?

Jawab: ...

  1. Mengapa tanah humus yang dihasilkan dari penguraian organik berwarna lebih gelap dan bagus untuk tanaman?

Jawab: ...

Kesimpulan

Berdasarkan kegiatan di atas, kami menyimpulkan bahwa sampah organik dapat terurai menjadi ... dengan bantuan dekomposer seperti ... dan ..., yang berfungsi untuk ... tanah.

REMEDIAL

Bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan tujuan pembelajaran (belum memahami konsep peran dekomposer dan penguraian):

  1. Guru memberikan bimbingan individual dengan memanfaatkan kartu bergambar (flashcard) yang memperlihatkan siklus materi organik secara lebih sederhana.
  2. Peserta didik diajak melakukan penataan ulang simulasi pot transparan dengan membandingkan pot berisi sampah plastik (yang tidak membusuk) dan pot berisi daun segar (yang membusuk).
  3. Melakukan tes lisan ulang sederhana mengenai definisi dekomposer dan humus.

PENGAYAAN

Bagi peserta didik yang telah melampaui kriteria ketuntasan tujuan pembelajaran dengan cepat:

  1. Peserta didik diberikan tugas mengeksplorasi pembuatan "Cairan Eco-Enzyme" atau "Metode Komposter Sederhana Takakura" dari limbah buah-buahan lokal Wringin Anom.
  2. Peserta didik diminta membuat poster imbauan digital/manual berisi ajakan memilah sampah organik dan anorganik di rumah masing-masing.

REFLEKSI GURU

NoPertanyaan RefleksiJawaban Refleksi Guru
1Apakah seluruh peserta didik telah aktif terlibat dalam kegiatan eksperimen dan diskusi kelompok?Seluruh peserta didik tampak antusias dan aktif berinteraksi dengan media praktikum serta tayangan video.
2Apakah pemanfaatan Smart TV dan video time-lapse berhasil meningkatkan pemahaman konseptual peserta didik visual?Media video time-lapse sangat efektif menjembatani pemahaman konseptual peserta didik yang sebelumnya kesulitan membayangkan proses mikro.
3Kendala apa yang dihadapi selama proses diferensiasi pengamatan pot versus tanah terbuka?Pembagian waktu pengamatan di luar kelas memerlukan penataan ketertiban ekstra agar peserta didik tetap fokus pada tugasnya.
4Apakah alokasi waktu 3 x 35 menit cukup efektif untuk menjalankan seluruh tahapan Experiential Learning?Alokasi waktu mencukupi, namun bagian diskusi kesimpulan perlu diefisienkan agar penutupan tidak terburu-buru.
5Langkah perbaikan apa yang akan diterapkan pada pembelajaran topik IPAS berikutnya?Menyiapkan lembar instruksi kerja luar ruangan yang lebih terstruktur dan ringkas sebelum peserta didik menuju area tanah terbuka.

REFLEKSI PESERTA DIDIK

NoPertanyaan Refleksi Peserta DidikTanggapan / Perasaan Saya
1Bagian mana dari kegiatan belajar hari ini yang paling menyenangkan bagi kalian?Menonton video time-lapse dan memegang langsung sampel tanah humus serta limbah dapur.
2Hal baru apa yang kalian ketahui tentang sampah dapur yang ada di rumahmu?Ternyata sampah dapur bisa berubah menjadi humus yang sangat kaya nutrisi dan membuat tanaman subur.
3Apakah kalian menemukan kesulitan saat melakukan pengamatan bersama kelompok?Sedikit kesulitan saat mencium bau limbah, tetapi sarung tangan dan kerja sama tim sangat membantu.
4Apa yang akan kalian lakukan di rumah jika melihat sisa sayuran atau buah di dapur?Tidak membuangnya sembarangan dan mencoba menimbunnya di dekat tanaman rumah.

BAHAN BACAAN

Bahan Bacaan Guru

Proses dekomposisi atau penguraian merupakan reaksi ekologis vital di mana senyawa organik kompleks dipecah menjadi hara anorganik yang dapat diserap oleh akar tumbuhan. Dekomposer utama terdiri atas bakteri dan jamur sisa makro-invertebrata seperti cacing tanah. Bakteri berperan cepat memecah senyawa gula dan protein sederhana, sedangkan jamur (terutama kelompok Basidiomycota) mampu memecah lignin dan selulosa kompleks pada kayu serta daun keras. Pembentukan humus terjadi melalui proses humifikasi, yang menghasilkan koloid organik kaya gugus karboksil dan fenol, berdampak positif pada kapasitas tukar kation (KTK) tanah serta struktur perakaran tanaman.

Bahan Bacaan Peserta Didik

Tahukah kamu ke mana perginya sampah makanan yang kita buang? Sampah dari tumbuhan dan sisa makanan disebut sampah organik. Jika kita menimbun sampah organik di dalam tanah, ada pasukan makhluk sangat kecil bernama bakteri dan jamur yang akan memakannya. Bakteri dan jamur ini disebut sebagai dekomposer atau pengurai. Mereka mengunyah dan mengubah sampah tersebut menjadi tanah serbuk berwarna hitam yang sangat subur. Tanah hitam subur ini dinamakan humus. Tanpa adanya pasukan dekomposer, bumi kita akan dipenuhi oleh tumpukan sampah mati yang tidak pernah hilang!

GLOSARIUM

  1. Dekomposer: Organisme (bakteri, jamur, cacing) yang menguraikan sisa-sisa makhluk hidup yang telah mati menjadi zat-zat yang lebih sederhana.
  2. Humus: Lapisan tanah paling atas yang berwarna gelap dan gembur, terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang telah mengalami penguraian sempurna.
  3. Organik: Bahan-bahan yang berasal dari makhluk hidup (tumbuhan, hewan, manusia) yang dapat membusuk secara alami.
  4. Anorganik: Bahan-bahan yang tidak berasal dari makhluk hidup (seperti plastik, kaca, logam) dan sangat sulit atau tidak dapat diuraikan oleh dekomposer.
  5. Time-lapse: Teknik perekaman video yang mengambil gambar dengan frekuensi lebih rendah dari kecepatan normal, sehingga proses yang lambat (seperti pembusukan) terlihat bergerak sangat cepat ketika diputar.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk SD Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
  2. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk SD Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
  3. Lingkungan Hidup Kabupaten Bondowoso. (2023). Panduan Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga dan Pembuatan Kompos Sederhana. Bondowoso: Dinas Lingkungan Hidup.
  4. Campbell, N.A., & Reece, J.B. (2010). Biologi Edisi Kedelapan Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

LAMPIRAN

Lembar Observasi Keterampilan Praktikum dan Pengamatan

NoAspek yang DinilaiKriteria Skor (1-4 dengan keterangan tiap skor)Skor
1Identifikasi Ciri FisikSkor 4: Mampu mengidentifikasi perubahan warna, tekstur, dan bau secara tepat dan detail.
Skor 3: Mampu mengidentifikasi 2 dari 3 ciri fisik secara tepat.
Skor 2: Hanya mampu mengidentifikasi 1 ciri fisik secara tepat.
Skor 1: Tidak mampu mengidentifikasi ciri fisik dengan benar.
...
2Kerjasama KelompokSkor 4: Aktif membagi tugas, membantu teman, dan menjaga ketertiban kelompok secara mandiri.
Skor 3: Bekerja sama dengan baik tetapi membutuhkan sesekali dorongan dari guru.
Skor 2: Bekerja sendiri-sendiri dan kurang berinteraksi dengan kelompok.
Skor 1: Pasif dan acuh tak acuh terhadap kegiatan kelompok.
...
3Teknik Eksperimen Pot/TanahSkor 4: Melakukan prosedur penimbunan limbah organik dan penyiraman air dengan sangat tepat dan rapi.
Skor 3: Melakukan prosedur dengan tepat namun kurang rapi dalam pengerjaan.
Skor 2: Melakukan prosedur eksperimen dengan banyak bantuan instruksi ulang dari guru.
Skor 1: Tidak mampu melakukan prosedur penimbunan limbah secara benar.
...
4Kerapian dan KebersihanSkor 4: Menggunakan sarung tangan dengan benar dan membersihkan kembali area kerja hingga steril.
Skor 3: Membersihkan area kerja setelah mendapat teguran halus dari guru.
Skor 2: Kurang menjaga kebersihan meja dan alat praktikum.
Skor 1: Meninggalkan sisa limbah praktikum berantakan di meja/area tanah.
...

Lembar Penilaian Asesmen Sumatif (Tes Tertulis Esai)

  1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan dekomposer dan sebutkan 2 contoh dekomposer yang berperan dalam pembuatan humus!

Jawaban: ...

  1. Tuliskan 3 ciri fisik tanah humus yang membedakannya dengan tanah biasa!

Jawaban: ...

  1. Mengapa sampah kantong plastik bekas belanjaan tidak bisa berubah menjadi humus meskipun sudah ditimbun dalam tanah selama berbulan-bulan?

Jawaban: ...

  1. Sebutkan 2 manfaat utama pembentukan humus bagi keberlanjutan lingkungan tanaman di sekolahmu!

Jawaban: ...

 
Mengetahui,
Kepala Sekolah,
Sri Anggriyani, S.Pd.
NIP. 198004152008012016
 
Situbondo, ___________2026
Guru Kelas,
Didik Sadi, S.Pd.
NIP. 198406162025211130