IDENTITAS MODUL
| Satuan Pendidikan | : | SD Negeri 1 Wringin Anom |
| Nama Guru | : | Didik Sadi, S.Pd. |
| Mata Pelajaran | : | Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) |
| Kelas / Fase | : | Kelas V / Fase C |
| Semester / Tahun Pelajaran | : | Ganjil / 2026/2027 |
| Alokasi Waktu | : | 2 x 35 menit (1 Pertemuan) |
| Materi / Topik | : | Bagan Rantai Ekstraksi SDA, Eksploitasi Hutan, dan Dampaknya |
| Elemen Capaian Pembelajaran | : | Pemahaman IPAS (Sains dan Sosial) / Menganalisis masalah yang timbul jika bahan baku habis |
| Model Pembelajaran | : | Problem Based Learning (PBL) |
| Pendekatan Pembelajaran | : | Pembelajaran Mendalam (Deep Learning: Mindful, Meaningful, Joyful Learning) |
| Integrasi Lokal dan Diferensiasi | : | Kearifan Lokal: Kondisi kelestarian alam lingkungan sekitar Wringin Anom / Diferensiasi: Teknik analisis bagan bertingkat |
ANALISIS AWAL PEMBELAJARAN
Profil dan Karakteristik Peserta Didik
Peserta didik kelas V SD Negeri 1 Wringin Anom memiliki gaya belajar mayoritas dominan visual (80%) dan sisanya kinestetik-auditori. Mereka sangat responsif terhadap tayangan grafis, warna, bagan interaktif, dan tayangan media digital melalui Smart TV. Secara kognitif, peserta didik berada pada tahap operasional konkret, di mana mereka membutuhkan visualisasi langsung dari siklus pemanfaatan sumber daya alam untuk dapat memikirkan dampak jangka panjang yang abstrak.
Pemetaan Pengetahuan Awal
- Sebagian besar peserta didik telah mengenali jenis-jenis benda yang terbuat dari kayu di kelas (meja, kursi, lemari).
- Sebagian kecil peserta didik telah memahami konsep bahwa kayu berasal dari pohon di hutan.
- Peserta didik belum sepenuhnya memahami rantai alur ekstraksi SDA (proses dari tebang pohon, pengangkutan, pabrik pengolahan, hingga barang jadi) serta korelasi langsung antara eksploitasi berlebihan dengan krisis bahan baku dan bencana lingkungan lokal.
Kondisi Lingkungan dan Local Context
Lingkungan sekitar Wringin Anom memiliki lanskap vegetasi dan kawasan hijau yang berhubungan erat dengan suplai air dan udara bersih masyarakat. Adanya isu pemanfaatan lahan dan pengambilan hasil hutan setempat menjadi konteks nyata yang relevan untuk dikaji peserta didik.
CAPAIAN PEMBELAJARAN
Pada akhir Fase C, peserta didik diperkenalkan pada sistem lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam serta dampaknya terhadap kehidupan sosial-ekonomi.
Secara khusus pada modul ini: "Peserta didik menganalisis masalah yang timbul jika bahan baku habis."
TUJUAN PEMBELAJARAN
- Melalui pengamatan bagan infografis interaktif di Smart TV, peserta didik dapat merincikan urutan alur rantai ekstraksi bahan baku kayu dari hutan hingga menjadi produk pakai secara runtut dan tepat.
- Melalui diskusi kelompok berbasis studi kasus PBL, peserta didik dapat menganalisis minimal 3 dampak utama dari eksploitasi hutan secara berlebihan terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar Wringin Anom secara kritis.
- Melalui penyusunan peta analisis bagan, peserta didik dapat memprediksi masalah sosial-ekonomi yang terjadi jika bahan baku kayu habis serta merekomendasikan solusi pelestarian lingkungan yang konkret.
PEMAHAMAN BERMAKNA
Pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) kayu melalui rantai ekstraksi yang tidak terkendali akan mengakibatkan kelangkaan bahan baku, kerusakan ekosistem, serta mengancam kelangsungan hidup manusia. Setiap benda buatan manusia yang kita gunakan hari ini memiliki riwayat ekologis dan tanggung jawab kelestarian yang harus dijaga secara bijaksana.
PERTANYAAN PEMANTIK
- Coba perhatikan meja dan kursi yang kalian duduki saat ini. Menurut kalian, bagaimana perjalanan kayu tersebut dari tengah hutan hingga bisa sampai di kelas kita?
- Apa yang akan terjadi pada kehidupan kita di Wringin Anom jika semua pohon di hutan ditebang habis dan pasokan kayu benar-benar tidak ada lagi?
- Mengapa pabrik tidak bisa terus-menerus membuat barang dari kayu jika hutannya tidak ditanam kembali?
PROFIL DAN KOMPETENSI YANG DIKEMBANGKAN
Dimensi Profil Pelajar Pancasila
- Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia: Menunjukkan rasa syukur terhadap alam ciptaan Tuhan melalui sikap peduli kelestarian hutan.
- Gotong Royong: Bekerja sama secara aktif dalam kelompok untuk menganalisis masalah dan merumuskan solusi.
- Bernalar Kritis: Menganalisis hubungan sebab-akibat antara ekstraksi SDA, kerusakan lingkungan, dan krisis bahan baku.
Kompetensi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
- Systemic Thinking (Berpikir Sistem): Memahami rantai ekstraksi sebagai satu kesatuan sistem yang saling memengaruhi.
- Critical Inquiry (Penyelidikan Kritis): Mengidentifikasi dampak eksploitasi dan menemukan akar permasalahan.
- Collaborative Problem Solving (Pemecahan Masalah Kolaboratif): Mampu berdiskusi secara konstruktif untuk memecahkan isu krisis lingkungan lokal.
MATERI PEMBELAJARAN
Rantai Ekstraksi Sumber Daya Alam (Kayu)
Ekstraksi SDA adalah proses pengambilan bahan mentah langsung dari alam untuk diolah menjadi barang yang berguna bagi manusia. Rantai ekstraksi kayu mencakup tahapan:
- Pengambilan/Penebangan (Hutan Alam/Hutan Tanaman Industri)
- Pengangkutan Log (Pengiriman bahan mentah ke pabrik)
- Pengolahan Primer & Sekunder (Pabrik penggergajian dan pabrik furnitur)
- Distribusi dan Pemasaran (Toko/Distributor)
- Konsumsi (Penggunaan oleh masyarakat/sekolah)
Eksploitasi Hutan dan Dampaknya
Eksploitasi hutan secara liar dan berlebihan tanpa diikuti reboisasi mengakibatkan:
- Kelangkaan Bahan Baku: Pabrik kehilangan sumber daya mentah sehingga aktivitas produksi terhenti.
- Bencana Ekologis: Banjir, tanah longsor, erosi, dan hilangnya resapan air di lingkungan sekitar Wringin Anom.
- Kerusakan Ekosistem: Hilangnya tempat tinggal bagi flora dan fauna endemik.
- Perubahan Iklim: Peningkatan suhu udara lokal akibat hilangnya penyerap karbon alami.
Konteks Local Wisdom dan Solusi Kelestarian
Pelestarian alam sekitar Wringin Anom melalui sistem tebang pilih, reboisasi bertahap, serta penggunaan bahan alternatif terbarukan sebagai wujud kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam.
MODEL DAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Model Pembelajaran | Problem Based Learning (PBL) |
| Tahapan Sintaks PBL | 1. Orientasi peserta didik pada masalah 2. Mengorganisasi peserta didik untuk belajar 3. Membimbing penyelidikan individu/kelompok 4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya 5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah |
| Pendekatan Pembelajaran | Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) mencakup Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning |
ASESMEN
Asesmen Diagnostik (Sebelum Pembelajaran)
Dilakukan melalui kuis visual singkat berbasis tanyaan pemantik untuk mengukur pemahaman awal mengenai asal-usul barang buatan kayu dan istilah rantai ekstraksi.
Asesmen Formatif (Selama Proses Pembelajaran)
- Penilaian Kinerja Diskusi Kelompok (Observasi kolaborasi dan nalar kritis).
- Penilaian Formatif LKPD (Analisis bagan rantai ekstraksi dan analisis dampak eksploitasi).
Asesmen Sumatif (Akhir Pembelajaran)
Tes tertulis berupa soal uraian berbasis studi kasus analisis krisis bahan baku kayu dan solusinya.
RUBRIK PENILAIAN
Rubrik Asesmen Diagnostik
| Kriteria / Skor | Skor 1 (Perlu Bimbingan) | Skor 2 (Cukup) | Skor 3 (Baik) | Skor 4 (Sangat Baik) |
|---|---|---|---|---|
| Pemahaman Rantai Benda | Belum tahu asal kayu. | Tahu kayu dari pohon tapi tidak tahu prosesnya. | Memahami bahwa kayu dipotong dan diolah di pabrik. | Memahami alur lengkap secara konseptual dari hutan hingga barang jadi. |
Rubrik Asesmen Formatif (Penilaian Kinerja Diskusi)
| Aspek yang Dinilai | Skor 1 (Perlu Bimbingan) | Skor 2 (Cukup) | Skor 3 (Baik) | Skor 4 (Sangat Baik) |
|---|---|---|---|---|
| Keaktifan dan Kolaborasi | Pasif dan tidak berpartisipasi dalam diskusi. | Aktif jika diminta oleh teman atau guru. | Aktif berdiskusi dan membantu anggota kelompok. | Sangat aktif, memimpin diskusi, dan menghargai pendapat orang lain. |
| Analisis Masalah | Belum mampu mengidentifikasi dampak eksploitasi hutan. | Menyebutkan 1 dampak eksploitasi dengan bantuan guru. | Menyebutkan 2-3 dampak eksploitasi dengan benar secara mandiri. | Menganalisis dampak eksploitasi secara mendalam beserta hubungan sebab-akibatnya. |
Rubrik Asesmen Sumatif (LKPD dan Pengetahuan)
| Aspek | Skor 1 | Skor 2 | Skor 3 | Skor 4 |
|---|---|---|---|---|
| Kelengkapan Bagan Rantai Ekstraksi | Bagan tidak terisi atau kurang dari 2 tahapan yang benar. | Bagan terisi 3 tahapan dengan benar. | Bagan terisi 4 tahapan dengan urutan yang benar. | Bagan terisi sempurna (5 tahapan) beserta penjelasan alurnya. |
| Analisis Masalah Bahan Baku Habis | Tidak dapat memberikan analisis. | Mengidentifikasi 1 masalah jika bahan baku habis. | Mengidentifikasi 2 masalah dampak sosial-ekonomi dengan jelas. | Mengidentifikasi >2 masalah runtut beserta rekomendasi solusi terintegrasi kearifan lokal. |
LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Kegiatan Pendahuluan (10 Menit)
- Pembukaan dan Kondisifitas Kelas: Guru menyapa peserta didik, memeriksa kerapian dan kebersihan kelas, kemudian berdoa bersama (Mindful Learning).
- Presensi dan Apersepsi Visual: Guru menampilkan foto hutan yang asri dan foto ruangan kelas SD Negeri 1 Wringin Anom di Smart TV. Guru mengaitkan keberadaan meja/kursi kayu di kelas dengan hutan.
- Penyampaian Tujuan dan Motivasi: Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan gambaran aktivitas menarik hari ini (Joyful Learning).
Kegiatan Inti (50 Menit) - Sintaks Problem Based Learning
Sintaks 1: Orientasi Peserta Didik pada Masalah (10 Menit)
- Guru menayangkan video/infografis singkat di Smart TV mengenai maraknya eksploitasi hutan, proses penebangan, hingga berkurangnya stok kayu serta dampaknya berupa tanah longsor di daerah sekitar.
- Peserta didik secara kritis diajak mengamati bagan alur ekstraksi yang belum lengkap di layar Smart TV (Mindful & Meaningful Learning).
- Guru mengajukan pertanyaan studi kasus: "Jika hutan ditebang terus tanpa henti untuk membuat meja dan kertas, apa yang akan terjadi ketika kayu habis? Bagaimana nasib pabrik, pekerja, dan lingkungan Wringin Anom?"
Sintaks 2: Mengorganisasi Peserta Didik untuk Belajar (5 Menit)
- Guru membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok heterogen (4-5 siswa per kelompok) sesuai gaya belajar visualnya.
- Guru membagikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang dirancang secara visual dengan bagan bertingkat.
- Guru menjelaskan petunjuk pengerjaan LKPD yang memanfaatkan analisis bagan.
Sintaks 3: Membimbing Penyelidikan Individu dan Kelompok (15 Menit)
- Kelompok berdiskusi menganalisis alur rantai ekstraksi SDA kayu yang terputus pada LKPD.
- Peserta didik mengumpulkan informasi dari media visual yang ditampilkan di Smart TV maupun bahan bacaan bergambar.
- Guru berkeliling memberikan bimbingan bagi kelompok yang membutuhkan scaffolding teknis analisis bagan (Diferensiasi Proses).
- Peserta didik mendiskusikan korelasi antara eksploitasi hutan berlebihan, ancaman kehabisan bahan baku, serta dampak ekologis lokal di Wringin Anom (Meaningful Learning).
Sintaks 4: Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya (12 Menit)
- Setiap kelompok menyempurnakan bagan rantai ekstraksi SDA dan menuliskan hasil analisis masalah jika bahan baku habis.
- Perwakilan kelompok mempresentasikan bagan visual mereka di depan kelas menggunakan Smart TV / pameran karya sederhana.
- Kelompok lain memberikan tanggapan, pertanyaan, atau masukan (Joyful Learning & Collaborative Problem Solving).
Sintaks 5: Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah (8 Menit)
- Guru memberikan konfirmasi dan penguatan materi terkait rantai ekstraksi SDA dan bahaya eksploitasi hutan.
- Guru bersama peserta didik menyimpulkan pemecahan masalah terbaik, yaitu pentingnya tebang pilih, reboisasi, dan hemat penggunaan produk berbasis kayu.
Kegiatan Penutup (10 Menit)
- Refleksi Bersama: Guru mengajak peserta didik merenungkan apa yang dirasakan dan dipelajari hari ini (Mindful Learning).
- Asesmen Sumatif Singkat: Peserta didik mengerjakan 2 soal evaluasi mandiri.
- Tindak Lanjut dan Apresiasi: Guru memberikan apresiasi atas kerja sama seluruh kelompok, memberikan arahan pengayaan/remedial, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam.
PENGALAMAN BELAJAR MENDALAM
Mindful Learning (Pembelajaran Penuh Kesadaran)
Peserta didik secara sadar diajak mengamati barang-barang di sekitar mereka (meja, kursi, pensil) dan menyadari bahwa barang-barang tersebut berasal dari makhluk hidup (pohon) yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh. Kesadaran ini dibangun agar muncul rasa hormat dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)
Peserta didik tidak hanya menghafal definisi ekstraksi, melainkan menganalisis alur rantai pasok dan dampak nyata jika rantai tersebut rusak akibat eksploitasi berlebihan. Pembelajaran dihubungkan langsung dengan kondisi alam lingkungan sekitar Wringin Anom.
Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan)
Pembelajaran dikemas interaktif menggunakan media Smart TV, bagan bergambar warna-warni, serta diskusi kelompok dinamis di mana suara dan gagasan setiap peserta didik dihargai secara positif.
STRATEGI DIFERENSIASI
Diferensiasi Konten
Guru menyediakan bahan ajar dalam bentuk infografis visual tingkat dasar (bagan bergambar sederhana) untuk peserta didik yang memerlukan bimbingan, dan infografis kompleks (bagan alur dengan variabel sosial-ekonomi) untuk peserta didik cepat belajar.
Diferensiasi Proses (Teknik Analisis Bagan)
- Kelompok Bimbingan (Perlu Bimbingan): Menganalisis bagan rantai ekstraksi dengan panduan kartu petunjuk bergambar (step-by-step).
- Kelompok Mandiri (Cukup/Baik): Menganalisis bagan rantai ekstraksi standar dan mengidentifikasi 3 dampak eksploitasi hutan.
- Kelompok Pengayaan (Sangat Baik): Menganalisis bagan alur kompleks dan menyusun peta solusi pemanfaatan alternatif bahan baku.
Diferensiasi Produk
Peserta didik diberikan kebebasan menyajikan hasil analisis bagan dalam bentuk skema bergambar, poster infografis mini, atau peta pikiran (mind map) visual sesuai kesepakatan kelompok.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI
- Smart TV: Menampilkan tayangan visual interaktif, video animasi pendek tentang deforestasi, serta bagan rantai ekstraksi SDA transparan.
- Laptop Guru: Digunakan untuk mengoperasikan media tayang, instrumen penilaian, dan memutar slide pembelajaran.
- Koneksi Internet: Digunakan untuk mengakses sumber belajar digital real-time dan ilustrasi pendukung konsep ekstraksi SDA.
MEDIA DAN SUMBER BELAJAR
Media Pembelajaran
- Slide Presentasi Interaktif & Video Edukasi Ekstraksi Hutan.
- Smart TV untuk penayangan bagan visual.
- LKPD Visual Bertingkat (Lembar Analisis Bagan).
- Contoh konkrit benda kayu di dalam kelas (Meja, Kursi, Pensil).
Sumber Belajar
- Buku Teks Utama: IPAS Kelas V SD Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Modul Lokal: Materi Lingkungan Hidup dan Kelestarian Alam Wringin Anom.
- Internet: Artikel digital edukasi lingkungan hidup dan pelestarian hutan.
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)
| Label | Isi |
|---|---|
| Nama Peserta Didik | |
| Kelas / No. Absen | V / |
| Tanggal |
Judul LKPD: Analisis Bagan Rantai Ekstraksi SDA dan Dampak Eksploitasi Hutan
Petunjuk Pengerjaan:
- Amatilah bagan alur rantai ekstraksi kayu yang ditampilkan di Smart TV dan di lembar kerja ini.
- Lengkapilah kotak bagan rantai ekstraksi kayu yang masih kosong secara runtut bersama kelompokmu.
- Jawablah pertanyaan analisis masalah pada kolom yang tersedia secara kritis.
Bagian A: Bagan Rantai Ekstraksi Kayu
Lengkapilah alur rantai ekstraksi kayu di bawah ini dengan memilih jawaban yang tepat:
(Pilihan: Pabrik Pengolahan Kayu / Penebangan Hutan / Konsumen / Pengangkutan Log / Distributor Furnitur)
[ 1. Hutan Alam ] ---> [ 2. .................... ] ---> [ 3. .................... ] ---> [ 4. .................... ] ---> [ 5. Toko / Furnitur ] ---> [ 6. .................... ]
Bagian B: Analisis Masalah dan Eksploitasi
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan berdiskusi secara mendalam:
- Apa yang dimaksud dengan eksploitasi hutan berlebihan berdasarkan alur bagan di atas?
Jawaban:...................................................................................................................................................................
- Jika pohon di hutan ditebang terus-menerus tanpa ada penanaman kembali (reboisasi), apa yang akan terjadi pada langkah nomor 4 (Pabrik Pengolahan Kayu)? Mengapa demikian? Jawaban:...................................................................................................................................................................
- Sebutkan 3 dampak buruk yang dirasakan oleh warga masyarakat di sekitar Wringin Anom jika hutan di daerah kita habis dieksploitasi!
- Berikan 2 usulan tindakan nyata yang dapat kita lakukan sebagai pelajar untuk membantu melestarikan hasil hutan dan mencegah kehabisan bahan baku kayu!
REMEDIAL
Program Remedial
Diperuntukkan bagi peserta didik yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran (KKTP) dalam menganalisis bagan dan dampak kehabisan bahan baku.
Bentuk Kegiatan:
- Pendampingan Individu/Scaffolding: Guru menjelaskan kembali alur rantai ekstraksi menggunakan contoh sederhana 3 tahap (Hutan -> Pabrik -> Meja).
- Tugas Bimbingan: Mengisi bagan rantai ekstraksi sederhana bergambar dan menyebutkan 1 dampak utama hutan gundul secara lisan/tertulis.
PENGAYAAN
Program Pengayaan
Diperuntukkan bagi peserta didik yang telah melampaui KKTP dengan capaian sangat baik.
Bentuk Kegiatan:
- Analisis Kasus Lanjutan: Peserta didik diminta membuat bagan perbandingan antara "Rantai Ekstraksi Kayu Konvensional" dengan "Rantai Pengolahan Daur Ulang Kertas/Kayu".
- Proyek Gagasan Kreatif: Merancang poster ajakan hemat penggunaan kertas dan kayu di lingkungan SD Negeri 1 Wringin Anom.
REFLEKSI GURU
| No | Pertanyaan Refleksi | Hasil Evaluasi / Catatan Guru |
|---|---|---|
| 1 | Apakah seluruh peserta didik dapat mengikuti alur analisis bagan rantai ekstraksi melalui Smart TV dengan baik? | Seluruh peserta didik sangat antusias melihat bagan visual di Smart TV dan dapat memahami urutan alur tebang hingga barang jadi. |
| 2 | Apakah sintaks Problem Based Learning berjalan sesuai alokasi waktu yang direncanakan? | Sintaks berjalan lancar, namun pada fase diskusi kelompok dibutuhkan ketegasan waktu agar presentasi berjalan tepat waktu. |
| 3 | Bagaimana efektivitas diferensiasi teknik analisis bagan dalam membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran? | Diferensiasi bagan bertingkat sangat membantu siswa visual lambat untuk tetap bisa menganalisis alur tanpa merasa berkecil hati. |
| 4 | Langkah apa yang perlu ditingkatkan pada pertemuan berikutnya untuk memperdalam pemahaman siswa? | Perlu ditambahkan modul simulasi interaktif yang memungkinkan siswa mengklik/memindahkan elemen bagan secara langsung di layar touch screen/Smart TV. |
REFLEKSI PESERTA DIDIK
| Pertanyaan Refleksi | Tanggapan Peserta Didik |
|---|---|
| Bagian mana dari kegiatan belajar hari ini yang paling kamu sukai? | Mengamati gambar alur kayu di Smart TV dan berdiskusi bersama teman kelompok. |
| Apa hal baru paling penting yang kamu pelajari tentang hutan dan bahan baku kayu hari ini? | Bahwa kayu yang kita pakai butuh waktu lama untuk tumbuh di hutan, dan kalau ditebang terus pabrik bisa tutup dan bisa terjadi banjir. |
| Apakah kamu sudah memahami apa yang terjadi jika bahan baku di alam habis? | Sudah paham, jika bahan baku habis maka manusia tidak bisa membuat barang lagi dan lingkungan menjadi rusak. |
| Sikap apa yang akan kamu lakukan mulai hari ini setelah tahu dampak eksploitasi hutan? | Menggunakan kertas dan pensil dengan hemat serta tidak merusak tanaman di sekolah. |
BAHAN BACAAN
Bahan Bacaan Guru
Ekstraksi Sumber Daya Alam (SDA) merupakan tahap awal dalam siklus hidup produk (Product Life Cycle). Dalam ilmu IPAS kelas V, penting untuk menanamkan pemahaman bahwa sumber daya alam terrestrial seperti hutan memiliki batas daya dukung (carrying capacity). Eksploitasi hutan secara massif tanpa prinsip pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) memicu krisis ganda: krisis suplai industri dan bencana ekologis. Konsep rantai pasok (Supply Chain) yang disederhanakan menjadi "Bagan Rantai Ekstraksi" membantu siswa kelas V berpikir secara sistemik bahwa sebuah produk konsumsi terikat pada keutuhan ekosistem asal bahan mentahnya.
Bahan Bacaan Peserta Didik
Pernahkah kamu berpikir dari mana asal meja, kursi, dan buku tulismu? Semua benda itu terbuat dari kayu yang diambil dari hutan. Proses mengambil kayu dari hutan disebut sebagai ekstraksi sumber daya alam.
Perjalanan kayu sangat panjang:
- Pohon ditebang di hutan.
- Batang kayu besar (log) diangkut menggunakan truk ke pabrik.
- Pabrik memotong dan mengolah kayu menjadi papan atau bubur kertas.
- Pengrajin membuat papan menjadi meja, kursi, dan lemari.
- Toko menjualnya kepada kita.
Jika kita menebang pohon di hutan terus-menerus tanpa menanamnya kembali, hutan akan gundul. Akibatnya, terjadi banjir, tanah longsor, hewan kehilangan rumah, dan suatu hari nanti kayu akan habis sehingga tidak ada lagi pabrik yang bisa membuat meja atau kertas! Oleh karena itu, kita harus hemat menggunakan kertas dan menjaga kelestarian hutan di sekitar kita.
GLOSARIUM
- Ekstraksi: Kegiatan mengambil atau mengeluarkan sumber daya alam langsung dari lingkungan asal untuk dimanfaatkan.
- Eksploitasi: Pemanfaatan atau pengambilan sumber daya alam secara berlebihan demi keuntungan tanpa memikirkan dampaknya.
- Rantai Ekstraksi: Urutan alur tahapan pemrosesan bahan mentah dari alam hingga menjadi barang siap pakai.
- Bahan Baku: Bahan mentah yang digunakan sebagai dasar untuk membuat suatu produk/barang jadi.
- Deforestasi: Kegiatan penebangan atau penghilangan hutan secara permanen untuk alih fungsi lahan.
- Reboisasi: Penanaman kembali hutan yang telah gundul atau ditebang agar lestari kembali.
DAFTAR PUSTAKA
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk SD Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk SD Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2022). Modul Edukasi Kebencanaan dan Pelestarian Hutan Berbasis Sekolah. Jakarta: BNPB.
- Utomo, P. (2023). Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup di Indonesia. Surabaya: Media Cendekia.
LAMPIRAN
Lembar Observasi Sikap dan Kinerja Diskusi Kelompok
| No | Aspek yang Dinilai | Kriteria Skor | Skor |
|---|---|---|---|
| 1 | Bernalar Kritis dalam Analisis Bagan | Skor 4: Sangat kritis, mampu merincikan seluruh tahapan bagan dan menganalisis dampak kehabisan bahan baku secara amat mendalam. Skor 3: Kritis, mampu merincikan tahapan bagan dan menganalisis dampak kehabisan bahan baku dengan benar. Skor 2: Cukup kritis, mampu merincikan sebagian tahapan bagan namun butuh bantuan dalam analisis dampak. Skor 1: Kurang kritis, belum mampu merincikan bagan maupun mengidentifikasi dampak tanpa bimbingan penuh. | |
| 2 | Kolaborasi dan Gotong Royong | Skor 4: Sangat kooperatif, aktif membantu teman, mengorganisasi kelompok, dan menghargai pendapat anggota. Skor 3: Kooperatif, menjalankan tugas kelompok dengan baik dan mampu bekerja sama. Skor 2: Cukup kooperatif, berpartisipasi hanya jika diminta teman sekelompok. Skor 1: Pasif, tidak berkontribusi dalam pengerjaan tugas kelompok. | |
| 3 | Kemampuan Komunikasi dan Presentasi | Skor 4: Menyampaikan hasil analisis dengan sangat jelas, percaya diri, runtut, dan menguasai bagan visual di Smart TV. Skor 3: Menyampaikan hasil analisis dengan jelas dan lancar sesuai bagan kelompok. Skor 2: Menyampaikan hasil analisis kurang lancar dan membaca seluruh teks pada lembar pengerjaan. Skor 1: Tidak berani menyampaikan hasil analisis atau ragu-ragu secara berlebihan. | |
| 4 | Kepedulian Lingkungan (Akhlak Alam) | Skor 4: Menunjukkan sikap dan usulan solusi yang sangat konkret, realistis, dan berorientasi pada pelestarian alam lokal Wringin Anom. Skor 3: Menunjukkan sikap peduli lingkungan dan memberikan usulan solusi umum secara tepat. Skor 2: Memahami pentingnya menjaga lingkungan tetapi belum mampu memberikan usulan solusi konkret. Skor 1: Belum menunjukkan kepedulian terhadap isu eksploitasi hutan dan lingkungan. |