Line Spacing
Bullets Library
Number Library
Border Sel:
Shading Sel:
Modul Ajar

IDENTITAS MODUL

Satuan Pendidikan : SD Negeri 1 Wringin Anom
Nama Guru : Didik Sadi, S.Pd.
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial
Kelas / Fase : Kelas V / C
Semester / Tahun Pelajaran : Ganjil / 2026/2027
Alokasi Waktu : 2 x 35 menit (1 Pertemuan)
Materi / Topik : Studi kasus Sumba, Kota Mulia, Wonosobo, dan Suku Bajo
Elemen Capaian Pembelajaran : Pemahaman IPAS (Sains dan Sosial)
Model Pembelajaran : Cooperative Learning
Pendekatan Pembelajaran : Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
Integrasi Lokal dan Diferensiasi : Diferensiasi: Teks artikel berdasarkan tingkat pemahaman siswa. Kearifan Lokal: Potensi mata pencaharian lokal.

ANALISIS AWAL PEMBELAJARAN

Karakteristik Peserta Didik

Peserta didik kelas V SD Negeri 1 Wringin Anom memiliki gaya belajar yang dominan visual dan terbiasa memproses informasi melalui tayangan gambar, diagram, serta video interaktif. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi ketika materi disajikan dengan tampilan visual yang kaya warna dan nyata.

Kesiapan Belajar (Readiness)

  1. Kelompok Mahir: Peserta didik telah memahami konsep dasar bentang alam dan mampu mengaitkan kondisi geografis dengan jenis pekerjaan secara mandiri.
  2. Kelompok Sedang: Peserta didik memahami jenis-jenis bentang alam namun masih memerlukan petunjuk panduan untuk mengaitkannya dengan jenis pekerjaan spesifik.
  3. Kelompok Perlu Bimbingan: Peserta didik masih kesulitan membedakan karakteristik bentang alam dan memerlukan pendampingan intensif serta bantuan visual konkret.

Pengetahuan Awal

Peserta didik sudah mengenal istilah gunung, laut, dan dataran rendah dari pembelajaran sebelumnya, tetapi belum memahami secara mendalam bagaimana kondisi geografis ekstrem atau spesifik seperti di Sumba, Kota Mulia, Wonosobo, dan perairan Suku Bajo menentukan mata pencaharian masyarakatnya, serta kaitannya dengan kondisi di lingkungan lokal Wringin Anom.

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Pada akhir Fase C, peserta didik memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi jenis pekerjaan di berbagai bentang alam, menganalisis keterkaitan antara kondisi geografis, ketersediaan sumber daya alam, dan mata pencaharian masyarakat, serta merefleksikan potensi ekonomi berbasis kearifan lokal di daerahnya secara kritis dan komunikatif.

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Melalui pengamatan tayangan visual interaktif pada Smart TV, peserta didik dapat mengidentifikasi jenis-jenis pekerjaan khas di bentang alam Sumba, Kota Mulia, Wonosobo, dan pemukiman Suku Bajo secara tepat.
  2. Melalui diskusi kelompok berbasis Cooperative Learning, peserta didik dapat menganalisis keterkaitan antara kondisi bentang alam dengan mata pencaharian masyarakat pada 4 studi kasus dengan kritis.
  3. Melalui pemetaan kearifan lokal, peserta didik dapat menghubungkan bentang alam di daerah Wringin Anom dengan potensi pekerjaan masyarakat sekitar secara terperinci.

PEMAHAMAN BERMAKNA

Mata pencaharian manusia tidak berdiri sendiri, melainkan hasil adaptasi aktif terhadap bentuk muka bumi dan ketersediaan sumber daya alam setempat. Memahami keterkaitan ini menumbuhkan rasa kebhinekaan, rasa bersyukur, serta kesadaran untuk memanfaatkan dan menjaga potensi bentang alam lokal demi kesejahteraan bersama.

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Mengapa masyarakat yang tinggal di wilayah pegunungan tinggi memiliki jenis pekerjaan yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di atas permukaan laut?
  2. Bagaimana warga Suku Bajo dapat menggantungkan hidupnya di perairan, sementara warga Kota Mulia bertahan hidup di dataran tinggi yang sangat dingin?
  3. Apa jenis bentang alam di sekitar Wringin Anom dan bagaimana hal tersebut memengaruhi pekerjaan orang tua atau masyarakat di sekitar kita?

PROFIL DAN KOMPETENSI YANG DIKEMBANGKAN

Profil Pelajar Pancasila

  1. Bernalar Kritis: Menganalisis sebab-akibat antara kondisi bentang alam dengan pencaharian penduduk.
  2. Gotong Royong: Bekerja sama secara kolaboratif dalam kelompok untuk menyelesaikan studi kasus.
  3. Berkebinekaan Global: Menghargai keberagaman adaptasi budaya dan mata pencaharian suku-suku di Indonesia.

Kompetensi Utama

  1. Kemampuan analisis spasial dan lingkungan.
  2. Keterampilan komunikasi dan presentasi visual.
  3. Kolaborasi dan penyelesaian masalah dalam kelompok.

MATERI PEMBELAJARAN

Bentang Alam dan Adaptasi Mata Pencaharian

Bentang alam adalah bentuk permukaan bumi yang terbentuk secara alami. Perbedaan suhu, curah hujan, ketinggian, dan ketersediaan air membentuk pola kehidupan dan mata pencaharian yang khas.

Studi Kasus 4 Wilayah Indonesia

  1. Padang Sabana Sumba (Nusa Tenggara Timur): Bentang alam berupa padang rumput luas beriklim cenderung kering. Mata pencaharian utama meliputi peternak kuda/sapi, petani jagung, dan pengrajin tenun ikat motif lokal.
  2. Dataran Tinggi Kota Mulia (Papua): Daerah puncak pegunungan yang sangat dingin dan terisolasi. Mata pencaharian berfokus pada pertanian sayur dan umbi-umbian tahan dingin, pembudidaya tanaman lokal, serta pedagang kebutuhan pokok.
  3. Dataran Tinggi Wonosobo (Jawa Tengah): Kawasan pegunungan subur berudara sejuk. Mata pencaharian didominasi oleh petani kentang, teh, hortikultura, serta pemandu wisata alam/pegunungan.
  4. Perairan Laut Suku Bajo (Sulawesi/Nusa Tenggara): Bentang alam pesisir dan laut lepas. Masyarakat tinggal di rumah panggung/perahu dan bekerja sebagai nelayan tangkap, pembudidaya teripang/rumput laut, dan pemandu wisata bahari.

Integrasi Kearifan Lokal Wringin Anom

Kondisi wilayah Wringin Anom yang didominasi dataran dengan potensi pertanian dan usaha lokal mengarahkan masyarakatnya pada sektor pertanian, perdagangan, dan pengolahan hasil bumi lokal.

MODEL DAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN

Model Pembelajaran

Cooperative Learning (Tipe Jigsaw Terstruktur). Setiap anggota kelompok menjadi ahli pada satu studi kasus wilayah (Sumba, Kota Mulia, Wonosobo, atau Suku Bajo), kemudian kembali ke kelompok asal untuk saling mengajari dan menyusun peta konsep gabungan.

Pendekatan Pembelajaran

Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) melalui tiga pilar inti:

  1. Mindful Learning: Mengajak siswa mengamati gambar visual dengan penuh perhatian dan kesadaran terhadap perbedaan kondisi alam.
  2. Meaningful Learning: Menghubungkan studi kasus nasional dengan fakta mata pencaharian lokal di Wringin Anom.
  3. Joyful Learning: Menggunakan permainan kuis visual interaktif, diskusi kelompok yang dinamis, dan presentasi kreatif.

ASESMEN

Asesmen Diagnostik (Awal)

Pengamatan langsung dan kuis visual cepat melalui Smart TV di awal pembelajaran untuk mengukur pemahaman awal siswa mengenai bentang alam dan pekerjaan.

Asesmen Formatif (Proses)

  1. Lembar Observasi Kinerja Diskusi Kelompok (Cooperative Learning).
  2. Penilaian Produk LKPD (Peta Konsep dan Analisis Studi Kasus).
  3. Penilaian Presentasi Kelompok.

Asesmen Sumatif (Akhir)

Tes tertulis berupa soal pilihan ganda berstruktur dan esai singkat analisis bentang alam pada akhir sesi.

RUBRIK PENILAIAN

Rubrik Penilaian Kognitif (Hasil Kerja LKPD dan Tes)

KategoriSkor 4 (Sangat Baik)Skor 3 (Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Perlu Bimbingan)
Pemahaman Bentang Alam dan PekerjaanMampu mengidentifikasi dan menjelaskan hubungan jenis pekerjaan dengan bentang alam pada 4 studi kasus dan wilayah lokal secara tepat dan detail.Mampu mengidentifikasi hubungan jenis pekerjaan dengan bentang alam pada 4 studi kasus secara tepat, namun analisis wilayah lokal kurang lengkap.Mengidentifikasi jenis pekerjaan pada 2-3 studi kasus dengan tepat, namun penjelasan hubungannya masih terbatas.Hanya mampu mengidentifikasi 1 studi kasus dan tidak dapat menjelaskan hubungannya.
Analisis Kearifan Lokal Wringin AnomMampu menganalisis potensi bentang alam lokal dan memberikan lebih dari 2 contoh pekerjaan yang relevan secara logis.Mampu menganalisis potensi bentang alam lokal dan memberikan 2 contoh pekerjaan yang relevan.Mampu memberikan 1 contoh pekerjaan lokal tetapi tidak dikaitkan dengan kondisi bentang alam.Belum mampu mengidentifikasi pekerjaan dan bentang alam di wilayah lokal.

Rubrik Penilaian Keterampilan (Presentasi dan Produk Visual)

KategoriSkor 4 (Sangat Baik)Skor 3 (Baik)Skor 2 (Cukup)Skor 1 (Perlu Bimbingan)
Kejelasan PenyampaianMenyampaikan hasil diskusi secara sangat jelas, runtut, percaya diri, dan memanfaatkan alat visual secara maksimal.Menyampaikan hasil diskusi secara jelas dan runtut dengan bantuan alat visual.Menyampaikan hasil diskusi secara cukup jelas tetapi kurang runtut dan masih ragu-ragu.Penyampaian tidak jelas, tidak runtut, dan membaca teks secara keseluruhan.
Kerjasama KelompokSeluruh anggota kelompok aktif berpartisipasi dan membagi tugas secara merata dalam Cooperative Learning.Sebagian besar anggota kelompok aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok.Hanya 1-2 anggota kelompok yang dominan, anggota lain kurang aktif.Anggota kelompok bekerja sendiri-sendiri tanpa interaksi yang terarah.

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Kegiatan Pendahuluan (10 Menit)

  1. Guru membuka pembelajaran dengan salam, berdoa bersama, dan mengecek kehadiran peserta didik.
  2. Guru melakukan kegiatan Mindful Learning: Peserta didik diminta memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu memikirkan suasana udara dingin di puncak gunung dan suara ombak di tengah laut.
  3. Guru menampilkan gambar apersepsi pada Smart TV yang memperlihatkan pemandangan Sumba, Kota Mulia, Wonosobo, dan rumah terapung Suku Bajo.
  4. Guru mengajukan pertanyaan pemantik untuk memancing minat dan menggali pengetahuan awal siswa.
  5. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, alokasi waktu, serta garis besar kegiatan Cooperative Learning yang akan dilakukan.

Kegiatan Inti (50 Menit)

Tahap 1: Pembentukan Kelompok Asal dan Eksplorasi Visual (10 Menit)

  1. Guru membagi peserta didik ke dalam kelompok asal yang heterogen (masing-masing 4 orang).
  2. Setiap anggota kelompok diberi nomor/peran sebagai ahli studi kasus:
    • Ahli 1: Padang Sabana Sumba
    • Ahli 2: Dataran Tinggi Kota Mulia
    • Ahli 3: Dataran Tinggi Wonosobo
    • Ahli 4: Perairan Laut Suku Bajo
  1. Guru menayangkan video singkat berdurasi 3 menit yang menampilkan keindahan dan aktivitas ekonomi di keempat wilayah tersebut melalui Smart TV (Joyful Learning).

Tahap 2: Diskusi Kelompok Ahli (15 Menit)

  1. Peserta didik berkumpul sesuai dengan nomor ahli yang sama (Kelompok Ahli Sumba, Kota Mulia, Wonosobo, dan Suku Bajo).
  2. Guru membagikan bahan bacaan berjenjang (Diferensiasi Konten) sesuai tingkat pemahaman siswa pada masing-masing kelompok ahli.
  3. Kelompok Ahli berdiskusi menganalisis artikel, mengidentifikasi kondisi alam, ketersediaan sumber daya, serta jenis pekerjaan yang berkembang.
  4. Kelompok Ahli mencatat poin-poin penting pada lembar kerja ahli.

Tahap 3: Diskusi Kelompok Asal dan Sintesis Kearifan Lokal (15 Menit)

  1. Peserta didik kembali ke kelompok asal masing-masing.
  2. Secara bergantian, tiap ahli menjelaskan hasil temuan studinya kepada rekan sekelompoknya secara visual dan lisan (Cooperative Learning).
  3. Setelah 4 studi kasus dipahami bersama, kelompok melangkah ke tahap Meaningful Learning: Menganalisis kondisi bentang alam dan potensi pekerjaan di daerah Wringin Anom.
  4. Kelompok menyusun peta konsep gabungan pada LKPD yang telah disediakan.

Tahap 4: Presentasi dan Evaluasi Interaktif (10 Menit)

  1. Dua kelompok perwakilan dipilih secara acak untuk mempresentasikan peta konsepnya di depan kelas menggunakan Smart TV sebagai media penampil visual.
  2. Kelompok lain memberikan tanggapan, pertanyaan, atau masukan apresiatif.
  3. Guru memberikan penguatan materi dan meluruskan konsep yang kurang tepat.

Kegiatan Penutup (10 Menit)

  1. Peserta didik bersama guru menyimpulkan pembelajaran tentang hubungan bentang alam dan pekerjaan.
  2. Peserta didik melakukan refleksi diri mengenai proses belajar yang telah dialami.
  3. Guru memberikan tes sumatif singkat berupa 5 soal pilihan ganda pada kertas lembaran.
  4. Guru memberikan apresiasi atas kerja sama seluruh kelompok.
  5. Pembelajaran ditutup dengan doa dan salam.

PENGALAMAN BELAJAR MENDALAM

Mindful Learning

Peserta didik diajak untuk menyadari sepenuhnya keberadaan diri mereka di lingkungan tempat tinggalnya saat ini, lalu membayangkan tantangan hidup dan pekerjaan masyarakat di daerah lain dengan kondisi iklim dan bentang alam yang sangat berbeda. Hal ini melatih empati dan kesadaran lingkungan.

Meaningful Learning

Materi tidak sekadar dihafal, melainkan dihubungkan langsung dengan realitas kehidupan sehari-hari di Wringin Anom. Peserta didik memahami mengapa orang tua atau tetangga mereka bekerja pada sektor tertentu, serta bagaimana kondisi tanah dan air setempat memengaruhinya.

Joyful Learning

Penggunaan media Smart TV dengan visual berwarna, dinamika gerak dari kelompok asal ke kelompok ahli dalam model Jigsaw, serta apresiasi bersama menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan bagi siswa bermodel belajar visual.

STRATEGI DIFERENSIASI

Diferensiasi Konten

Bahan bacaan artikel studi kasus disesuaikan dengan tingkat kesiapan belajar:

  1. Kelompok Mahir: Teks artikel naratif kompleks dilengkapi data geografis mendalam.
  2. Kelompok Sedang: Teks artikel naratif sedang dengan bantuan infografis dan poin-poin penting.
  3. Kelompok Perlu Bimbingan: Teks ringkas dengan dominasi gambar visual berlabel dan kosakata yang disederhanakan.

Diferensiasi Proses

  1. Kelompok Mahir bekerja mandiri memimpin diskusi.
  2. Kelompok Sedang diberikan instruksi pemandu berupa scaffolding pertanyaan berarah.
  3. Kelompok Perlu Bimbingan mendapatkan pendampingan langsung (direct instruction) oleh guru saat diskusi kelompok ahli.

Diferensiasi Produk

Kelompok diberi kebebasan memilih bentuk penyajian hasil pada LKPD: dapat berupa Peta Konsep Bergambar, Tabel Analisis Bergambar, atau Diagram Alur Sederhana sesuai dengan minat visual kelompok.

PEMANFAATAN TEKNOLOGI

  1. Smart TV: Digunakan untuk menayangkan gambar apersepsi beresolusi tinggi, video dokumenter pendek 4 wilayah, serta sebagai layar presentasi kelompok.
  2. Laptop Guru: Digunakan untuk mengoperasikan media pembelajaran interaktif berbasis slide visual dan mengelola jalannya pembelajaran.
  3. Akses Internet: Digunakan untuk mengunduh dan menyajikan data visual terbaru mengenai bentang alam dan aktivitas ekonomi Suku Bajo, Sumba, Kota Mulia, dan Wonosobo.

MEDIA DAN SUMBER BELAJAR

Media Pembelajaran

  1. Video Dokumenter Singkat (Sumba, Kota Mulia, Wonosobo, Suku Bajo).
  2. Slide Presentasi Visual Interaktif.
  3. Kartu Gambar Bentang Alam dan Jenis Pekerjaan.
  4. LKPD Berdiferensiasi.

Sumber Belajar

  1. Buku Siswa IPAS Kelas V Kurikulum Merdeka, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  2. Artikel Studi Kasus Geografis Indonesia.
  3. Lingkungan sekitar SD Negeri 1 Wringin Anom sebagai sumber belajar kearifan lokal.

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

LabelIsi
Nama Anggota Kelompok1. .................................................
2. .................................................
3. .................................................
4. .................................................
Kelas / FaseV (Lima) / C
Nomor Absen..... / ..... / ..... / .....
Tanggal.................................................

Judul Aktivitas

Menganalisis Hubungan Bentang Alam dengan Mata Pencaharian Masyarakat Indonesia dan Potensi Lokal Wringin Anom.

Petunjuk Kerja

  1. Pastikan setiap anggota telah membawa informasi dari Kelompok Ahli masing-masing.
  2. Isilah tabel analisis 4 wilayah di bawah ini secara berdiskusi!
  3. Diskusi bersama untuk menjawab bagian Kearifan Lokal Wringin Anom!
  4. Buatlah kesimpulan bersama pada bagian akhir!

Tabel Analisis Studi Kasus 4 Wilayah

Nama WilayahBentang AlamKondisi Iklim / AirJenis Pekerjaan Masyarakat
Sumba (NTT)Padang Sabana LuasKering, curah hujan rendah....................................................................
Kota Mulia (Papua)Dataran Tinggi / Puncak PegununganSANGAT dingin, sering kabut....................................................................
Wonosobo (Jawa Tengah)Dataran Tinggi / PegununganSejuk dan subur....................................................................
Suku BajoPerairan Laut / PesisirLautan luas, kaya sumber daya laut....................................................................

Analisis Kearifan Lokal Wringin Anom

  1. Bagaimana bentuk bentang alam utama yang ada di sekitar daerah Wringin Anom?

       Jawaban: ...............................................................................................................................................

  1. Sebutkan 3 jenis mata pencaharian yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat di sekitar Wringin Anom beserta alasannya!

       Jawaban: ...............................................................................................................................................

Kesimpulan Kelompok

Mengapa pekerjaan manusia berbeda-beda di setiap tempat?

Jawaban: ...............................................................................................................................................

REMEDIAL

Bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (skor sumatif di bawah 70):

  1. Diberikan bimbingan ulang secara individual atau dalam kelompok kecil.
  2. Menggunakan media konkret berupa "Kartu Pasangan Bentang Alam dan Pekerjaan" (memasangkan gambar rumah terapung Bajo dengan gambar nelayan, gambar sabana Sumba dengan gambar peternak, dll).
  3. Mengerjakan kembali soal latihan dasar terkait pengidentifikasian bentang alam sederhana.

PENGAYAAN

Bagi peserta didik yang telah melampaui kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (skor sumatif di atas 85):

  1. Diberikan tugas analisis studi kasus tambahan: "Bagaimana jika terjadi perubahan iklim ekstrem di wilayah Suku Bajo atau Wonosobo? Apa dampak yang mungkin terjadi pada mata pencaharian masyarakatnya?"
  2. Peserta didik diminta membuat poster imbauan singkat tentang pentingnya menjaga kelestarian bentang alam lokal di Wringin Anom agar mata pencaharian masyarakat tetap berkelanjutan.

REFLEKSI GURU

NoPertanyaan RefleksiHasil Evaluasi Guru
1Apakah seluruh peserta didik aktif mengikuti pembelajaran berbasis Cooperative Learning?Sebagian besar peserta didik sangat aktif, terutama saat diskusi kelompok ahli karena dibantu media visual di Smart TV.
2Apakah pembagian artikel berdiferensiasi membantu siswa yang membutuhkan bimbingan?Ya, artikel bergambar sangat membantu siswa di kelompok perlu bimbingan memahami materi tanpa merasa berkecil hati.
3Kendala apa yang dihadapi selama proses pembelajaran berlangsung?Pengaturan waktu dari kelompok ahli kembali ke kelompok asal membutuhkan waktu sedikit lebih lama dari rencana.
4Langkah perbaikan apa yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya?Memberikan penanda waktu (timer) visual pada Smart TV agar transisi antar kelompok berjalan lebih tepat waktu.

REFLEKSI PESERTA DIDIK

NoPertanyaan RefleksiJawaban Peserta Didik
1Bagian mana dari pembelajaran hari ini yang paling kamu sukai?Saat melihat video rumah Suku Bajo di Smart TV dan berdiskusi dengan teman kelompok ahli.
2Apa hal baru yang kamu pelajari tentang pekerjaan masyarakat di Indonesia?Ternyata suku Bajo hidup di atas laut dan orang di Kota Mulia harus memakai jaket tebal saat berkebun karena dingin sekali.
3Apakah kamu semakin memahami pekerjaan orang-orang di sekitar Wringin Anom?Ya, saya tahu mengapa di daerah kita banyak petani karena tanahnya dataran dan subur.
4Apa yang masih membuatmu bingung pada materi hari ini?Tidak ada, semua materi sangat jelas karena ada gambarnya.

BAHAN BACAAN

Keberagaman Bentang Alam dan Mata Pencaharian di Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman bentuk permukaan bumi atau bentang alam. Bentang alam mencakup dataran rendah, dataran tinggi, pegunungan, lembah, sungai, hingga perairan laut. Perbedaan bentang alam ini memengaruhi suhu udara, ketersediaan air, dan jenis tanaman yang dapat tumbuh, yang pada akhirnya memengaruhi mata pencaharian masyarakatnya.

Di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, bentang alam didominasi oleh padang rumput atau sabana yang luas. Karakteristik iklim yang cenderung kering membuat masyarakat Sumba banyak memanfaatkan padang rumput untuk berternak hewan seperti kuda dan sapi, serta bertani tanaman pangan tahan kering seperti jagung.

Di Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, bentang alamnya merupakan dataran tinggi dan lembah yang dikelilingi pegunungan terjal. Berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, udara di sini sangat dingin. Masyarakatnya beradaptasi dengan berkebun umbi-umbian, sayuran dingin, dan berdagang.

Di Wonosobo, Jawa Tengah, bentang alam pegunungan berudara sejuk dan bernah tanah vulkanik yang subur. Kondisi ini dimanfaatkan warga untuk menjadi petani kentang, teh, hortikultura, serta mengelola sektor pariwisata alam.

Sementara itu, Suku Bajo yang tersebar di wilayah perairan Indonesia, seperti Sulawesi dan Nusa Tenggara, memiliki cara hidup yang unik. Mereka membangun pemukiman di atas air laut dan pesisir. Mata pencaharian utama mereka bergantung penuh pada laut, seperti nelayan, pembudidaya rumput laut, dan pemandu wisata bahari.

Di daerah kita, Wringin Anom, bentang alam yang ada juga menentukan bagaimana masyarakatnya bekerja. Sebagian besar wilayah berupa dataran yang dimanfaatkan untuk sektor pertanian dan usaha-usaha lokal pendukung.

GLOSARIUM

  1. Bentang Alam: Ciri fisik permukaan bumi yang terbentuk secara alami, seperti gunung, pegunungan, dataran tinggi, dataran rendah, dan laut.
  2. Sabana: Padang rumput yang diselingi oleh pohon-pohon keras, umumnya berada di daerah beriklim agak kering.
  3. Suku Bajo: Suku bangsa di Indonesia yang dikenal sebagai pengembara laut dan tinggal di daerah pesisir atau atas permukaan air laut.
  4. Adaptasi Geografis: Penyesuaian diri manusia, baik gaya hidup maupun mata pencaharian, terhadap kondisi alam lingkungan sekitarnya.
  5. Kearifan Lokal: Gagasan, nilai, atau potensi khas suatu daerah yang bijaksana dan diikuti oleh masyarakat setempat secara turun-temurun.
  6. Cooperative Learning: Model pembelajaran gotong royong di mana peserta didik bekerja sama dalam kelompok kecil untuk saling membantu memahami materi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. (2022). Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) Fase C. Jakarta: Kemendikbudristek.
  2. Fitri, A., dkk. (2021). Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk SD Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek.
  3. Fitri, A., dkk. (2021). Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial untuk SD Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek.

LAMPIRAN

Lembar Observasi Penilaian Sikap dan Keterampilan

NoAspek yang DinilaiKriteria SkorSkor
1Bernalar KritisSkor 4: Sangat aktif mengajukan pertanyaan analitis dan mampu mengaitkan bentang alam dengan pekerjaan tanpa bantuan.
Skor 3: Mampu mengaitkan bentang alam dengan pekerjaan dengan sedikit dorongan guru.
Skor 2: Membutuhkan petunjuk berulang untuk menghubungkan bentang alam dan pekerjaan.
Skor 1: Belum menunjukkan kemampuan penalaran kritis meskipun telah dibimbing.
2Gotong Royong / KolaborasiSkor 4: Sangat aktif membantu rekan kelompok, membagi tugas dengan adil, dan menghargai pendapat teman.
Skor 3: Bekerja sama dengan baik dalam kelompok dan menyelesaikan tugas kelompoknya.
Skor 2: Kurang aktif berpartisipasi dan sesekali sibuk dengan kegiatan sendiri.
Skor 1: Tidak mau bekerja sama dan mengganggu dinamika kelompok.
3Keterampilan Presentasi VisualSkor 4: Menyampaikan materi dengan sangat percaya diri, artikulasi jelas, serta memanfaatkan media visual secara maksimal.
Skor 3: Menyampaikan materi dengan jelas dan menggunakan media visual seperlunya.
Skor 2: Menyampaikan materi dengan ragu-ragu dan kurang memanfaatkan media visual.
Skor 1: Tidak berani berbicara di depan kelas dan hanya berdiri diam.
4Pemahaman Kearifan LokalSkor 4: Mampu mengidentifikasi bentang alam Wringin Anom dan memberikan lebih dari 2 contoh pekerjaan yang sangat relevan.
Skor 3: Mampu mengidentifikasi bentang alam Wringin Anom dan memberikan 2 contoh pekerjaan lokal.
Skor 2: Mampu menyebutkan contoh pekerjaan lokal tetapi keliru mengidentifikasi bentang alamnya.
Skor 1: Belum mampu menyebutkan contoh pekerjaan lokal dan bentang alamnya.
 
Mengetahui,
Kepala Sekolah,
Sri Anggriyani, S.Pd.
NIP. 198004152008012016
 
Situbondo, ___________2026
Guru Kelas,
Didik Sadi, S.Pd.
NIP. 198406162025211130