IDENTITAS MODUL
| Satuan Pendidikan | : | SD Negeri 1 Wringin Anom |
| Nama Guru | : | Didik Sadi, S.Pd. |
| Mata Pelajaran | : | Bahasa Indonesia |
| Kelas / Fase | : | Kelas V / C |
| Semester / Tahun Pelajaran | : | Ganjil / 2026/2027 |
| Alokasi Waktu | : | 3 x 35 menit (1 Pertemuan) |
| Materi / Topik | : | Membaca teks narasi sejarah lokal NTB tentang tokoh Heo dan letusan Gunung Tambora. |
| Elemen Capaian Pembelajaran | : | Membaca dan Memirsa |
| Model Pembelajaran | : | Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) |
| Pendekatan Pembelajaran | : | Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) / Culturally Responsive Teaching (CRT) |
| Integrasi Lokal dan Diferensiasi | : | Diferensiasi konten (bantuan audio/visual). Kearifan Lokal: Bencana sejarah Gunung Tambora (NTB). |
ANALISIS AWAL PEMBELAJARAN
Profil Peserta Didik
Peserta didik kelas V SD Negeri 1 Wringin Anom berjumlah 28 anak dengan dominasi gaya belajar visual. Mereka bersemangat ketika disajikan tayangan bergambar, infografis, maupun video ilustrasi interaktif. Peserta didik memiliki ketertarikan tinggi pada cerita-cerita petualangan dan tokoh pahlawan lokal, namun sebagian masih membutuhkan bimbingan dalam memahami kosakata sejarah serta menarik kesimpulan tersirat dari teks narasi yang cukup panjang.
Pengetahuan Awal
- Peserta didik telah mengenal unsur-unsur dasar teks narasi (tokoh, latar, alur, amanat).
- Peserta didik secara umum mengetahui bahwa gunung berapi dapat meletus, namun belum memahami latar belakang sejarah letusan dahsyat Gunung Tambora tahun 1815 dan nilai-nilai ketangguhan lokal di balik peristiwa tersebut.
Tantangan Pembelajaran
- Menghubungkan teks sejarah lokal NTB dengan kehidupan sehari-hari peserta didik di Jawa Timur agar terbangun rasa empati dan pemahaman lintas budaya.
- Membimbing peserta didik yang berkemampuan membaca sedang hingga lambat agar mampu mengekstrak nilai watak pantang menyerah tokoh Heo tanpa merasa terbebani teks yang panjang.
CAPAIAN PEMBELAJARAN
Peserta didik mampu memahami informasi dari bacaan dan tayangan yang dipirsa tentang diri dan lingkungan, narasi imajinatif, dan puisi anak. Peserta didik mampu mengidentifikasi karakter pantang menyerah tokoh Heo dalam latar sejarah letusan Gunung Tambora serta memaknai kosakata baru dari teks narasi sejarah lokal Nusa Tenggara Barat (NTB) secara kritis dan refleksif.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Utama
Melalui model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) berpendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), peserta didik dapat menganalisis watak pantang menyerah tokoh Heo serta merekonstruksi alur peristiwa sejarah letusan Gunung Tambora secara kritis, berkolaborasi, dan bermakna.
Indikator Pencapaian Tujuan Pembelajaran (IPTP)
- Peserta didik mampu menemukan sedikitnya 3 kosakata baru terkait sejarah/bencana beserta maknanya dari teks narasi sejarah lokal.
- Peserta didik mampu mengidentifikasi bukti-bukti perilaku yang menunjukkan karakter pantang menyerah tokoh Heo dalam teks bacaan.
- Peserta didik mampu menyusun kembali urutan alur peristiwa penting meletusnya Gunung Tambora dan perjuangan tokoh Heo bersama kelompoknya secara kooperatif.
- Peserta didik mampu merefleksikan nilai ketangguhan tokoh Heo ke dalam situasi kehidupan sehari-hari secara lisan maupun tertulis.
PEMAHAMAN BERMAKNA
Sejarah lokal bukan sekadar rekaman bencana di masa lalu, melainkan warisan nilai ketangguhan jiwa manusia. Melalui kisah tokoh Heo pada peristiwa letusan Gunung Tambora tahun 1815, kita belajar bahwa di tengah cobaan alam yang paling dahsyat sekalipun, sikap pantang menyerah, kesetiakawanan, dan optimisme akan menjadi pendorong utama untuk bertahan hidup dan bangkit kembali.
PERTANYAAN PEMANTIK
- Pernahkah kalian mengalami masa sulit atau bencana, dan apa yang membuat kalian tetap bertahan serta tidak menyerah?
- Bagaimana perasaan masyarakat di Pulau Sumbawa ketika Gunung Tambora meletus secara dahsyat ratusan tahun yang lalu?
- Sifat apa saja yang ditunjukkan oleh tokoh Heo ketika menghadapi kehancuran akibat letusan gunung berapi?
- Mengapa kisah perjuangan tokoh Heo pada masa lalu penting untuk kita pelajari saat ini?
PROFIL DAN KOMPETENSI YANG DIKEMBANGKAN
Profil Pelajar Pancasila
- Bernalar Kritis: Menganalisis informasi tersurat dan tersirat dalam teks narasi sejarah serta mengidentifikasi watak tokoh.
- Gotong Royong: Bekerja sama secara aktif dalam kelompok heterogen melalui sintaks CIRC untuk menyelesaikan tugas membaca dan merangkum.
- Mandiri: Mengelola emosi, menunjukkan tanggung jawab pribadi saat mengerjakan tugas individu dan merefleksikan pembelajaran.
- Berkebinekaan Global: Menghargai dan mempelajari sejarah serta kearifan lokal dari daerah lain (NTB) sebagai bagian dari kekayaan bangsa Indonesia.
Kompetensi Abad 21 (4C)
- Critical Thinking: Menganalisis sebab-akibat letusan gunung dan tindakan yang diambil tokoh Heo.
- Collaboration: Saling memeriksa, mendiskusikan gagasan, dan menyusun ringkasan kelompok.
- Communication: Mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas dengan bahasa yang santun dan jelas.
- Creativity: Menyusun kembali cerita dalam bentuk peta pikiran visual atau diagram alur yang menarik.
MATERI PEMBELAJARAN
Teks Narasi Sejarah Lokal NTB
Teks narasi berjudul "Heo dan Ketangguhan di Bawah Bayangan Gunung Tambora". Teks menceritakan tentang pemuda bernama Heo dari Kerajaan Pekat yang hidup di kaki Gunung Tambora pada April 1815. Ketika gunung meletus dahsyat, Heo menunjukkan keberanian dan sikap pantang menyerah dengan menyelamatkan adiknya dan warga desa dari hujan abu serta gelombang pasang, serta memimpin warga membangun permukiman baru pascabencana.
Unsur-Unsur Pembentuk Teks Narasi Sejarah
- Tokoh dan Penokohan: Tokoh utama (Heo - bijaksana, berani, pantang menyerah) dan tokoh pendukung.
- Latar: Latar tempat (Kaki Gunung Tambora, Kerajaan Pekat, Pulau Sumbawa NTB), Latar waktu (April 1815), Latar suasana (mencekam, haru, penuh perjuangan).
- Alur Peristiwa: Awal (keadaan sebelum letusan), Konflik (letusan dahsyat dan penyelamatan), Penyesuaian/Puncak (perjuangan bertahan di tengah kegelapan abu), Penyelesaian (bangkit membangun desa baru).
- Kosakata Khusus/Istilah Sejarah: Erupsi, detonasik, hujan abu, pengungsian, kearifan lokal, penyintas.
MODEL DAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN
Model Pembelajaran
Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) yang memadukan kegiatan membaca pemahaman secara kooperatif, diskusi kelompok berpasangan, saling mengoreksi, dan penulisan ringkasan bersama.
Pendekatan Pembelajaran
Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) melalui 3 elemen utama:
- Mindful Learning (Pembelajaran Sadar/Penuh Perhatian): Mendorong siswa fokus mengamati gambar visual, mendengarkan narasi, dan menyadari emosi tokoh Heo.
- Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna): Mengaitkan nilai ketangguhan tokoh Heo dengan pengalaman pribadi siswa saat menghadapi kesulitan.
- Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan): Penggunaan media Smart TV, gim interaktif kosakata, dan metode belajar berpasangan yang komunikatif.
ASESMEN
Asesmen Awal (Diagnostik)
- Asesmen Diagnostik Non-Kognitif: Menanyakan perasaan siswa dan gaya belajar favorit melalui lembar emotikon visual.
- Asesmen Diagnostik Kognitif: Tanya jawab singkat menggunakan 2 pertanyaan pemantik tentang letusan gunung berapi dan watak pahlawan.
Asesmen Formatif (Proses)
- Lembar Observasi Sikap Berpikir Kritis dan Gotong Royong selama proses CIRC.
- Penilaian Kinerja Keterampilan Membaca dan Berdiskusi Berpasangan (CIRC).
- Hasil Peta Pikiran/Diagram Alur Cerita Kelompok (LKPD Kelompok).
Asesmen Sumatif (Akhir)
Tes tertulis berupa soal esai singkat pada LKPD Individu untuk mengukur pemahaman isi bacaan, analisis watak tokoh Heo, dan makna kosakata baru.
RUBRIK PENILAIAN
Rubrik Penilaian Sikap (Profil Pelajar Pancasila)
| No | Aspek yang Dinilai | Kriteria Skor | Skor |
|---|---|---|---|
| 1 | Bernalar Kritis | Skor 4: Sangat aktif menganalisis watak tokoh dan mampu menghubungkan latar belakang sejarah dengan tindakan tokoh secara logis tanpa bimbingan. Skor 3: Aktif menganalisis watak tokoh dan bukti bacaan dengan sedikit bimbingan guru. Skor 2: Membutuhkan bimbingan intensif untuk menemukan bukti watak tokoh dalam teks. Skor 1: Belum mampu menganalisis watak tokoh meskipun telah dibimbing. | |
| 2 | Gotong Royong | Skor 4: Sangat kooperatif, menghargai pendapat teman, dan membantu pasangan kelompok yang kesulitan secara aktif. Skor 3: Bekerja sama dengan baik dalam kelompok dan menyelesaikan tugas bersama. Skor 2: Kurang aktif dalam kelompok dan terkadang pasif dalam diskusi. Skor 1: Tidak mau bekerja sama dan mengganggu jalannya diskusi kelompok. |
Rubrik Penilaian Keterampilan Diskusi dan Membaca (CIRC)
| No | Aspek yang Dinilai | Kriteria Skor | Skor |
|---|---|---|---|
| 1 | Membaca Nyaring & Pemahaman | Skor 4: Membaca teks dengan intonasi tepat, artikulasi jelas, serta memahami seluruh gagasan utama dan pendukung. Skor 3: Membaca dengan lancar, intonasi cukup tepat, dan memahami sebagian besar isi bacaan. Skor 2: Membaca kurang lancar, beberapa kali tersendat, dan memahami sedikit isi bacaan. Skor 1: Membaca sangat lambat, tidak mengeja dengan tepat, dan tidak memahami isi bacaan. | |
| 2 | Penyusunan Peta Alur Cerita | Skor 4: Peta alur memuat peristiwa awal, konflik letusan, aksi tokoh Heo, dan akhir cerita secara sangat runtut dan sistematis. Skor 3: Peta alur memuat bagian penting cerita dengan urutan yang cukup runtut. Skor 2: Peta alur kurang lengkap dan terdapat kesalahan urutan peristiwa. Skor 1: Peta alur tidak runtut dan banyak informasi penting yang terlewatkan. |
Rubrik Penilaian Pengetahuan (LKPD Individu)
| No | Aspek yang Dinilai | Kriteria Skor | Skor |
|---|---|---|---|
| 1 | Identifikasi Watak Pantang Menyerah | Skor 4: Mampu menyebutkan karakter pantang menyerah tokoh Heo disertai 3 bukti kalimat/tindakan dalam teks secara tepat. Skor 3: Mampu menyebutkan karakter tokoh Heo disertai 2 bukti tindakan dalam teks. Skor 2: Menyebutkan karakter tokoh Heo tetapi hanya mencantumkan 1 bukti yang kurang tepat. Skor 1: Tidak mampu mengidentifikasi karakter maupun bukti tindakan tokoh Heo. | |
| 2 | Pemahaman Kosakata Baru | Skor 4: Mampu mengartikan 4 kosakata baru terkait tema sejarah/bencana dan menggunakannya dalam kalimat baru dengan benar. Skor 3: Mampu mengartikan 3 kosakata baru dan menggunakannya dalam kalimat baru. Skor 2: Mampu mengartikan 2 kosakata baru namun belum tepat menggunakan dalam kalimat. Skor 1: Tidak mampu mengartikan kosakata baru yang disajikan. |
LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Kegiatan Awal (15 Menit)
- Pembukaan Bermakna (Mindful Opening):
Guru menyapa peserta didik dengan hangat, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran.
- Pengkondisian Kesadaran (Mindfulness):
Guru mengajak peserta didik melakukan latihan napas pendek (STOP: Stop, Take a breath, Observe, Proceed) untuk memfokuskan pikiran.
- Apersepsi dan Pengenalan Konteks Visual (CRT & Visual Support):
Guru menampilkan slide Smart TV yang menunjukkan ilustrasi Gunung Tambora sebelum dan sesudah meletus tahun 1815 serta letak geografis Nusa Tenggara Barat (NTB) pada peta Indonesia.
- Guru mengajukan Pertanyaan Pemantik untuk membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik.
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, alur kegiatan CIRC, dan aspek penilaian yang akan dilakukan.
Kegiatan Inti (75 Menit)
Fase 1: Orientasi Teks dan Konteks (15 Menit) - Mindful & Meaningful Learning
- Guru memberikan pengantar singkat mengenai peristiwa bersejarah letusan Gunung Tambora tahun 1815 sebagai salah satu letusan gunung terhebat dalam sejarah dunia.
- Guru memutar klip audio-visual pendek (2-3 menit) yang merekonstruksi visual abu vulkanik dan keindahan NTB untuk mengakomodasi peserta didik bergaya belajar visual.
- Guru membagikan teks narasi sejarah "Heo dan Ketangguhan di Bawah Bayangan Gunung Tambora".
Fase 2: Pengorganisasian Kelompok Berpasangan (10 Menit)
- Guru membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok kooperatif beranggotakan 4 orang. Di dalam kelompok tersebut, peserta didik dibagi lagi menjadi berpasangan (Pasangan A dan Pasangan B).
- Pembentukan kelompok memperhatikan heterogenitas kemampuan membaca (kombinasi siswa mahir dan siswa yang membutuhkan bimbingan).
Fase 3: Membaca Berpasangan dan Menemukan Kosakata (15 Menit) - CIRC Step
- Setiap pasangan membaca bergantian paragraph demi paragraph dari teks narasi sejarah. Pasangan satu membaca nyaring dengan intonasi yang sesuai, sedangkan pasangan lain menyimak dan mencatat kosakata baru atau hal menarik.
- Pasangan mendiskusikan kosakata sulit yang ditemukan (misalnya: erupsi, detonasik, penyintas, hampa, vegetasi) dan mencocokkan maknanya menggunakan daftar glosarium/bantuan tayangan visual di Smart TV.
Fase 4: Analisis Tokoh dan Penyusunan Peta Alur (20 Menit) - Deep Learning (Critical Thinking & Collaboration)
- Peserta didik dalam kelompok berdiskusi untuk menganalisis tindakan tokoh Heo yang menunjukkan sifat pantang menyerah.
- Masing-masing kelompok menyusun Peta Alur Cerita (Graphic Organizer) yang mencakup:
- Kondisi sebelum meletus.
- Kejadian saat letusan Gunung Tambora.
- Tindakan penyelamatan tokoh Heo.
- Usaha Heo membangkitkan harapan warga desa.
- Guru berkeliling memberikan scaffolds (bimbingan bertahap) terutama pada kelompok yang membutuhkan diferensiasi konten/proses.
Fase 5: Saling Memeriksa dan Presentasi Kelompok (15 Menit) - Joyful Learning
- Pasangan A memeriksa hasil peta alur Pasangan B dalam satu kelompok, memberikan masukan konstruktif.
- Dua kelompok dipilih secara acak (atau sukarela) untuk mempresentasikan hasil Peta Alur Cerita dan analisis karakter Heo di depan kelas menggunakan Smart TV.
- Kelompok lain menyimak dan memberikan tanggapan positif atau pertanyaan apresiatif.
Kegiatan Penutup (15 Menit)
- Rangkuman & Merayakan Pembelajaran (Joyful & Meaningful Closure):
Guru bersama peserta didik menyimpulkan pesan moral dari kisah perjuangan Heo dalam sejarah letusan Gunung Tambora.
- Refleksi Pembelajaran Mendalam:
Peserta didik menjawab pertanyaan refleksi: "Sifat tokoh Heo mana yang paling ingin kamu tiru saat kamu menghadapi hal sulit di sekolah atau rumah?"
- Asesmen Pengetahuan Individu:
Peserta didik mengerjakan lembar evaluasi singkat pada LKPD Individu secara mandiri.
- Guru memberikan umpan balik, mengapresiasi kerja sama kelompok, dan menutup pembelajaran dengan doa bersama serta salam.
PENGALAMAN BELAJAR MENDALAM
Mindful Learning (Pembelajaran Sadar)
Peserta didik diajak secara sadar menghayati perasaan tokoh Heo melalui kegiatan membaca intensif dan visualisasi keadaan darurat saat meletusnya Gunung Tambora tahun 1815. Peserta didik disadarkan bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, melainkan bertindak tepat meskipun merasa takut.
Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)
Peserta didik tidak sekadar menghafal tahun kejadian bencana Gunung Tambora, melainkan menghubungkan nilai moral ketangguhan (resilience) tokoh Heo dengan dinamika kehidupan nyata mereka sendiri. Mereka mendiskusikan bagaimana sikap pantang menyerah dapat diterapkan dalam menyelesaikan tugas sekolah yang sulit atau bangkit dari kegagalan.
Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan)
Proses membaca dibuat interaktif melalui metode membaca berpasangan (paired reading), pembuatan peta pikiran berwarna-warni, serta apresiasi berupa tepuk ketangguhan dan pemberian bintang prestasi bagi kelompok yang berkolaborasi dengan baik.
STRATEGI DIFERENSIASI
Diferensiasi Konten
- Bagi peserta didik visual: Disediakan lembar teks yang dilengkapi ilustrasi gambar alur peristiwa letusan Gunung Tambora serta bagan bergambar.
- Bagi peserta didik audio-visual: Disediakan tayangan video/audio narasi peristiwa letusan Gunung Tambora yang disajikan melalui Smart TV.
- Bagi peserta didik dengan kemampuan membaca cepat: Diberikan teks narasi versi lengkap dengan tambahan data sejarah dampak letusan Tambora bagi dunia.
Diferensiasi Proses
- Peserta didik berkemampuan tinggi dibimbing untuk menjadi tutur sebaya (peer tutor) bagi pasangannya saat menganalisis informasi tersirat.
- Peserta didik yang membutuhkan bimbingan ekstra mendapatkan pendampingan langsung (scaffolding) dari guru dalam mengidentifikasi kata kunci dan watak tokoh.
Diferensiasi Produk
- Kelompok dapat memilih bentuk penyajian hasil diskusi alur cerita dan watak tokoh Heo: berupa Peta Pikiran Visual, Komik Sederhana 4 Panel, atau Peta Konsep Tabel.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI
- Smart TV: Menampilkan slide presentasi interaktif, materi visual peta Sumbawa-NTB, ilustrasiletusan Gunung Tambora 1815, dan pemutaran media audio-visual pendukung.
- Laptop Guru: Mengelola tayangan multimedia, instrumen penilaian digital, dan media pembelajaran interaktif.
- Internet: Mengakses sumber bacaan digital kearifan lokal NTB dan gambar arsip sejarah letusan Tambora dari museum online.
MEDIA DAN SUMBER BELAJAR
Media Pembelajaran
- Video/Audio Animasi Singkat tentang Sejarah Letusan Gunung Tambora 1815.
- Slide Presentasi Canva/PowerPoint tentang Unsur Narasi dan Profil Tokoh Heo.
- Papan Peta Pikiran Visual (Graphic Organizer) dan Alat Tulis Warna.
- Kartu Kosakata Sejarah (Vocabulary Cards).
Sumber Belajar
- Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia Kelas V Kurikulum Merdeka, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Teks Narasi Sejarah Lokal NTB: "Heo dan Ketangguhan di Bawah Bayangan Gunung Tambora" (Disusun oleh Guru).
- Artikel Kebudayaan dan Sejarah Bencana NTB, Pusat Pusat Kebudayaan Nusa Tenggara Barat.
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)
Identitas Peserta Didik
| Label | Isi |
|---|---|
| Nama Peserta Didik / Kelompok | |
| Kelas / No. Absen | |
| Tanggal |
Petunjuk Kerja LKPD
- Bacalah teks narasi sejarah "Heo dan Ketangguhan di Bawah Bayangan Gunung Tambora" bersama pasangan kelompokmu.
- Lingkari kosakata baru yang belum kamu pahami dan carilah artinya bersama kelompok.
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan analisis karakter dan alur cerita di bawah ini.
- Lengkapilah Grafik Organiser Peta Alur Peristiwa bersama kelompokmu secara kreatif.
Bagian A: Menemukan Kosakata Sejarah
Jodohkanlah kosakata di kolom kiri dengan arti yang tepat di kolom kanan!
- Erupsi - ( ... )
- Penyintas - ( ... )
- Detonasi - ( ... )
- Evakuasi - ( ... )
Pilihan Arti:
A. Orang yang berhasil selamat dari bencana alam atau peristiwa berbahaya.
B. Peledakan atau letusan yang sangat keras dan cepat.
C. Proses pemindahan penduduk dari daerah berbahaya ke tempat yang aman.
D. Peristiwa pelepasan material gunung berapi seperti gas, abu, dan lahar.
Bagian B: Analisis Character Tokoh Heo
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jelas berdasarkan bacaan!
- Siapakah tokoh Heo dan di mana tempat tinggalnya sebelum Gunung Tambora meletus?
Jawab:
- Tuliskan 3 tindakan nyata yang dilakukan tokoh Heo saat Gunung Tambora meletus yang membuktikan bahwa ia memiliki sifat pantang menyerah!
Jawab:
a.
b.
c.
- Mengapa Heo tidak langsung melarikan diri sendirian saat melihat langit mulai gelap dan tertutup abu vulkanik?
Jawab:
- Nilai kebaikan apa yang bisa kamu pelajari dari perjuangan tokoh Heo untuk kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah?
Jawab:
Bagian C: Peta Alur Cerita Kelompok (Graphic Organizer)
Isilah bagan alur peristiwa di bawah ini bersama kelompokmu!
- PERISTIWA AWAL (Kondisi desa Heo sebelum meletus):
- KONFLIK UTAMA (Saat Gunung Tambora meletus dahsyat):
- PERJUANGAN TOKOH HEO (Tindakan pantang menyerah):
- PENYELESAIAN (Keadaan desa baru dan harapan masa depan):
REMEDIAL
Kegiatan remedial diperuntukkan bagi peserta didik yang belum mencapai Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP).
- Bentuk Kegiatan: Bimbingan perorangan atau kelompok kecil (2-3 siswa).
- Materi Remedial: Penyederhanaan teks bacaan narasi Heo menjadi 3 paragraf pendek dengan highlight kata kunci.
- Tugas Remedial: Peserta didik dibimbing menentukan 1 watak utama tokoh Heo beserta 1 bukti tindakan dalam cerita menggunakan kartu gambar pemandu.
PENGAYAAN
Kegiatan pengayaan diperuntukkan bagi peserta didik yang telah melampaui Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP).
- Bentuk Kegiatan: Tugas mandiri berbasis proyek literasi digital/kreatif.
- Materi Pengayaan: Mengakses sumber bacaan singkat tentang dampak letusan Gunung Tambora terhadap iklim dunia tahun 1816 (Year Without a Summer).
- Tugas Pengayaan: Membuat poster digital/manual berisi ajakan memiliki jiwa pantang menyerah seperti Heo atau menuliskan refleksi kritis sepanjang 2 paragraf mengenai pentingnya menjaga kearifan lokal dalam menghadapi bencana alam.
REFLEKSI GURU
| No | Pertanyaan Refleksi Guru | Hasil Refleksi / Catatan Guru |
|---|---|---|
| 1 | Apakah alokasi waktu 3 x 35 menit cukup untuk menjalankan seluruh sintaks CIRC dan Deep Learning? | Alokasi waktu berjalan dengan cukup baik, namun pada fase presentasi kelompok perlu dipercepat agar refleksi penutup memiliki waktu lebih longgar. |
| 2 | Apakah media Smart TV dan tayangan visual mampu meningkatkan pemahaman siswa visual terhadap latar sejarah NTB? | Tayangan visual sangat efektif membangkitkan empati dan mempermudah siswa memahami konteks bencana sejarah Tambora. |
| 3 | Bagaimana partisipasi siswa yang membutuhkan bimbingan saat kegiatan membaca berpasangan? | Siswa yang membutuhkan bimbingan terbantu oleh teman pasangannya (peer tutor), namun guru tetap harus hadir memberikan dorongan pada paragraf awal. |
| 4 | Apakah seluruh siswa berhasil menemukan bukti watak pantang menyerah tokoh Heo dalam teks? | Sebagian besar siswa (sekitar 85%) berhasil menemukan minimal 2 bukti tindakan pantang menyerah tokoh Heo dengan tepat. |
| 5 | Perbaikan apa yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya? | Menyiapkan lembar kerja visual dengan ruang menggambar diagram alur yang lebih luas agar kreativitas peserta didik lebih terwadahi. |
REFLEKSI PESERTA DIDIK
| No | Pertanyaan Refleksi Peserta Didik | Tanggapan / Perasaan Saya |
|---|---|---|
| 1 | Bagian mana dari cerita tokoh Heo yang paling kamu sukai dan membuatmu tersentuh? | Saat Heo tetap menuntun adiknya dan warga desa di tengah kegelapan abu vulkanik tanpa putus asa. |
| 2 | Apakah kegiatan membaca berpasangan bersama temanmu menyenangkan dan membantumu memahami isi cerita? | Sangat menyenangkan karena saya bisa saling bertanya kata-kata sulit dengan teman pasangan saya. |
| 3 | Sifat pantang menyerah apa dari tokoh Heo yang ingin kamu contoh saat menghadapi pelajaran atau tugas yang sulit? | Sifat tidak mudah menyerah dan mau berusaha mencari jalan keluar saat menghadapi masalah. |
| 4 | Apakah tayangan gambar dan video di Smart TV membantumu membayangkan letusan Gunung Tambora pada masa lalu? | Ya, tayangan gambar membuat saya mengerti betapa dahsyatnya letusan gunung dan betapa beraninya Heo. |
BAHAN BACAAN
Heo dan Ketangguhan di Bawah Bayangan Gunung Tambora
Oleh: Didik Sadi, S.Pd.
Pada suatu masa di awal bulan April tahun 1815, matahari bersinar hangat di atas Kerajaan Pekat, sebuah wilayah subur yang terletak di kaki Gunung Tambora, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Heo bersama adiknya, Rinjani. Heo dikenal sebagai pemuda yang rajin, penyayang keluarga, dan memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Pada tanggal 5 April 1815, bumi di kaki Gunung Tambora mulai bergetar hebat. Suara guruh yang sangat dahsyat menggelegar dari puncak gunung. Puncaknya terjadi pada tanggal 10 April 1815, ketika Gunung Tambora meletus secara dahsyat. Erupsi besar melontarkan jutaan ton abu vulkanik, batu, dan gas panas melambung tinggi menutupi angkasa. Dalam seketika, siang hari yang cerah berubah menjadi malam yang gelap gulita. Hujan abu dan batu melanda permukiman warga.
Kepanikan melanda seluruh penjuru desa. Orang-orang berlarian tanpa arah di tengah kegelapan yang mencekam. Dalam situasi darurat tersebut, Heo tidak mementingkan dirinya sendiri. Dengan cekatan, ia merangkul adiknya dan menuntun beberapa tetangga lanjut usia yang terjebak di dalam rumah. Suasana sangat sulit karena udara terasa menyesakkan akibat abu tebal. Banyak orang yang hampir putus asa dan hendak menyerah di tepi jalan.
Namun, Heo memiliki jiwa yang sangat pantang menyerah. "Jangan berhenti sekarang! Terus bergerak menuju arah pantai timur, kita pasti bisa melewati kegelapan ini bersama-sama!" teriak Heo memberi semangat kepada warga. Meskipun kakinya terluka terkena kerikil panas dan nafasnya terasa berat, Heo tetap memanggul perbekalan air bersih dan membantu menuntun warga berjalan berkilo-kilometer menembus hujan abu menuju area pengungsian yang lebih aman.
Setelah letusan mulai mereda, wilayah sekitar Gunung Tambora mengalami kerusakan yang sangat parah. Tumbuhan mati, air bersih sulit ditemukan, dan rumah-rumah hancur tertimbun materi vulkanik. Banyak warga merasa sedih dan tidak memiliki harapan lagi. Kembali, sifat ketangguhan Heo bersinar. Ia memelopori para pemuda penyintas untuk menggali sumber air bersih baru, mengumpulkan sisa-sisa bahan bangunan, dan bersama-sama mendirikan tenda pemukiman darurat.
Heo membuktikan bahwa meskipun bencana dahsyat Gunung Tambora telah menghancurkan tempat tinggal mereka, bencana tersebut tidak mampu menghancurkan semangat dan ketangguhan jiwa mereka. Berkat keberanian dan sikap pantang menyerah Heo, banyak warga desa yang berhasil selamat dan mampu membangun kembali kehidupan yang baru di tanah Nusa Tenggara Barat. Kisah keberanian Heo terus dikenang sebagai simbol pantang menyerah rakyat NTB dalam menghadapi ujian sejarah.
GLOSARIUM
- Erupsi: Peristiwa letusan gunung berapi yang mengeluarkan material seperti lava, gas, dan abu vulkanik ke permukaan bumi.
- Penyintas: Orang yang berhasil bertahan hidup dari suatu bencana, musibah, atau kondisi yang sangat membahayakan.
- Detonasi: Peledakan yang terjadi secara amat cepat dan menimbulkan gelombang kejut dengan suara yang sangat keras.
- Evakuasi: Tindakan pemindahan penduduk secara terencana dari daerah yang berbahaya menuju daerah yang aman dari bencana.
- Kearifan Lokal: Gagasan, nilai-nilai, atau pandangan hidup suatu masyarakat di daerah tertentu yang bersifat bijaksana dan diwariskan secara turun-temurun.
- Abu Vulkanik: Material halus berukuran pasir hingga debu yang dilontarkan oleh gunung berapi saat terjadi letusan.
- Ketangguhan (Resilience): Kemampuan seseorang atau kelompok untuk bertahan, bangkit, dan pulih kembali setelah mengalami masa sulit atau bencana.
DAFTAR PUSTAKA
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Buku Panduan Guru Bahasa Indonesia: Bergerak Bersama untuk SD Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
- Stothers, R. B. (1984). The Great Tambora Eruption of 1815 and Its Atmospheric Aftermath. Science, 224(4654), 1191-1198.
- Tim Penyusun Kebudayaan NTB. (2019). Sejarah dan Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat. Mataram: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB.
LAMPIRAN
Lembar Observasi Penilaian Sikap Berpikir Kritis dan Gotong Royong
| No | Aspek yang Dinilai | Kriteria Skor | Skor |
|---|---|---|---|
| 1 | Menganalisis Bukti Karakter Tokoh (Bernalar Kritis) | Skor 4: Mengidentifikasi >3 bukti tindakan tokoh Heo yang menunjukkan sifat pantang menyerah dengan alasan sangat logis. Skor 3: Mengidentifikasi 2-3 bukti tindakan tokoh Heo dengan alasan logis. Skor 2: Mengidentifikasi 1 bukti tindakan tokoh Heo dengan alasan yang kurang tepat. Skor 1: Belum mampu mengidentifikasi bukti tindakan tokoh Heo. | |
| 2 | Kerjasama dalam Kelompok CIRC (Gotong Royong) | Skor 4: Sangat aktif membaca berpasangan, mendiskusikan arti kata, dan membantu pasangan kelompok tanpa membeda-bedakan. Skor 3: Aktif dalam diskusi membaca berpasangan dan menyelesaikan tugas kelompok dengan baik. Skor 2: Cukup aktif namun terkadang membiarkan pasangan kelompok bekerja sendiri. Skor 1: Pasif dan tidak berkontribusi dalam kerja kelompok. | |
| 3 | Mengemukakan Pendapat saat Diskusi | Skor 4: Mengemukakan gagasan dan masukan dengan santun, jelas, serta mendukung alur pengerjaan tugas. Skor 3: Mengemukakan pendapat dengan jelas saat diminta oleh kelompok. Skor 2: Mengemukakan pendapat tetapi kurang relevan dengan topik teks narasi. Skor 1: Tidak mau mengeluarkan pendapat selama diskusi berlangsung. |
Lembar Penilaian Kinerja Keterampilan Presentasi Kelompok
| No | Aspek yang Dinilai | Kriteria Skor | Skor |
|---|---|---|---|
| 1 | Kejelasan Suara dan Intonasi | Skor 4: Suara terdengar sangat jelas ke seluruh ruangan, intonasi bervariasi dan ekspresif sesuai jalan cerita narasi. Skor 3: Suara terdengar jelas oleh sebagian besar siswa, intonasi cukup bervariasi. Skor 2: Suara pelan, intonasi datar, dan kurang terdengar hingga belakang kelas. Skor 1: Suara sangat pelan, bergumam, dan tidak jelas. | |
| 2 | Kelengkapan Peta Alur Peristiwa | Skor 4: Peta alur memuat peristiwa awal, konflik letusan, perjuangan Heo, dan penyelesaian secara sangat lengkap dan sistematis. Skor 3: Peta alur memuat 3 dari 4 bagian alur cerita secara runtut. Skor 2: Peta alur hanya memuat 2 bagian alur cerita dan kurang sistematis. Skor 1: Peta alur cerita tidak lengkap dan tidak runtut. | |
| 3 | Kemampuan Menjawab Pertanyaan | Skor 4: Mampu menjawab pertanyaan dari kelompok lain atau guru dengan sangat tepat, percaya diri, dan argumentatif. Skor 3: Mampu menjawab pertanyaan kelompok lain dengan tepat dan jelas. Skor 2: Menjawab pertanyaan kelompok lain tetapi kurang tepat dan membutuhkan bantuan guru. Skor 1: Tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan. |