Line Spacing
Bullets Library
Number Library
Border Sel:
Shading Sel:
Modul Ajar

IDENTITAS MODUL

Satuan Pendidikan : SD Negeri 1 Wringin Anom
Nama Guru : Didik Sadi, S.Pd.
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila
Kelas / Fase : Kelas V / C
Semester / Tahun Pelajaran : Ganjil / 2026/2027
Alokasi Waktu : 4 x 35 menit (1 Pertemuan)
Materi / Topik : Memahami Musyawarah sebagai Sarana Pengambilan Keputusan Bersama yang Adil di Keluarga dan Masyarakat
Elemen Capaian Pembelajaran : Pancasila / Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Model Pembelajaran : Contextual Teaching & Learning (CTL)
Pendekatan Pembelajaran : Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
Integrasi Lokal dan Diferensiasi : Tradisi Rembug Desa Wringin Anom & Diferensiasi Produk (Kliping Gambar dan Karya 3D)

ANALISIS AWAL PEMBELAJARAN

Kesiapan Belajar Peserta Didik

Peserta didik kelas V SD Negeri 1 Wringin Anom secara umum telah mengenal konsep aturan di rumah dan di sekolah. Namun, pemahaman mendalam mengenai esensi musyawarah sebagai wujud keadilan dan bentuk pengamalan Sila Ketiga dan Keempat Pancasila masih berada pada tingkatan kontekstual dasar. Sebagian peserta didik cenderung dominan dalam mengemukakan pendapat, sementara sebagian lainnya belum berani mengungkapkan gagasannya di hadapan publik.

Gaya Belajar dan Minat

Berdasarkan hasil pemetaan non-kognitif awal:

  1. Kelompok Visual-Kinestetik (40%): Menyukai kegiatan tangan, membuat karya fisik (diorama/model 3D), serta manipulasi objek konkret.
  2. Kelompok Visual-Auditori (60%): Menyukai pengamatan gambar, video tayangan, pengumpulan data gambar dari majalah/koran (kliping), serta diskusi verbal.

Konteks Lingkungan Lokal

Lingkungan Desa Wringin Anom memiliki kearifan lokal berupa kebiasaan "Rembug Desa" atau musyawarah tingkat RT/RW dan desa untuk menyelesaikan permasalahan warga. Konteks budaya ini diangkat sebagai jembatan pembuka agar siswa menyadari bahwa prinsip musyawarah bukan sekadar teori di buku teks, melainkan praktik hidup nyata di sekitarnya.

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Peserta didik mampu menganalisis prinsip-prinsip demokrasi Pancasila dalam lingkup keluarga, sekolah, dan masyarakat; memahami fungsi musyawarah dalam mencapai mufakat serta menerapkannya sebagai bentuk keputusan bersama yang adil dan bertanggung jawab.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta didik mampu menganalisis pentingnya musyawarah sebagai sarana pengambilan keputusan bersama yang adil di lingkungan keluarga dan masyarakat serta mengomunikasikannya melalui karya kreatif.

Tujuan Pembelajaran Spesifik (ABCD & Pembelajaran Mendalam)

  1. Melalui pengamatan tayangan video konteks lokal "Rembug Desa Wringin Anom" pada Smart TV, peserta didik (Audience) mampu menganalisis (Behavior) minimal 3 prinsip musyawarah untuk mufakat (Degree) secara tepat dan kritis (Condition).
  2. Melalui diskusi kelompok berbasis Contextual Teaching & Learning (CTL), peserta didik mampu menghubungkan pengalaman pengambilan keputusan di rumah/sekolah dengan nilai keadilan Pancasila secara runtut.
  3. Melalui penugasan terstruktur berbasis diferensiasi produk, peserta didik mampu mengomunikasikan pesan kebaikan norma musyawarah kepada komunitas sekolah dalam bentuk kliping gambar bermakna atau karya 3D (diorama musyawarah) secara kreatif dan bergotong-royong.

PEMAHAMAN BERMAKNA

Musyawarah merupakan sarana utama dalam mengambil keputusan bersama yang dilandasi semangat keadilan, kesetaraan, dan penghormatan atas hak setiap individu. Keputusan yang diambil secara musyawarah mufakat akan melahirkan rasa memiliki, rasa tanggung jawab, dan kedamaian di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat desa.

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Mengapa ketika anggota keluarga kita ingin menentukan lokasi liburan atau pembagian tugas rumah, sebaiknya dilakukan dengan cara berdiskusi bersama, bukan ditentukan oleh satu orang saja?
  2. Apa yang akan terjadi jika dalam sebuah desa seperti Wringin Anom, Kepala Desa mengambil keputusan sendiri tanpa mendengar suara warga melalui Rembug Desa?
  3. Bagaimana perasaanmu ketika pendapatmu didengarkan dan dihargai oleh teman sekelasmu saat mengambil keputusan kelompok?

PROFIL DAN KOMPETENSI YANG DIKEMBANGKAN

Profil Pelajar Pancasila

  1. Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia: Menghargai perbedaan pendapat sebagai rahmat dan mempraktikkan tutur kata yang santun saat bermusyawarah.
  2. Gotong Royong: Bekerja sama dalam kelompok untuk menyusun karya diferensiasi (kliping/3D) serta mengutamakan kepentingan bersama.
  3. Bernalar Kritis: Menganalisis alasan mengapa musyawarah menghasilkan keputusan yang adil dan dampak dari tidak diadakannya musyawarah.
  4. Kreatif: Mengolah media gambar atau bahan bekas menjadi karya 3D dan kliping artistik yang menyampaikan pesan moral norma musyawarah.

Kompetensi Abad 21 (4C)

  1. Critical Thinking: Menganalisis studi kasus konflik keputusan di masyarakat.
  2. Collaboration: Berdiskusi dalam pembentukan kelompok dan pembagian peran karya 3D/kliping.
  3. Communication: Menyampaikan pesan kebaikan musyawarah kepada warga sekolah.
  4. Creativity: Merancang dan membuat media komunikasi norma 3D atau kliping visual.

MATERI PEMBELAJARAN

Konsep Dasar Musyawarah untuk Mufakat

Musyawarah berasal dari kata bahasa Arab yang berarti berunding atau berembug. Dalam konteks Demokrasi Pancasila (khususnya Sila Ketiga dan Ketujuh/Sila Keempat), musyawarah adalah proses membicarakan suatu masalah bersama-sama untuk mencapai kesepakatan (mufakat) yang adil.

Prinsip-Prinsip Musyawarah yang Adil

  1. Kedudukan yang Setara: Setiap peserta musyawarah memiliki hak yang sama untuk menyampaikan pendapat tanpa membedakan latar belakang.
  2. Menghargai Pendapat Orang Lain: Tidak memotong pembicaraan orang lain dan mendengarkan dengan penuh empati.
  3. Berorientasi pada Keadilan dan Kebajikan: Keputusan yang diambil harus menguntungkan kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi atau golongan.
  4. Mengutamakan Mufakat: Berusaha mencapai kesepakatan bulat sebelum melakukan pemungutan suara (voting).
  5. Menerima dan Melaksanakan Hasil Keputusan: Semua pihak wajib menjalankan hasil musyawarah dengan ikhlas dan bertanggung jawab.

Integrasi Kearifan Lokal: Tradisi Rembug Desa Wringin Anom

Di Desa Wringin Anom, tradisi musyawarah terwujud dalam forum "Rembug Desa" atau musyawarah tingkat balai desa/RT. Warga berkumpul untuk membahas pembangunan desa, kerja bakti, hingga penyelesaian perselisihan secara kekeluargaan. Tradisi ini membuktikan bahwa nilai Pancasila telah berurat akar dalam kehidupan nyata masyarakat sekitar.

Penerapan Musyawarah dalam Kehidupan Sehari-hari

  1. Lingkup Keluarga: Musyawarah menentukan menu makanan keluarga, aturan jam belajar, tujuan wisata akhir pekan, atau pembagian tugas merawat tanaman.
  2. Lingkup Sekolah: Musyawarah pemilihan ketua kelas, pembentukan jadwal piket, perancangan tata tertib kelas, dan persiapan pameran karya.
  3. Lingkup Masyarakat: Musyawarah RT untuk kerja bakti mingguan, santunan anak yatim, atau pembentukan panitia peringatan HUT Kemerdekaan RI.

MODEL DAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN

Model Pembelajaran: Contextual Teaching & Learning (CTL)

Langkah-langkah CTL yang diintegrasikan:

  1. Constructivism: Siswa membangun pemahaman musyawarah dari pengalaman nyata di rumah dan desa.
  2. Inquiry: Siswa menemukan sendiri mengapa musyawarah lebih adil dibanding keputusan sepihak.
  3. Questioning: Guru dan siswa melakukan tanya jawab mendalam untuk menggali pemahaman.
  4. Learning Community: Siswa belajar dalam kelompok heterogen untuk berdiskusi dan membuat karya.
  5. Modeling: Guru memodelkan cara memimpin dan mengikuti musyawarah yang santun.
  6. Reflection: Siswa merefleksikan perasaan dan makna proses musyawarah.
  7. Authentic Assessment: Penilaian berbasis proses nyata, pameran karya, dan performa diskusi.

Pendekatan Pembelajaran: Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

  1. Mindful Learning: Kesadaran penuh peserta didik saat mendengarkan pendapat teman tanpa memotong atau menghakimi.
  2. Meaningful Learning: Menghubungkan materi dengan realitas sosial budaya "Rembug Desa Wringin Anom".
  3. Joyful Learning: Pembelajaran yang menyenangkan melalui pembuatan karya seni 3D/kliping dan simulasi musyawarah secara interaktif.

ASESMEN

Asesmen Diagnostik (Sebelum Pembelajaran)

  1. Diagnostik Non-Kognitif: Angket singkat gaya belajar dan kesenangan membuat karya (gambar vs kerajinan 3D).
  2. Diagnostik Kognitif: Kuis interaktif singkat (3 pertanyaan) mengenai pengalaman bermusyawarah di rumah.

Asesmen Formatif (Selama Proses Pembelajaran)

  1. Observasi Sikap: Lembar pengamatan profil pelajar Pancasila (Gotong royong, Bernalar kritis) saat diskusi.
  2. Performa Proses Diskusi: Penilaian partisipasi peserta didik dalam simulasi musyawarah kelompok.

Asesmen Sumatif (Akhir Pembelajaran)

  1. Asesmen Hasil Karya (Diferensiasi Produk): Penilaian produk berupa Kliping Gambar Kebaikan Musyawarah atau Karya 3D (Diorama Musyawarah Desa/Sekolah).
  2. Tes Tertulis: Soal uraian singkat berbasis pemecahan masalah kontekstual.

RUBRIK PENILAIAN

Rubrik Penilaian Sikap (Observasi Profil Pelajar Pancasila)

Indikator SikapSkor 1 (Perlu Bimbingan)Skor 2 (Cukup)Skor 3 (Baik)Skor 4 (Sangat Baik)
Gotong RoyongPasif dalam kelompok, tidak mau berbagi tugas pembuatan karya.Terlibat dalam kelompok hanya jika diminta oleh teman atau guru.Bekerja sama dengan baik dalam pembuatan karya kelompok secara mandiri.Sangat aktif, membagi peran secara adil, dan membantu teman yang mengalami kesulitan.
Bernalar KritisBelum mampu mengidentifikasi alasan pengambilan keputusan bersama.Mampu mengidentifikasi alasan musyawarah dengan bantuan bimbingan guru.Mampu menganalisis pentingnya musyawarah dan memberikan alasan yang logis.Mampu menganalisis masalah kompleks musyawarah serta memberikan solusi kritis dan adil.
Menghargai PendapatMemotong pembicaraan orang lain dan memaksakan kehendak saat diskusi.Mengabaikan pendapat orang lain tetapi tidak memaksakan kehendak secara kasar.Mendengarkan pendapat orang lain dengan sopan saat berdiskusi.Mendengarkan dengan empati, mengapresiasi pendapat orang lain, dan bersikap inklusif.

Rubrik Penilaian Produk Karya 3D / Diorama Musyawarah

Aspek PenilaianSkor 1 (Perlu Bimbingan)Skor 2 (Cukup)Skor 3 (Baik)Skor 4 (Sangat Baik)
Kesesuaian Pesan NormaKarya 3D tidak menggambarkan suasana atau prinsip musyawarah sama sekali.Karya 3D menggambarkan suasana musyawarah namun pesan norma kurang jelas.Karya 3D menggambarkan konteks musyawarah (sekolah/masyarakat) dengan jelas.Karya 3D sangat jelas menggambarkan adegan musyawarah adil beserta pesan norma Pancasila yang mendalam.
Kreativitas & EstetikaMenggunakan bahan seadanya tanpa kerapian dan kurang menunjukkan struktur 3D.Kerapian cukup baik namun pemanfaatan bahan kurang bervariasi.Karya 3D rapi, menggunakan kombinasi bahan yang menarik dan memiliki bentuk proporsional.Sangat kreatif, memanfaatkan bahan daur ulang dengan estetik, detail 3D sangat rapi dan menarik perhatian.
Presentasi KaryaTidak mampu menjelaskan pesan norma yang terkandung dalam karya 3D.Mampu menjelaskan karya dengan bantuan pertanyaan pemicu dari guru.Mampu menjelaskan karya dan pesan kebaikan musyawarah secara lancar kepada audiens.Mampu mempresentasikannya dengan percaya diri, artikulatif, serta menginspirasi audiens sekolah.

Rubrik Penilaian Produk Kliping Gambar Musyawarah

Aspek PenilaianSkor 1 (Perlu Bimbingan)Skor 2 (Cukup)Skor 3 (Baik)Skor 4 (Sangat Baik)
Relevansi GambarGambar yang dipilih tidak sesuai dengan topik musyawarah dan keadilan.Sebagian kecil gambar relevan dengan konteks musyawarah di keluarga/masyarakat.Sebagian besar gambar sangat relevan menggambarkan praktik musyawarah dan mufakat.Seluruh gambar sangat relevan, bervariasi (keluarga, sekolah, desa Wringin Anom), serta tepat konteks.
Kedalaman Narasi / KeteranganGambar tidak disertai dengan penjelasan atau narasi norma.Penjelasan gambar sangat singkat dan kurang menggambarkan prinsip keadilan.Setiap gambar dilengkapi penjelasan naratif tentang nilai kebaikan musyawarah yang cukup jelas.Narasi sangat analitis, menjelaskan prinsip keadilan dan norma Pancasila secara runtut dan mendalam.
Kerapian & PenyusunanTata letak gambar acak-acakan dan tidak rapi.Penyusunan gambar cukup rapi namun kurang terstruktur tema.Penyusunan gambar terstruktur rapi berdasarkan lingkungan (keluarga, sekolah, desa).Penyusunan visual sangat estetik, terstruktur rapi, dilengkapi dekorasi pendukung yang memperjelas pesan.

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Kegiatan Awal (20 Menit)

  1. Pembukaan dan Pengkondisian Suasana Kelas (Mindful Learning):
    • Guru menyapa peserta didik dengan hangat di kelas V SD Negeri 1 Wringin Anom.
    • Mengajak peserta didik melakukan latihan pernapasan sejenak (Mindfulness Breathing) selama 1-2 menit untuk memfokuskan emosi dan perhatian sebelum belajar.
    • Pembacaan doa dipimpin oleh ketua kelas.
    • Menguji kesiapan belajar dan mengecek kehadiran peserta didik.
  1. Apersepsi dan Orientasi Kontekstual (CTL - Constructivism):
    • Guru menayangkan potongan video singkat atau slide foto suasana "Rembug Desa Wringin Anom" melalui Smart TV yang terkoneksi internet.
    • Guru memberikan pertanyaan pemantik: "Anak-anak, pernahkah kalian melihat bapak-bapak atau ibu-ibu di RT kalian berkumpul di balai desa Wringin Anom untuk bicara bersama? Mengapa permasalahan warga tidak diputuskan sendiri saja oleh Pak Kades?"
    • Peserta didik memberikan tanggapan awal secara bebas berdasarkan pemahaman awal mereka.
  1. Penyampaian Tujuan dan Motivasi (Joyful Learning):
    • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu memahami musyawarah yang adil dan membuat karya media komunikasi norma untuk dikampanyekan kepada teman-teman di sekolah.
    • Guru menjelaskan garis besar kegiatan pembelajaran dan kelompok diferensiasi karya.

Kegiatan Inti (100 Menit)

Fase 1: Modeling & Questioning (Konstruksi Konsep - 20 Menit)

  1. Guru menampilkan presentasi interaktif menggunakan Smart TV mengenai definisi musyawarah, landasan Sila Pancasila, dan 5 prinsip keputusan adil.
  2. Guru memodelkan (Modeling) dua simulasi singkat di depan kelas:
    • Simulasi A: Seorang ketua kelompok menentukan sendiri tugas teman-temannya tanpa berdiskusi (Pengambilan keputusan sepihak).
    • Simulasi B: Seorang ketua kelompok mengajak seluruh anggota berdiskusi, mendengarkan saran, dan menyepakati tugas bersama secara adil (Pengambilan keputusan musyawarah).
  1. Guru memfasilitasi tanya jawab mendalam (Questioning/Deep Learning): "Apa perbedaan rasa yang muncul di hati kalian saat melihat Simulasi A dibanding Simulasi B? Mengapa Simulasi B terasa lebih adil?"

Fase 2: Inquiry & Learning Community (Diskusi Kelompok Kontekstual - 20 Menit)

  1. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok heterogen (setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang).
  2. Setiap kelompok diberikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang memuat studi kasus nyata di lingkungan sekolah dan Desa Wringin Anom.
  3. Kelompok menganalisis masalah pada studi kasus:
    • Masalah: "Di SD Negeri 1 Wringin Anom, kelas V hendak menentukan warna kaos olahraga kelas, namun ada 2 perbedaan pendapat yang tajam."
    • Tugas: Kelompok menyusun langkah-langkah penyelesaian berdasarkan prinsip musyawarah mufakat yang adil.
  1. Guru berputar memfasilitasi diskusi, memastikan seluruh anggota kelompok terlibat aktif dan saling menghargai pendapat (Mindful Communication).

Fase 3: Authentic Assessment & Differentiation Product (Pembuatan Karya - 45 Menit)

  1. Guru membagi penugasan berdasarkan kelompok diferensiasi produk sesuai gaya belajar dan minat peserta didik:
    • Kelompok A (Diferensiasi Produk Kliping Gambar): Bertugas menyusun Kliping Visual "Kebaikan Musyawarah di Keluarga dan Desa Wringin Anom". Siswa memotong gambar dari majalah/cetakan, menempel, dan menuliskan narasi analisis nilai keadilan di setiap gambar.
    • Kelompok B (Diferensiasi Produk Karya 3D): Bertugas membuat Diorama Mini 3D "Suasana Rembug Desa / Musyawarah Sekolah yang Adil". Siswa menggunakan bahan kerdus bekas, stik es krim, dan figurin karton 3D untuk membentuk adegan musyawarah lengkap dengan slogan norma Pancasila.
  1. Selama proses pembuatan karya, peserta didik menerapkan nilai gotong royong dan saling membagi tugas secara adil di dalam kelompok.
  2. Guru melakukan observasi formatif menggunakan Lembar Observasi Sikap dan memberikan bimbingan bagi kelompok yang membutuhkan scaffolding.

Fase 4: Presentation & Authentic Assessment (Pengomunikasian Karya - 15 Menit)

  1. Setiap kelompok memamerkan hasil karyanya di atas meja kelompok (Gallery Walk) atau mempresentasikannya di depan kelas melalui bantuan Smart TV/Kamera dokumentasi.
  2. Perwakilan kelompok menyampaikan pesan kebaikan norma musyawarah yang ada pada karya mereka.
  3. Kelompok lain memberikan tanggapan, apresiasi, dan pertanyaan secara santun.

Kegiatan Penutup (20 Menit)

  1. Evaluasi & Integrasi Pemahaman (Meaningful Learning):
    • Guru bersama peserta didik merumuskan kesimpulan utama bahwa musyawarah adalah jalan terbaik untuk mencapai keadilan bersama sesuai nilai-nilai Pancasila.
    • Peserta didik mengerjakan tes evaluasi tertulis singkat mandiri (3 soal uraian berbasis analisis kasus).
  1. Refleksi Pembelajaran:
    • Peserta didik mengisikan lembar refleksi emosi dan makna pembelajaran yang dirasakan.
  1. Tindak Lanjut & Apresiasi:
    • Guru mengumumkan bahwa produk Kliping dan Karya 3D terbaik akan dipajang di mading sekolah dan pojok baca SD Negeri 1 Wringin Anom sebagai media sosialisasi norma bagi siswa kelas lain.
    • Pembelajaran ditutup dengan apresiasi tepuk tangan bersama, pesan moral dari guru tentang pengamalan musyawarah di rumah nanti malam, dan doa penutup.

PENGALAMAN BELAJAR MENDALAM

Mindful Learning (Pembelajaran Sadar Demokrasi)

Peserta didik secara sadar diajak merasakan atmosfer kesetaraan saat bermusyawarah. Melalui simulasi dan aturan diskusi, siswa dilatih menahan diri untuk tidak memotong pembicaraan orang lain, mendengarkan argumentasi teman dengan penuh perhatian, serta menyadari bahwa setiap suara anak di kelas memiliki nilai yang sama pentingnya.

Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna Kontekstual)

Materi musyawarah tidak diajarkan secara abstrak. Dengan mengintegrasikan fenomena "Rembug Desa Wringin Anom" dan masalah penataan kelas SD Negeri 1 Wringin Anom, siswa memahami fungsi substantif musyawarah dalam mencegah konflik sosial, menciptakan rasa keadilan, serta menjaga kerukunan dalam kehidupan nyata mereka.

Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan Berbasis Karya)

Pengalaman belajar dikemas secara interaktif melalui metode hands-on activity. Pembuatan karya 3D diorama musyawarah dan susunan kliping gambar yang estetis memberikan ruang ekspresi seni yang tinggi, mengurangi kejenuhan belajar teks, dan memberikan kebanggaan saat karya mereka dipamerkan kepada komunitas sekolah.

STRATEGI DIFERENSIASI

Diferensiasi Konten

  • Untuk peserta didik yang membutuhkan bimbingan lebih: Diberikan kartu panduan visual berisi langkah-langkah sederhana musyawarah beserta contoh gambar konkret musyawarah keluarga.
  • Untuk peserta didik dengan kemampuan mahir: Diberikan lembar analisis kasus yang lebih kompleks mengenai penyelesaian kebuntuan (deadlock) saat musyawarah mufakat tidak tercapai.

Diferensiasi Proses

  • Saat diskusi kelompok, guru memberikan peran spesifik sesuai kelebihan siswa (misal: moderator diskusi, pencatat poin, perancang bentuk karya, dan pembaca narasi).
  • Memberikan bantuan bimbingan (scaffolding) secara terpola hanya pada kelompok yang mengalami kesulitan teknis atau argumentasi.

Diferensiasi Produk

  • Produk Tipe 1 (Kliping Gambar Visual): Ditujukan bagi kelompok yang menyukai eksplorasi gambar, tata letak visual 2D, dan penulisan narasi singkat norma musyawarah.
  • Produk Tipe 2 (Karya 3D / Diorama Mini): Ditujukan bagi kelompok yang menyukai konstruksi fisik, pemanfaatan bahan daur ulang, dan manipulasi kerajinan 3 dimensional untuk menggambarkan suasana musyawarah desa/sekolah.

PEMANFAATAN TEKNOLOGI

  1. Smart TV: Digunakan untuk menampilkan tayangan video konteks lokal "Rembug Desa Wringin Anom", slide presentasi interaktif Canva, serta menampilkan hasil foto karya 3D siswa secara bergiliran.
  2. Laptop & Internet: Digunakan guru untuk memutar media pembelajaran digital, mengakses sumber bahan ajar interaktif, serta memuat instrumen asesmen digital.
  3. Kamera Smartphone/Dokumentasi: Digunakan untuk mendokumentasikan proses pembuatan karya 3D dan kliping siswa yang akan diunggah pada portofolio digital kelas.

MEDIA DAN SUMBER BELAJAR

Media Pembelajaran

  1. Video Dokumentasi / Ilustrasi "Rembug Desa Wringin Anom".
  2. Slide Presentasi Interaktif Prinsip Musyawarah Pancasila.
  3. Bahan Karya 3D: Kardus bekas, stik es krim, lem kertas/hot glue, gunting, spidol warna, stiker karakter, dan kertas karton warna.
  4. Bahan Kliping: Koran bekas, majalah edukasi, gambar cetakan konteks musyawarah, kertas HVS warna, dan lem.

Sumber Belajar

  1. Buku Siswa Pendidikan Pancasila Kelas V SD, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
  2. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila Kelas V SD.
  3. Dokumen Profil Desa & Tradisi Rembug Wringin Anom.
  4. Lingkungan Sosial SD Negeri 1 Wringin Anom (Narasumber: Tokoh Masyarakat / Guru).

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

Lembar Identitas Peserta Didik

LabelIsi
Nama Kelompok / Anggota1. ....................................................................
2. ....................................................................
3. ....................................................................
4. ....................................................................
Kelas / FaseKelas V / Fase C
Nomor Absen....................................................................
Tanggal Pelaksanaan....................................................................

Judul LKPD: Musyawarah untuk Keadilan Bersama di SD Negeri 1 Wringin Anom

Petunjuk Diskusi dan Kerja Kelompok

  1. Bacalah studi kasus di bawah ini dengan saksama bersama teman sekelompokmu.
  2. Diskusikan solusi terbaik berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat yang adil.
  3. Buatlah produk karya sesuai dengan pilihan jenis kelompokmu (Kliping Gambar atau Karya 3D Diorama) untuk mengomunikasikan pesan kebaikan norma musyawarah kepada teman-teman di sekolah.

Bagian 1: Analisis Studi Kasus Kontekstual

Kasus:

Di SD Negeri 1 Wringin Anom, kelas V diberikan tugas oleh guru untuk menentukan tujuan kegiatan penjelajahan lingkungan desa. Sebagian siswa ingin pergi ke area persawahan utara desa, sedangkan sebagian siswa lainnya ingin pergi ke tepi sungai bagian selatan desa. Suasana kelas menjadi ramai karena masing-masing pihak merasa idenya paling bagus dan memaksakan kehendaknya.

Pertanyaan Analisis:

  1. Mengapa tindakan saling memaksakan kehendak pada kasus di atas melanggar prinsip keadilan dan Pancasila?

       Jawab: ................................................................................................................................................

  1. Tuliskan 3 langkah penyelesaian yang harus dilakukan Ketua Kelas V agar pengambilan keputusan dapat berjalan secara musyawarah mufakat dan adil!

       Jawab:

       a. ........................................................................................................................................................

       b. ........................................................................................................................................................

       c. ........................................................................................................................................................

  1. Apa yang harus dilakukan oleh seluruh siswa kelas V setelah keputusan bersama nantinya telah disepakati bersama?

       Jawab: ................................................................................................................................................

Bagian 2: Lembar Kerja Rancangan Produk Kreatif (Kliping / Karya 3D)

  1. Jenis Karya yang Dibuat: ( Pilih salah satu: Kliping Gambar / Karya 3D Diorama )
  2. Judul Karya Kelompok: ...............................................................................................................................
  3. Pesan Utama Norma Musyawarah yang Ingin Disampaikan: .....................................................................
  1. Pembagian Tugas Kelompok:
    • Ketua / Moderator Diskusi : ....................................................................................
    • Perancang Bahan & Bentuk : ....................................................................................
    • Penulis Narasi & Slogan : ....................................................................................
    • Presenter Karya : ....................................................................................

REMEDIAL

Program Bimbingan Remedial

Diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) pada asesmen formatif/sumatif (skor di bawah standar minimal).

Bentuk Kegiatan Remedial

  1. Pemahaman Ulang Konseptual (Tutor Sebaya/Bimbingan Guru): Guru memberikan pendampingan individu dengan menjelaskan kembali 5 prinsip musyawarah menggunakan kartu bergambar sederhana (flashcard) musyawarah keluarga.
  2. Tugas Praktis Sederhana: Peserta didik diminta mengamati 1 kegiatan pengambilan keputusan di rumahnya (misal: menentukan menu makan malam keluarga) lalu menuliskan 3 kalimat sederhana tentang bagaimana cara keluarga mereka bermusyawarah secara damai.

PENGAYAAN

Program Pengayaan

Diberikan kepada peserta didik yang telah menunjukkan penguasaan tujuan pembelajaran yang sangat baik dan melampaui standar minimal.

Bentuk Kegiatan Pengayaan

  1. Peran "Duta Musyawarah Muda SD Negeri 1 Wringin Anom": Peserta didik diminta menyusun "Deklarasi Kelas Bermusyawarah" yang berisi 5 poin aturan bersikap saat berdiskusi di kelas.
  2. Wawancara Kontekstual: Peserta didik melakukan wawancara singkat dengan Kepala Desa atau Ketua RT setempat mengenai bagaimana proses Rembug Desa Wringin Anom dijalankan saat ada masalah warga, lalu menyajikannya dalam bentuk laporan naratif singkat.

REFLEKSI GURU

NoPertanyaan Refleksi GuruHasil Evaluasi dan Catatan Guru
1Apakah seluruh peserta didik dapat memahami hubungan antara musyawarah dan prinsip keadilan dalam Pancasila melalui konteks lokal Rembug Desa?Seluruh peserta didik antusias melihat tayangan Rembug Desa. 85% siswa mampu menghubungkan tradisi lokal tersebut dengan prinsip Sila Keempat dan Keadilan.
2Bagaimana efektivitas penerapan model Contextual Teaching & Learning (CTL) dalam mendorong siswa aktif berdiskusi?Langkah CTL berjalan efektif. Tahap modeling dan komunitas belajar membuat siswa yang tadinya pemalu menjadi berani berpendapat dalam kelompok kecil.
3Apakah diferensiasi produk (Kliping Visual dan Karya 3D) mampu mengakomodasi perbedaan minat dan gaya belajar siswa?Sangat mampu. Kelompok kinestetik sangat fokus menyelesaikan karya 3D diorama, sedangkan kelompok visual-auditori menghasilkan kliping naratif yang rapi.
4Kendala apa saja yang muncul selama proses pelaksanaan pembelajaran di kelas V SD Negeri 1 Wringin Anom?Waktu pengerjaan karya 3D membutuhkan alokasi sedikit lebih lama dari perencanaan awal, sehingga pembagian durasi perlu diperketat pada sesi berikutnya.
5Rencana perbaikan apa yang akan dilakukan untuk pembelajaran pada materi selanjutnya?Guru akan menyiapkan bahan rakitan diorama 3D yang lebih siap pakai (pre-cut) agar siswa dapat memfokuskan waktu pada penyusunan pesan norma dan diskusi.

REFLEKSI PESERTA DIDIK

Lembar Refleksi Peserta Didik

Nama Peserta Didik: ............................................................

Kelas : V (Lima)
Tanggal : ............................................................

Jawablah pertanyaan refleksi di bawah ini dengan jujur!

  1. Bagaimana perasaanmu selama mengikuti kegiatan pembelajaran Pendidikan Pancasila hari ini?

       Jawab: ................................................................................................................................................

  1. Hal baru apa yang paling menarik yang kamu pelajari tentang musyawarah dan Rembug Desa Wringin Anom?

       Jawab: ................................................................................................................................................

  1. Apakah kamu sudah mendengarkan dan menghargai pendapat temanmu saat membuat karya kelompok tadi? Berikan contohnya!

       Jawab: ................................................................................................................................................

  1. Apa yang akan kamu lakukan di rumah jika ada perbedaan pendapat antara kamu dan saudaramu/orang tuamu?

       Jawab: ................................................................................................................................................

BAHAN BACAAN

Bahan Bacaan Guru

  • Kaelan. (2013). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigm.
  • Pusat Kurikulum dan Perbukuan. (2021). Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas V. Jakarta: Kemendikbudristek.
  • Suprijono, Agus. (2015). Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (Topik: Penerapan CTL dan Pembelajaran Mendalam).
  • Artikel Budaya Lokal: Sistem Pengambilan Keputusan Musyawarah Mufakat dalam Tradisi Rembug Desa Masyarakat Jawa.

Bahan Bacaan Peserta Didik

  • Buku Siswa Pendidikan Pancasila Kelas V SD (Bab 2: Musyawarah dan Demokrasi Pancasila di Lingkunganku).
  • Komik Edukasi Pancasila: Mari Bermusyawarah di Rumah dan Sekolah.
  • Lembar Bacaan Bergambar: Mengenal Rembug Desa Wringin Anom.

GLOSARIUM

  1. Musyawarah: Pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah secara adil dan bijaksana.
  2. Mufakat: Kesepakatan bulat yang dihasilkan dari proses pembicaraan bersama tanpa paksaan.
  3. Demokrasi Pancasila: Sistem tata kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang dilandasi oleh nilai-nilai Pancasila, mengutamakan musyawarah untuk mufakat serta keadilan sosial.
  4. Rembug Desa: Forum pertemuan warga desa (tradisi lokal di Jawa/Wringin Anom) untuk membahas dan memutuskan masalah kemasyarakatan secara kekeluargaan.
  5. Diorama (Karya 3D): Sajian pemandangan dalam bentuk tiga dimensi bermodel kecil untuk menggambarkan suatu adegan atau peristiwa nyata.
  6. Kliping Visual: Kegiatan pemotongan gambar-gambar dari majalah/koran yang dirangkai rapi disertai penjelasan tertulis untuk menyampaikan suatu pesan tema tertentu.
  7. Scaffolding: Pemberian sejumlah bantuan oleh guru kepada peserta didik pada tahap awal pembelajaran, kemudian menguranginya secara bertahap untuk memberikan kesempatan mandiri.

DAFTAR PUSTAKA

  • Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP). (2019). Pancasila dalam Tindakan: Penerapan Nilai-Nilai Musyawarah di Masyarakat. Jakarta: BPIP RI.
  • Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Pembelajaran Sekolah Dasar. Jakarta: Ditjen Dikti.
  • Kemendikbudristek. (2022). Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Fase A - Fase F. Jakarta: Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan.
  • Suryosubroto, B. (2009). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

LAMPIRAN

Lembar Observasi Keterampilan Dan Sikap Peserta Didik

NoAspek yang DinilaiKriteria Skor (1-4 dengan keterangan tiap skor)Skor
1Keaktifan Berpendapat dalam MusyawarahSkor 1: Peserta didik pasif, tidak mengeluarkan pendapat sama sekali.
Skor 2: Berpendapat hanya jika ditunjuk langsung oleh guru/ketua kelompok.
Skor 3: Aktif menyampaikan pendapat dengan bahasa yang santun.
Skor 4: Sangat aktif menyampaikan ide-ide kritis, santun, dan mendorong teman lain untuk ikut berpendapat.
2Sikap Menghargai Pendapat TemanSkor 1: Memotong pembicaraan teman dan mencela pendapat yang berbeda.
Skor 2: Acuh tak acuh saat teman lain sedang menyampaikan pendapat.
Skor 3: Mendengarkan teman yang berpendapat hingga selesai dengan tenang.
Skor 4: Mendengarkan dengan penuh empati, mengapresiasi pendapat teman, dan tidak memotong pembicaraan.
3Kerja Sama Pembuatan Karya (Gotong Royong)Skor 1: Tidak ikut serta mengerjakan karya kelompok (kliping/3D).
Skor 2: Ikut serta membuat karya jika disuruh berkali-kali oleh teman.
Skor 3: Melaksanakan pembagian tugas kelompok dengan baik hingga selesai.
Skor 4: Sangat proaktif membantu pembagian tugas, memfasilitasi kebutuhan alat kelompok, dan menjaga kekompakan.
4Penerapan Nilai Keadilan dalam KeputusanSkor 1: Memaksa kelompok untuk menuruti keinginan pribadinya saja.
Skor 2: Menerima keputusan kelompok dengan wajah cemberut atau terpaksa.
Skor 3: Menerima dan melaksanakan hasil kesepakatan kelompok secara bertanggung jawab.
Skor 4: Mengutamakan kepentingan bersama di atas keinginan pribadi serta mengajak kelompok bersikap adil.
5Keterampilan Presentasi dan KomunikasiSkor 1: Tidak mau berbicara saat presentasi karya di depan kelas.
Skor 2: Membaca teks naskah presentasi secara kaku dan suara sangat pelan.
Skor 3: Mempresentasikannya dengan lancar, suara jelas, dan menjelaskan poin karya.
Skor 4: Presentasi sangat percaya diri, artikulatif, menguasai pesan norma, dan Mampu menjawab pertanyaan dengan kritis.
 
Mengetahui,
Kepala Sekolah,
Sri Anggriyani, S.Pd.
NIP. 198004152008012016
 
Situbondo, ___________2026
Guru Kelas,
Didik Sadi, S.Pd.
NIP. 198406162025211130