IDENTITAS MODUL
| Satuan Pendidikan | : | SD Negeri 1 Wringin Anom |
| Nama Guru | : | Didik Sadi, S.Pd. |
| Mata Pelajaran | : | Pendidikan Pancasila |
| Kelas / Fase | : | Kelas V / C |
| Semester / Tahun Pelajaran | : | Ganjil / 2026/2027 |
| Alokasi Waktu | : | 4 x 35 menit (1 Pertemuan / 140 menit) |
| Materi / Topik | : | Menyusun skenario dialog, pembagian peran, dan alat pendukung untuk peragaan simulasi norma |
| Elemen Capaian Pembelajaran | : | Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 |
| Model Pembelajaran | : | Role Playing |
| Pendekatan Pembelajaran | : | Pembelajaran Mendalam (Deep Learning: Mindful, Meaningful, Joyful Learning) |
| Integrasi Lokal dan Diferensiasi | : | Diferensiasi proses (pembagian peran dan pembuatan karya 3D); Penyisipan bahasa daerah dalam dialog peragaan |
ANALISIS AWAL PEMBELAJARAN
Kesiapan Belajar Peserta Didik
Peserta didik di kelas V SD Negeri 1 Wringin Anom telah memahami dasar-dasar norma sopan santun dan aturan di sekolah secara teoritis. Namun, tingkat kemampuan merangkai kalimat dialog dan keberanian tampil di depan umum bervariasi. Sebagian peserta didik membutuhkan panduan terstruktur dalam menulis skenario, sementara sebagian lainnya sudah mampu berkreasi secara mandiri.
Minat dan Profil Belajar
Mayoritas peserta didik memiliki kecenderungan gaya belajar kinestetik dan visual-spasial. Mereka menyukai kegiatan ekspresif seperti berakting, membuat karya kerajinan tangan, dan bekerja dalam kelompok kolaboratif.
Karakteristik Lingkungan Sekolah dan Budaya Lokal
Lingkungan SD Negeri 1 Wringin Anom kaya akan nilai kesantunan lokal. Penggunaan bahasa daerah (bahasa Jawa/Madura setempat) dengan tingkatan bahasa yang halus (krama/santun) menjadi sarana efektif untuk memperkuat pemahaman norma sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.
CAPAIAN PEMBELAJARAN
Bekerja sama merancang dramatisasi penerapan norma sopan santun dan aturan sekolah.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan 1: Penyusunan Skenario Dialog
Melalui diskusi kelompok yang tertuntun, peserta didik mampu menyusun skenario dialog dramatisasi penerapan norma sopan santun dan aturan sekolah secara runtut, logis, dan mencerminkan nilai Pancasila.
Tujuan 2: Pembagian Peran Berbasis Kolaborasi
Melalui analisis kesiapan diri dan kesepakatan kelompok, peserta didik mampu mendistribusikan peran (pemeran, perancang properti, narator, sutradara) secara adil, bertanggung jawab, dan menghargai keberagaman kemampuan teman.
Tujuan 3: Pembuatan Alat Pendukung (Karya 3D)
Melalui pemanfaatan bahan berbasis proyek, peserta didik mampu merancang dan membuat alat pendukung berupa karya 3D (seperti papan pesan kebaikan norma 3D atau miniatur simbol kesantunan) untuk mengomunikasikan pesan norma kepada komunitas sekolah secara kreatif.
Tujuan 4: Simulasi dan Integrasi Budaya Lokal
Melalui peragaan sosiodrama, peserta didik mampu menyimulasikan skenario dialog yang menyisipkan ungkapan kesantunan bahasa daerah dengan percaya diri, penuh empati, dan menyenangkan.
PEMAHAMAN BERMAKNA
Norma sopan santun dan aturan sekolah bukan sekadar aturan tertulis untuk dihafal, melainkan panduan sikap hidup yang mewujudkan harmoni dan kedamaian. Menyampaikan pesan kebaikan norma melalui seni peran dan karya 3D mendidik kita untuk bertindak dengan penuh kesadaran (mindful), memahami makna pentingnya menghargai orang lain (meaningful), serta merayakan kebaikan dalam suasana yang menggembirakan (joyful).
PERTANYAAN PEMANTIK
Pertanyaan 1
Bagaimana perasaanmu ketika melihat teman yang menyapa guru dan sesama teman dengan ramah serta menggunakan bahasa yang santun?
Pertanyaan 2
Jika kamu melihat peristiwa pelanggaran aturan sekolah, bagaimana cara menegurnya melalui peragaan dialog yang tetap menjaga rasa hormat dan sopan santun?
Pertanyaan 3
Mengapa karya 3D berbentuk papan imbauan kebaikan dapat memperkuat pesan norma yang ingin kita sampaikan kepada warga sekolah?
PROFIL DAN KOMPETENSI YANG DIKEMBANGKAN
Profil Pelajar Pancasila
- Beriman, Bertakwaku kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia: Ditunjukkan melalui pengamalan keluhuran budi, penghormatan kepada sesama, dan tutur kata yang santun.
- Gotong Royong: Ditunjukkan melalui kerja sama aktif dalam menyusun skenario, berbagi peran, dan menyelesaikan pembuatan karya 3D bersama kelompok.
- Kreatif: Ditunjukkan melalui gagasan ide cerita dialog dan penciptaan visual karya 3D pesan kebaikan norma.
Kompetensi Abad 21 (4C)
- Communication: Keterampilan menyusun dialog, bertutur kata santun, dan menyampaikan ide karya.
- Collaboration: Keterampilan berbagi tugas dan menghargai pendapat kawan dalam kelompok.
- Critical Thinking: Keterampilan mengidentifikasi masalah norma di sekolah dan merumuskan solusinya dalam adegan peragaan.
- Creativity: Keterampilan merancang naskah dan mengolah bahan menjadi karya 3D pendukung simulasi.
MATERI PEMBELAJARAN
Konsep Utama
- Struktur Skenario Dialog Simulasi Norma: Pengenalan masalah (konflik aturan), penyelesaian dengan norma sopan santun, dan penutup berupa pesan kebaikan.
- Prinsip Pembagian Peran (Role Assignment): Penyesuaian peran berdasarkan minat dan potensi (Sutradara, Aktor, Pembuat Properti 3D, Narator).
- Pembuatan Alat Pendukung 3D Pesan Norma: Penggunaan bahan kertas/karton bekas, stik kayu, dan media warna untuk membuat papan imbauan 3D, kartu norma 3D, atau miniatur karakter norma.
- Integrasi Ungkapan Bahasa Daerah: Penggunaan frasa kesantunan seperti "Nyuwun sewu", "Matur nuwun", "Ngapunten", atau frasa lokal setara dalam dialog simulasi.
MODEL DAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN
Model Pembelajaran: Role Playing (Sosiodrama)
Sintaks Model Role Playing:
- Pemanasan dan Orientasi Masalah
- Pemilihan Pemeran dan Pembagian Tugas
- Penataan Panggung dan Properti 3D
- Penyiapan Pengamat (Audience)
- Pelaksanaan Peragaan (Simulasi Dialog)
- Diskusi, Evaluasi, dan Refleksi Bersama
Pendekatan Pembelajaran: Deep Learning (Pembelajaran Mendalam)
- Mindful Learning: Peserta didik diajak merenungkan pentingnya ungkapan santun dan menyadari dampak sikap santun terhadap perasaan orang lain.
- Meaningful Learning: Peserta didik menghubungkan materi norma dengan situasi nyata di SD Negeri 1 Wringin Anom serta menyebarkan pesan norma ke komunitas sekolah.
- Joyful Learning: Peserta didik menikmati proses bermain peran, mengekspresikan bakat seni, dan membuat karya 3D yang berwarna dan interaktif.
ASESMEN
Asesmen Diagnostik (Sebelum Pembelajaran)
- Teknik: Tanya jawab lisan dan pengamatan kesiapan kelompok.
- Instrumen: Pertanyaan pemantik mengenai pengalaman menerapkan norma sopan santun di sekolah.
Asesmen Formatif (Selama Proses Pembelajaran)
- Teknik: Observasi kinerja kelompok, penilaian proses penyusunan skenario, dan penilaian pembuatan karya 3D.
- Instrumen: Lembar observasi partisipasi gotong royong dan lembar cek naskah dialog.
Asesmen Sumatif (Akhir Pembelajaran)
- Teknik: Penilaian kinerja peragaan (Role Playing) dan unjuk kerja produk alat pendukung 3D.
- Instrumen: Rubrik penilaian peragaan dramatisasi dan penilaian kualitas karya 3D.
RUBRIK PENILAIAN
Rubrik Penilaian Kinerja Peragaan dan Karya 3D
| No | Aspek yang Dinilai | Skor 1 (Perlu Bimbingan) | Skor 2 (Cukup) | Skor 3 (Baik) | Skor 4 (Sangat Baik) | Skor |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Penyusunan Skenario Dialog | Dialog belum memuat pesan norma, alur cerita tidak jelas, dan penulisan belum terstruktur. | Dialog memuat norma tetapi alur cerita kurang logis dan penyusunan naskah belum lengkap. | Dialog terstruktur dengan jelas, memuat masalah dan penyelesaian norma sopan santun yang sesuai. | Dialog sangat terstruktur, memuat norma sopan santun secara mendalam, alur runtut, dan pesan kebaikan sangat kuat. | |
| 2 | Pembagian Peran dan Gotong Royong | Pembagian peran tidak adil, terjadi dominasi individu, dan kerja sama kelompok sangat kurang. | Pembagian peran ada tetapi beberapa anggota tidak menjalankan tugasnya dengan baik. | Pembagian peran berjalan adil, seluruh anggota berpartisipasi dan menunjukkan kerja sama baik. | Pembagian peran sangat efektif sesuai minat anggota, kerja sama sangat solid, dan saling mendukung. | |
| 3 | Pembuatan Alat Pendukung / Karya 3D | Karya 3D tidak selesai, pesan norma tidak terlihat, dan bentuk tidak rapi. | Karya 3D selesai tetapi bentuk kurang kokoh, elemen 3D minimal, dan pesan kurang jelas. | Karya 3D selesai rapi, memiliki dimensi 3D yang jelas, dan memuat pesan kebaikan norma yang mudah dibaca. | Karya 3D sangat kreatif, inovatif, kokoh, estetis, dan menyampaikan pesan kebaikan secara luar biasa kepada komunitas sekolah. | |
| 4 | Peragaan Role Playing & Bahasa Daerah | Ekspresi kaku, vokal tidak terdengar, tidak ada penyisipan bahasa daerah, dan tidak percaya diri. | Ekspresi dan vokal cukup, penyisipan bahasa daerah kurang tepat, dan masih ragu-ragu. | Ekspresi menjiwai, vokal jelas, menyisipkan ungkapan bahasa daerah secara tepat dan santun. | Penghayatan peran sangat alami, vokal sangat jelas, penyisipan bahasa daerah sangat fasih, santun, dan memukau penonton. |
LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Pendahuluan (20 Menit)
Kegiatan Pembukaan dan Kesadaran Diri (Mindful Learning)
- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa peserta didik dengan hangat, dan mengajak salah satu peserta didik memimpin doa bersama.
- Guru mengondisikan kelas agar siap belajar melalui kegiatan kesadaran penuh (mindfulness) "Hening Sejenak": Peserta didik menarik napas dalam-dalam, merasakan kehadiran di kelas, dan mengarahkan pikiran pada niat berbuat baik.
- Guru menampilkan tayangan video pendek melalui Smart TV tentang dinamika interaksi antarsiswa dan guru di sekolah (contoh menyapa guru, berbicara saat pelajaran, dan menyela pembicaraan).
Apersepsi dan Pemantik (Meaningful Learning)
- Guru mengajukan pertanyaan pemantik: "Bagaimana perasaan kalian saat orang lain menyapa dengan ungkapan bahasa daerah yang sangat halus?"
- Guru mengaitkan jawaban peserta didik dengan tujuan pembelajaran hari ini: menyusun skenario dialog, membagi peran, membuat karya 3D pesan norma, dan mendramatisasikannya.
- Guru menyampaikan garis besar alokasi waktu dan asesmen yang akan dilakukan.
Kegiatan Inti (100 Menit)
Tahap 1: Orientasi Masalah dan Pembentukan Kelompok (15 Menit)
- Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok heterogen (masing-masing 4-5 siswa).
- Guru membagikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang memuat panduan perancangan skenario.
- Setiap kelompok memilih salah satu topik kasus norma sopan santun di lingkungan SD Negeri 1 Wringin Anom (misalnya: bertutur kata santun kepada guru, menghargai teman yang sedang bicara, mematuhi aturan piket kelas, atau budaya antre di kantin).
Tahap 2: Merancang Skenario dan Diferensiasi Pembagian Peran (25 Menit)
- Peserta didik berdiskusi merancang skenario dialog. Guru memberikan bimbingan sesuai tingkat kesiapan belajar (diferensiasi proses):
- Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan kerangka skenario berumpan (fill-in the blank).
- Kelompok mahir dibebaskan merancang dialog secara mandiri dengan pengembangan situasi kompleks.
- Kelompok membagi peran secara adil berdasarkan minat dan bakat: Aktor/Aktris (pemeran utama), Sutradara/Penulis, Narator, dan Perancang Alat Pendukung 3D.
- Peserta didik menyisipkan ungkapan bahasa daerah (misalnya bahasa Jawa/Madura santun) ke dalam dialog sebagai wujud kearifan lokal.
Tahap 3: Pembuatan Alat Pendukung / Properti Karya 3D Pesan Kebaikan (25 Menit)
- Peserta didik dalam kelompok berbagi tugas membuat alat pendukung berupa karya 3D.
- Alat pendukung dapat berupa: Papan Imbauan Pop-Up 3D, Maskot Norma 3D dari Karton, atau Papan Simbol Kesantunan 3D yang memuat pesan kebaikan norma untuk komunitas sekolah.
- Guru mendampingi proses pembuatan karya 3D, memastikan penggunaan bahan bekas/alat potong dilakukan secara aman dan gotong royong. (Joyful Learning)
Tahap 4: Pelatihan Peragaan (Role Playing) (15 Menit)
- Setiap kelompok berlatih mendramatisasikan skenario yang telah disusun menggunakan alat pendukung 3D yang sudah selesai dibuat.
- Sutradara kelompok mengarahkan vokal, intonasi, ekspresi wajah, serta penyampaian pesan kebaikan norma agar sampai kepada pengamat dengan jelas dan menyentuh hati.
Tahap 5: Peragaan Simulasi dan Apresiasi Karya (20 Menit)
- Masing-masing kelompok menampilkan peragaan Role Playing di depan kelas secara bergantian.
- Pada akhir peragaan, kelompok mengangkat dan menunjukkan karya 3D pesan kebaikan norma mereka sambil menyampaikan imbauan serentak kepada seluruh teman sekelas.
- Kelompok lain berperan sebagai pengamat (audien) yang mencatat hal positif dan pesan moral dari penampilan teman.
Penutup (20 Menit)
Evaluasi dan Refleksi Pembelajaran (Meaningful & Mindful Learning)
- Guru mengapresiasi seluruh penampilan kelompok dengan tepuk tangan bersama dan pujian spesifik atas usaha keras serta kreativitas karya 3D mereka.
- Peserta didik bersama guru menyimpulkan inti pembelajaran: bahwa norma sopan santun dan aturan sekolah dapat diwujudkan melalui ucapan yang santun, tindakan yang menghargai, dan penyebaran pesan kebaikan secara kreatif.
- Peserta didik mengisi lembar refleksi diri mengenai perasaan dan pengalaman belajar hari ini.
Tindak Lanjut dan Doa Penutup
- Guru menyampaikan bahwa karya 3D yang telah dibuat akan dipajang di area publik sekolah (seperti mading sekolah atau teras kelas) untuk mengomunikasikan pesan kebaikan norma kepada seluruh komunitas SD Negeri 1 Wringin Anom.
- Guru memimpin doa penutup pembelajaran dan mengucapkan salam.
PENGALAMAN BELAJAR MENDALAM
Mindful Learning (Pembelajaran Menyadari)
Peserta didik secara sadar diajak menyelami perasaan ketika diperlakukan dengan santun versus tidak santun. Melalui penghayatan peran dalam sosiodrama, peserta didik melatih empati untuk memahami emosi lawan bicara, sehingga timbul kesadaran internal untuk senantiasa bertutur kata dan berperilaku sesuai norma tanpa perlu dipaksa.
Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)
Pembelajaran tidak berhenti pada penyusunan naskah di dalam kelas. Peserta didik menghubungkan materi norma dengan kenyataan sehari-hari di sekolah dan budaya lokal. Karya 3D yang mereka ciptakan dipajang di lingkungan sekolah sebagai sarana nyata menyebarkan kebaikan kepada adik kelas, teman sebaya, dan guru (komunitas sekolah).
Joyful Learning (Pembelajaran Menggembirakan)
Proses belajar dirancang interaktif dan menyenangkan melalui seni peran, eksplorasi kinestetik, pembuatan kerajinan tangan 3D yang berwarna-warni, serta kebebasan menggunakan bahasa daerah secara alami dan jenaka namun tetap santun. Hal ini menciptakan iklim kelas yang positif, bebas dari rasa takut salah, dan penuh rasa percaya diri.
STRATEGI DIFERENSIASI
Diferensiasi Proses (Pembagian Peran dan Kerja Kelompok)
- Peserta didik yang memiliki kecenderungan kinestetik dan verbal tinggi dialokasikan menjadi pemeran utama dalam simulasi.
- Peserta didik dengan minat visual-spasial fokus pada perancangan dan pembuatan karya 3D pesan norma.
- Peserta didik yang tekun dan teratur dipercaya menjadi sutradara atau pencatat skenario.
Diferensiasi Konten dan Produk
- Tingkat kerumitan skenario dialog disesuaikan: Kelompok yang membutuhkan bimbingan membuat skenario 4-6 baris dialog sederhana, sedangkan kelompok mahir membuat 8-12 baris dialog dengan dinamika konflik norma yang lebih kompleks.
- Karya 3D dapat bervariasi bentuknya (papan pop-up, diorama sederhana, atau struktur 3D bertingkat) sesuai tingkat kreativitas dan ketersediaan bahan kelompok.
Integrasi Muatan Lokal
- Dalam naskah dialog, setiap kelompok diwajibkan menyisipkan setidaknya 2-3 ungkapan kesantunan bahasa daerah (seperti: "Nyuwun sewu", "Matur nuwun", "Ngapunten dulur") untuk memperkuat kecintaan terhadap budaya lokal.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI
Smart TV
Digunakan untuk menayangkan video contoh dramatisasi norma sopan santun dan aturan sekolah sebagai pemantik inspirasi bagi peserta didik.
Laptop dan Internet
Digunakan oleh guru untuk memutar media audio-visual, mencari referensi bentuk karya 3D interaktif, serta mengakses platform lagu daerah pendukung suasana simulasi.
MEDIA DAN SUMBER BELAJAR
Media Pembelajaran
- Video peragaan norma sopan santun di sekolah.
- Smart TV dan Laptop.
- Bahan pembuatan karya 3D: Karton bekas, kertas warna-warni, stik es krim, lem, gunting, spidol warna, dan penggaris.
- Topeng karakter sederhana atau papan nama peran.
Sumber Belajar
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila Kelas V Kurikulum Merdeka, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila Kelas V.
- Lingkungan Sosial SD Negeri 1 Wringin Anom.
- Kamus/Glosarium Ungkapan Kesantunan Bahasa Daerah Setempat.
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)
Identitas Peserta Didik
| Label | Isi |
|---|---|
| Nama Kelompok | ... |
| Anggota Kelompok | 1. ... 2. ... 3. ... 4. ... 5. ... |
| Kelas / Fase | Kelas V / C |
| Tanggal | ... |
Judul Aktivitas
Merancang Skenario Dialog, Pembagian Peran, dan Karya 3D Pesan Norma Sopan Santun Sekolah
Petunjuk Kerja Kelompok
- Diskusi bersama kelompokmu untuk menentukan satu topik norma sopan santun atau aturan sekolah yang sering dijumpai sehari-hari.
- Lengkapi tabel perancangan naskah dialog di bawah ini. Pastikan menyisipkan kata/ungkapan bahasa daerah yang santun.
- Bagi tugas setiap anggota kelompok secara adil pada tabel pembagian peran.
- Rancang dan buatlah karya 3D berisi pesan kebaikan norma untuk ditunjukkan saat peragaan!
Perancangan Topik dan Masalah
- Topik Norma / Aturan: ...
- Lokasi Kejadian dalam Cerita: ...
- Pesan Kebaikan yang Ingin Disampaikan: ...
Tabel Pembagian Peran Kelompok
| Nama Anggota | Peran dalam Kelompok (Aktor/Sutradara/Pembuat Properti 3D/Narator) | Peran dalam Cerita Dialog |
|---|---|---|
| ... | ... | ... |
| ... | ... | ... |
| ... | ... | ... |
| ... | ... | ... |
| ... | ... | ... |
Format Penulisan Skenario Dialog Sederhana
| Tokoh | Dialog / Ucapan (Sertakan Ungkapan Bahasa Daerah Santun) | Keterangan Gerak / Ekspresi |
|---|---|---|
| Narator | ... | Membaca dengan nada jelas |
| Tokoh 1 | ... | ... |
| Tokoh 2 | ... | ... |
| Tokoh 3 | ... | ... |
| Tokoh 1 | ... | ... |
| Tokoh 2 | ... | ... |
| Narator / Serentak | Pesan Kebaikan Norma (Sambil menampilkan Produk 3D): ... | Berdiri tegak dan mengangkat karya 3D bersama-sama |
Perancangan Karya 3D Pesan Kebaikan Norma
- Nama Karya 3D: (Contoh: Papan Pop-Up Kesantunan / Miniatur Pesan Norma)
- Bahan yang Digunakan: ...
- Tulisan Pesan Utama pada Karya 3D: ...
REMEDIAL
Program Bimbingan Tersasar
- Sasaran: Peserta didik yang mengalami kesulitan dalam menyusun dialog atau merasa malu/ragu untuk tampil bermain peran.
- Bentuk Kegiatan:
- Bimbingan perorangan atau kelompok kecil (2-3 siswa) oleh guru.
- Guru memberikan templat dialog yang lebih sederhana dengan isian singkat.
- Latihan membaca dialog berulang dalam lingkungan terbatas (hanya bersama guru) untuk menumbuhkan rasa percaya diri sebelum tampil di depan teman sekelas.
- Pemberian peran pendukung yang mengutamakan pemegangan alat pendukung 3D atau narator singkat.
PENGAYAAN
Program Pengayaan dan Pengembangan Potensi
- Sasaran: Peserta didik yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam menyusun naskah dialog, seni peran, dan pembuatan karya 3D.
- Bentuk Kegiatan:
- Menjadi "Duta Kesantunan Kelas" yang mengkoordinasikan pemajangan karya 3D pesan norma di mading atau area strategis SD Negeri 1 Wringin Anom.
- Mengembangkan skenario dialog menjadi video sosiodrama pendek yang direkam menggunakan perangkat sekolah untuk diunggah pada media sosial resmi sekolah.
- Menampilkan peragaan simulasi norma pada kegiatan Apel Bendera atau Pembiasaan Pagi Sekolah.
REFLEKSI GURU
| No | Pertanyaan Refleksi Guru | Jawaban / Hasil Evaluasi Guru |
|---|---|---|
| 1 | Apakah seluruh kelompok berhasil menyusun skenario dialog dan membagi peran secara adil dan kolaboratif? | Seluruh kelompok berhasil menyusun skenario. Pembagian peran berjalan lancar karena setiap siswa memilih peran yang sesuai dengan minatnya. |
| 2 | Bagaimana efektivitas integrasi pembuatan karya 3D dalam meningkatkan pemahaman bermakna (meaningful learning) dan kegembiraan belajar peserta didik? | Pembuatan karya 3D sangat meningkatkan antusiasme (joyful learning). Peserta didik merasa bangga karena pesan norma dapat diwujudkan dalam bentuk fisik 3D yang indah. |
| 3 | Apakah penyisipan ungkapan bahasa daerah dalam dialog peragaan dapat dilaksanakan dengan natural dan santun oleh peserta didik? | Ya, peserta didik sangat antusias menyisipkan frasa kesantunan bahasa daerah. Hal ini membuat simulasi terasa dekat dengan kehidupan nyata mereka di Wringin Anom. |
| 4 | Apa kendala utama yang dihadapi selama proses pembelajaran dan bagaimana langkah perbaikannya untuk pertemuan berikutnya? | Kendala utama adalah manajemen waktu saat pembuatan karya 3D yang agak memakan waktu. Perbaikan selanjutnya adalah menyiapkan bahan karton yang sudah dipotong sesuai ukuran dasar. |
REFLEKSI PESERTA DIDIK
| No | Pertanyaan Refleksi Peserta Didik | Tanggapan Peserta Didik |
|---|---|---|
| 1 | Bagian mana dari kegiatan hari ini yang paling menyenangkan bagimu (menulis naskah, membuat karya 3D, atau bermain peran)? | ... |
| 2 | Apakah kamu merasa nyaman dan percaya diri saat mengucapkan dialog santun dan menyisipkan bahasa daerah bersama kelompokmu? | ... |
| 3 | Nilai norma sopan santun apa yang akan langsung kamu praktikkan di sekolah dan rumah setelah pembelajaran hari ini? | ... |
| 4 | Seberapa puas kamu dengan karya 3D pesan kebaikan yang dibuat oleh kelompokmu? (Sangat Puas / Puas / Cukup Puas) | ... |
BAHAN BACAAN
Bahan Bacaan Guru
- Pentingnya Pembelajaran Peran (Role Playing) dalam Membentuk Karakter Kesantunan Peserta Didik Sekolah Dasar. Model role playing memungkinkan peserta didik mengalami secara langsung situasi emosional saat melakukan pelanggaran atau penegakan norma. Melalui sosiodrama, siswa belajar empati, yaitu kemampuan memahami perasaan orang lain saat berinteraksi.
- Teknik Integrasi Deep Learning (Mindful, Meaningful, Joyful) dalam Pendidikan Pancasila: Mindful dibangun melalui perenungan dampak sikap; Meaningful dibentuk melalui pemanfaatan karya 3D untuk berdampak pada komunitas sekolah; Joyful dirasakan melalui proses kreasi seni peran dan kerajinan tangan.
- Penguatan Kautaman Budi Melalui Bahasa Daerah: Ungkapan bahasa daerah seperti basa krama/santun memiliki tingkatan rasa menghormati yang tinggi, sangat efektif membentuk karakter sopan santun anak sejak dini.
Bahan Bacaan Peserta Didik
- Apa itu Norma Sopan Santun? Norma sopan santun adalah aturan hidup berteman dan bermasyarakat yang timbul dari pergaulan sehari-hari. Contoh norma sopan santun di sekolah:
- Menyapa guru dan teman dengan senyum dan salam yang ramah.
- Menggunakan kata "Tolong" saat meminta bantuan, "Matur nuwun/Terima kasih" setelah dibantu, dan "Ngapunten/Maaf" jika melakukan kesalahan.
- Tidak memotong pembicaraan orang lain yang sedang berbicara.
- Mendengarkan penjelasan guru di kelas dengan tertib.
- Cara Membuat Skenario Dialog yang Baik: Skenario dialog berisi percakapan antara dua orang atau lebih. Tuliskan nama tokoh di sebelah kiri, lalu isi percakapannya di sebelah kanan. Sertakan tanda kurung () untuk petunjuk ekspresi wajah atau gerakan tokoh!
GLOSARIUM
- Dramatisasi: Proses mendramatiskan atau memementaskan suatu peristiwa/cerita ke dalam bentuk seni peran.
- Skenario Dialog: Naskah tertulis yang memuat urutan percakapan dan petunjuk tindakan tokoh dalam suatu pertunjukan peragaan.
- Role Playing: Model pembelajaran bermain peran di mana peserta didik memperagakan situasi sosial untuk mempelajari nilai, sikap, dan perilaku.
- Properti 3D: Alat pendukung peragaan yang memiliki tiga dimensi (panjang, lebar, tinggi/volume) seperti papan pesan pop-up atau bentuk model fisik.
- Norma Sopan Santun: Aturan atau kaidah tingkah laku yang bersumber dari kebiasaan, kepatutan, dan kepantasan dalam masyarakat.
- Komunitas Sekolah: Seluruh warga yang berada di lingkungan sekolah, meliputi peserta didik, guru, kepala sekolah, staf, dan penjaga sekolah.
- Mindful Learning: Pembelajaran yang dilakukan dengan kesadaran penuh terhadap proses, pikiran, dan perasaan saat belajar.
- Meaningful Learning: Pembelajaran bermakna di mana peserta didik dapat mengaitkan informasi baru dengan pengalaman nyata kehidupan.
- Joyful Learning: Pembelajaran yang menghadirkan suasana gembira, positif, dan menantang bagi peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
- Shaftel, F., & Shaftel, G. (1967). Role-Playing for Social Values: Decision-Making in the Social Studies. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
- Zaini, H., Munthe, B., & Sekarwangi, S. A. (2008). Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD (Center for Teaching Staff Development).
LAMPIRAN
Lembar Observasi Penilaian Sikap dan Kinerja Kelompok
| No | Aspek yang Dinilai | Kriteria Skor 1 | Kriteria Skor 2 | Kriteria Skor 3 | Kriteria Skor 4 | Skor |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Partisipasi Gotong Royong | Pasif, tidak mau bekerja sama, dan mengganggu anggota kelompok lain. | Kurang aktif, hanya bekerja jika diperintah oleh teman kelompok. | Aktif bekerja sama, menjalankan peran yang disepakati dengan baik. | Sangat aktif, memimpin kerja sama kelompok, dan membantu teman yang kesulitan. | |
| 2 | Kesantunan Berbahasa (Termasuk Bahasa Daerah) | Menggunakan kata-kata kasar/tidak santun, tidak menyisipkan ungkapan kesantunan. | Berbahasa cukup santun, namun belum konsisten dan belum menyisipkan bahasa daerah. | Berbahasa santun, menyisipkan 1-2 ungkapan bahasa daerah dengan tepat. | Berbahasa sangat santun, fasih menyisipkan ungkapan bahasa daerah secara alami dan terbiasa. | |
| 3 | Kerapian dan Keberadaan Pesan pada Karya 3D | Karya 3D tidak rapi, tidak memiliki dimensi 3D, dan pesan norma tidak tertulis. | Karya 3D kurang rapi, pesan norma kurang jelas atau terlalu singkat. | Karya 3D rapi, memuat pesan norma sopan santun yang jelas dan mudah dibaca. | Karya 3D sangat estetis, inovatif, kokoh, dan pesan norma sangat inspiratif bagi warga sekolah. | |
| 4 | Keberanian dan Penghayatan Peran (Role Play) | Sangat malu, membaca naskah terus-menerus, vokal tidak terdengar. | Kurang percaya diri, sesekali melihat naskah, vokal agak pelan. | Percaya diri, tidak melihat naskah, menghayati peran dengan vokal yang jelas. | Sangat percaya diri, ekspresif, menjiwai peran sepenuhnya, dan memukau penonton. |