Bullets Library
Number Library
Border Sel:
Shading Sel:
Modul Ajar

IDENTITAS MODUL

Satuan Pendidikan : SD Negeri 1 Wringin Anom
Nama Guru : Didik Sadi, S.Pd.
Mata Pelajaran : Matematika
Fase / Kelas : C / V (Lima)
Semester / Tahun Ajaran : Ganjil / 2026/2027
Domain / Topik : Bilangan / FPB dan KPK Dalam Soal Cerita
Alokasi Waktu : 3 x 35 Menit (1 Pertemuan)

ANALISIS AWAL PEMBELAJARAN

Karakteristik Peserta Didik

Peserta didik kelas V SD Negeri 1 Wringin Anom secara umum memiliki kecenderungan gaya belajar visual yang dominan. Mereka lebih mudah menyerap informasi melalui tayangan gambar, diagram berwarna, dan media digital interaktif. Namun, berdasarkan asesmen diagnostik awal, sebagian besar peserta didik belum memahami konsep abstrak KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) dan FPB (Faktor Persekutuan Terbesar) serta sering tertukar dalam menentukan penggunaan strategi penyelesaian pada soal cerita kehidupan sehari-hari.

Pengetahuan Prasyarat

Peserta didik telah mempelajari perkalian dasar (1-10), pembagian dasar, serta mengenal konsep bilangan prima sederhana (2, 3, 5, 7).

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Mengintegrasikan pemahaman KPK (jadwal berulang) dan FPB (pembagian kelompok merata) pada kasus nyata.

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Melalui pengamatan tayangan media visual interaktif pada Smart TV, peserta didik mampu mengidentifikasi karakteristik masalah soal cerita yang membutuhkan penyelesaian berbasis KPK (kejadian berulang) atau FPB (pembagian merata) dengan akurat.
  2. Melalui kegiatan diskusi kelompok berorientasi Problem Based Learning, peserta didik mampu menerapkan metode faktorisasi prima (pohon faktor) atau pembagian berulang (tabel) sesuai minat belajar untuk menyelesaikan soal cerita kontekstual berbasis kearifan lokal pasaran Jawa secara tepat.
  3. Melalui presentasi hasil kerja kelompok, peserta didik mampu menyimpulkan solusi dari permasalahan kontekstual KPK dan FPB dengan percaya diri dan komunikatif.

PEMAHAMAN BERMAKNA

Konsep KPK membantu kita memprediksi kesamaan waktu dari dua atau lebih kejadian yang berulang secara periodik (seperti keteraturan hari pasaran Jawa: Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon, atau jadwal ronde malam). Sementara itu, konsep FPB membantu kita membagi objek materi atau barang secara adil, rata, dan proporsional tanpa ada sisa dalam kegiatan sosial kemasyarakatan (seperti pembagian bungkus makanan acara keagamaan atau tradisi lokal).

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian memperhatikan bahwa pasar tradisional di daerah kita sangat ramai setiap hari pasaran tertentu, misalnya Pon atau Kliwon?
  2. Jika Pak Raden pergi ke pasar setiap 4 hari sekali pada hari Legi, dan Pak Kusno pergi ke pasar setiap 6 hari sekali pada hari Legi, pada hari pasaran ke berapa mereka akan bertemu lagi di pasar secara bersamaan?
  3. Jika ibu memiliki 12 kue apem dan 18 kue pasung untuk acara syukuran, bagaimana cara ibu membagikannya ke dalam wadah agar setiap wadah berisi jumlah kue yang sama banyak tanpa ada sisa?

PROFIL DAN KOMPETENSI YANG DIKEMBANGKAN

Profil Pelajar Pancasila

  1. Bernalar Kritis: Menganalisis perbedaan struktur masalah antara KPK dan FPB pada soal cerita kontekstual.
  2. Gotong Royong: Berkolaborasi aktif dalam diskusi kelompok untuk memecahkan masalah matematika yang disajikan.
  3. Berkebinekaan Global: Mengenal dan melestarikan sistem penanggalan kearifan lokal (pasaran Jawa) sebagai konteks perhitungan matematis.

Kompetensi Deep Learning

  1. Mindful Learning: Kesadaran penuh saat menganalisis kata kunci dalam soal cerita tanpa terburu-buru menghitung.
  2. Meaningful Learning: Menghubungkan matematika dengan realitas sosial budaya masyarakat sekitar Wringin Anom.
  3. Joyful Learning: Pengalaman belajar yang menyenangkan melalui visualisasi digital dan analisis siklus pasaran Jawa.

MATERI PEMBELAJARAN

Pengertian Konseptual

  1. Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK): Kelipatan terkecil yang sama dari dua bilangan atau lebih. Digunakan untuk mencari waktu pertemuaan kembali pada kasus kejadian berulang (kata kunci: bersama-sama, setiap... sekali, bersamaan lagi).
  2. Faktor Persekutuan Terbesar (FPB): Faktor terbesar yang sama dari dua bilangan atau lebih. Digunakan untuk mengelompokkan atau membagi barang secara rata (kata kunci: paling banyak, jumlah sama, sama rata).

Metode Penyelesaian

  1. Metode Faktorisasi Prima (Pohon Faktor):
  • Menguraikan bilangan menjadi perkalian faktor-faktor prima.
  • KPK: Mengalikan semua faktor prima. Jika ada faktor yang sama, ambil yang pangkatnya terbesar.
  • FPB: Mengalikan faktor prima yang sama saja dengan pangkat terkecil.
  1. Metode Pembagian Berulang (Tabel/Sengkedan):
  • Membagi bilangan-bilangan secara bersamaan menggunakan bilangan prima.
  • KPK: Hasil kali seluruh pembagi di kolom kiri.
  • FPB: Hasil kali pembagi yang dapat membagi habis seluruh bilangan secara bersamaan.

Integrasi Kearifan Lokal

Sistem kalender Jawa memiliki 5 hari pasaran: Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Siklus ini berulang setiap 5 hari dan berpadu dengan 7 hari seminggu (Senin-Minggu). Konsep perkalian kelipatan diterapkan untuk menentukan pertemuan hari pasaran berulang.

MODEL DAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN

  1. Model Pembelajaran: Problem Based Learning (PBL)
  2. Pendekatan Pembelajaran: Deep Learning (Mindful, Meaningful, Joyful Learning) dan Culturally Responsive Teaching (CRT).
  3. Metode Pembelajaran: Visual Display, Diskusi Kelompok, Tanya Jawab, Penugasan Diferensiasi, Presentasi.

ASESMEN

Asesmen Diagnostik (Sebelum Pembelajaran)

  • Teknik: Tes Tertulis Kognitif Awal (3 Soal singkat perkalian dasar dan bilangan prima).

Asesmen Formatif (Selama Pembelajaran)

  • Teknik: Lembar Observasi Kinerja Diskusi Kelompok dan Penilaian LKPD.

Asesmen Sumatif (Akhir Pembelajaran)

  • Teknik: Tes Tertulis Individu (Soal Cerita Pemahaman Konsep KPK dan FPB).

RUBRIK PENILAIAN

Rubrik Penilaian Asesmen Formatif (Kinerja Kelompok)

NoAspek yang DinilaiKriteria SkorSkor
1Kemampuan Menganalisis Soal Cerita (KPK/FPB)Skor 4: Sangat tepat mengidentifikasi kata kunci dan memilih konsep (KPK atau FPB) tanpa kekeliruan.
Skor 3: Tepat mengidentifikasi kata kunci dan memilih konsep dengan sedikit bimbingan.
Skor 2: Kurang tepat menentukan konsep, perlu bantuan untuk menemukan kata kunci.
Skor 1: Tidak mampu mengidentifikasi kata kunci maupun memilih konsep matematika.
2Penggunaan Strategi (Pohon Faktor / Tabel)Skor 4: Langkah faktorisasi atau pembagian berulang ditulis sangat lengkap, urut, dan perhitungan akurat.
Skor 3: Langkah penulisan cukup lengkap dan perhitungan benar, ada sedikit kesalahan penulisan pangkat/pembagi.
Skor 2: Langkah penulisan tidak runtut dan terdapat beberapa kesalahan hitung.
Skor 1: Tidak menunjukkan strategi penyelesaian yang jelas atau perhitungan salah total.
3Kerjasama dan Kolaborasi KelompokSkor 4: Seluruh anggota kelompok berpartisipasi aktif, saling membantu, dan menghargai pendapat.
Skor 3: Sebagian besar anggota aktif, hanya 1 anggota yang pasif saat diskusi.
Skor 2: Diskusi didominasi oleh satu orang saja, anggota lain kurang peduli.
Skor 1: Anggota kelompok bekerja sendiri-sendiri dan tidak terjadi interaksi.
4Presentasi Hasil DiskusiSkor 4: Menyampaikan hasil diskusi dengan suara jelas, runtut, percaya diri, dan menjawab pertanyaan dengan baik.
Skor 3: Menyampaikan hasil diskusi dengan jelas namun kurang runtut atau sedikit ragu-ragu.
Skor 2: Menyampaikan hasil dengan terbata-bata dan tergantung penuh pada catatan.
Skor 3: Tidak mau menyampaikan hasil atau tidak bersuara saat di depan kelas.

Rubrik Penilaian Asesmen Sumatif (Individu)

NoAspek yang DinilaiKriteria SkorSkor
1Pemahaman Konsep Pemecahan MasalahSkor 4: Mampu menguraikan diketahui, ditanya, serta menentukan operasi KPK/FPB dengan benar pada seluruh soal.
Skor 3: Mampu menguraikan diketahui dan ditanya dengan benar pada sebagian besar soal.
Skor 2: Menguraikan diketahui dan ditanya secara terbatas, sering keliru menentukan operasi.
Skor 1: Tidak menuliskan apa yang diketahui/ditanya dan salah memilih operasi.
2Akurasi Perhitungan MatematikaSkor 4: Hasil perhitungan akhir seluruh soal tepat dan menggunakan satuan/kesimpulan kalimat yang benar.
Skor 3: Hasil perhitungan akhir mayoritas benar, namun ada kekeliruan kecil pada hitungan akhir 1 soal.
Skor 2: Hanya setengah perhitungan yang benar, tidak menuliskan kesimpulan kalimat akhir.
Skor 1: Seluruh hasil perhitungan akhir salah.

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Kegiatan Pendahuluan (15 Menit)

  1. Guru membuka pembelajaran dengan salam hangat, menanyakan kabar peserta didik, dan mengecek kesiapan fisik serta ruangan kelas (Mindful Learning).
  2. Salah satu peserta didik memimpin doa bersama.
  3. Guru mengecek kehadiran peserta didik.
  4. Melalui Smart TV, guru menampilkan gambar suasana Pasar Tradisional Wringin Anom dan kalender Jawa yang menunjukkan hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).
  5. Apersepsi: Guru bertanya, "Siapa yang pernah diajak ibu ke pasar saat hari pasaran Kliwon? Mengapa pasar lebih ramai pada hari itu?" (Meaningful Learning & CRT).
  6. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan aktivitas yang akan dilakukan serta menekankan pentingnya kerja sama.

Kegiatan Inti (75 Menit)

Fase 1: Orientasi Peserta Didik pada Masalah (15 Menit)

  1. Guru menampilkan tayangan video visual interaktif dan slide animasi pada Smart TV yang menyajikan kasus kontekstual:
  • Kasus 1: "Mbah Sastro pergi ke pasar menjual hasil panen setiap 4 hari sekali pada pasaran Pon. Mbah Citro menjual hasil panen setiap 6 hari sekali pada pasaran Pon. Setelah berapa harikah mereka akan bertemu kembali di pasar pada pasaran yang sama?"
  • Kasus 2: "Pak Lurah Wringin Anom mendapatkan sumbangan 24 karung beras dan 36 bungkus minyak goreng untuk dibagikan kepada warga terdampak banjir. Pak Lurah ingin membagikan paket sembako tersebut ke sebanyak-banyaknya KK dengan isi setiap paket persis sama. Berapa banyak paket yang dapat dibuat?"
  1. Peserta didik mengamati visualisasi teks dan animasi gambar yang disajikan (Memfasilitasi Peserta Didik Visual).
  2. Guru mengajukan pertanyaan penuntun: "Mana di antara dua kasus ini yang mencari waktu berulang? Mana yang membagi kelompok secara adil?" (Mindful Learning).

Fase 2: Mengorganisasikan Peserta Didik untuk Belajar (10 Menit)

  1. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok kecil (setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang) heterogen berdasarkan tingkat kemampuan awal.
  2. Guru membagikan LKPD berbasis kearifan lokal kepada setiap kelompok.
  3. Guru memberikan arahan tentang pilihan strategi penyelesaian yang bebas disepakati kelompok (Diferensiasi Proses):
  • Kelompok dapat memilih menggunakan metode Pohon Faktor (Faktorisasi Prima) dengan diagram garis berwarna.
  • Kelompok dapat memilih menggunakan metode Pembagian Berulang (Tabel/Sengkedan) dengan teknik warna pembagi.

Fase 3: Membimbing Penyelidikan Individu maupun Kelompok (25 Menit)

  1. Peserta didik secara bergotong royong mendiskusikan masalah dalam LKPD.
  2. Peserta didik visual memanfaatkan alat bantu gambar pohon faktor berwarna dan skema tabel bergaris yang disediakan guru pada kertas karton/LKPD.
  3. Guru berkeliling melakukan pembimbingan intensif (scaffolding) bagi kelompok yang membutuhkan bantuan, terutama membimbing analisis kata kunci dalam soal cerita.
  4. Guru memastikan setiap anggota kelompok terlibat aktif dan memahami langkah kerja yang dipilih kelompoknya.

Fase 4: Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya (15 Menit)

  1. Setiap kelompok menyusun hasil penyelesaian soal cerita pada lembar kerja poster/LKPD secara rapi dan estetis (diberi warna/penanda visual).
  2. Perwakilan kelompok secara bergantian mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas dengan memanfaatkan bantuan Smart TV (menampilkan hasil foto kerja kelompok melalui kamera/mirroring laptop).
  3. Kelompok lain mengamati, mencermati, dan memberikan tanggapan secara santun.

Fase 5: Menganalisis dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah (10 Menit)

  1. Guru memberikan umpan balik konseptual terhadap hasil kerja seluruh kelompok.
  2. Guru menekankan perbedaan kunci:
  • Jika soal menanyakan "kapan bersama-sama lagi" atau "setiap berapa hari sekali", gunakan KPK.
  • Jika soal menanyakan "berapa banyak wadah/paket terbanyak" atau "jumlah sama rata", gunakan FPB.
  1. Peserta didik meluruskan miskonsepsi yang sempat muncul selama proses diskusi (Meaningful Learning).

Kegiatan Penutup (15 Menit)

  1. Peserta didik bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dipelajari.
  2. Peserta didik mengerjakan tes evaluasi individu (Asesmen Sumatif singkat) secara mandiri.
  3. Guru dan peserta didik melakukan refleksi kegiatan pembelajaran (Joyful Learning).
  4. Guru memberikan informasi singkat mengenai materi pada pertemuan berikutnya.
  5. Pembelajaran ditutup dengan doa bersama dan salam.

PENGALAMAN BELAJAR MENDALAM

Mindful Learning (Belajar Bermakna dan Sadar)

Peserta didik dianjurkan tidak langsung melakukan perhitungan matematis saat membaca soal cerita. Mereka dilatih menyadari kata kunci konteks (misal: "setiap... hari" vs "jumlah sama banyak") sehingga sadar penuh alasan di balik pemilihan operasi KPK atau FPB.

Meaningful Learning (Keterhubungan Konteks)

Matematika ditautkan langsung dengan realitas kehidupan sosial budaya masyarakat Wringin Anom, yaitu sistem pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) serta tradisi berbagi rezeki dalam bentuk bingkisan/paket sembako.

Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan)

Penggunaan media Smart TV yang menampilkan animasi berwarna, visualisasi diagram pohon faktor bergaris warna-warni, serta kebebasan memilih strategi penyelesaian menciptakan suasana belajar yang tidak menakutkan dan mengasyikkan.

STRATEGI DIFERENSIASI

Diferensiasi Konten

Menyediakan media bantu visual berupa bagan alur kata kunci soal cerita (peta konsep visual) pada Smart TV dan lembar panduan bagi peserta didik yang masih membutuhkan bantuan pemahaman materi awal.

Diferensiasi Proses

Peserta didik diberikan kebebasan menentukan strategi pemecahan masalah matematika:

  • Jalur 1: Menggunakan strategi Pohon Faktor (Faktorisasi Prima) dengan penandaan warna prima.
  • Jalur 2: Menggunakan strategi Tabel Pembagian Berulang (Sengkedan) dengan pembagi lingkaran.

Diferensiasi Produk

Peserta didik dapat menyajikan laporan hasil kerja kelompok dalam bentuk papan bagan visual sederhana, poster bergambar, atau tampilan sajian digital di Smart TV.

PEMANFAATAN TEKNOLOGI

  1. Smart TV: Menampilkan slide presentasi interaktif, video singkat animasi pasar tradisional Jawa, dan memvisualisasikan hasil karya siswa melalui fitur screen mirroring.
  2. Laptop Guru: Mengendalikan tayangan visual, perangkat lunak presentasi interaktif, dan pemutaran media pembelajaran.
  3. Internet: Mengakses sumber belajar digital visual dan materi pengayaan kontekstual.

MEDIA DAN SUMBER BELAJAR

  1. Media Visual Digital: Slide Canva/PowerPoint interaktif berisi ilustrasi masalah kontekstual KPK dan FPB.
  2. Alat Bantu Visual: Karton manila bergaris, spidol warna-warni untuk menggambar pohon faktor dan tabel sengkedan.
  3. Sumber Belajar: Buku Siswa Matematika SD Kelas V Kurikulum Merdeka, Kalender Pasaran Jawa, dan Lingkungan Sosial Masyarakat Desa Wringin Anom.

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

LabelIsi
Judul KegiatanMenyelesaikan Soal Cerita KPK dan FPB Berbasis Kearifan Lokal
Nama Kelompok.....................................................
Anggota Kelompok1. .................................................
2. .................................................
3. .................................................
4. .................................................
Kelas / SemesterV (Lima) / Ganjil
Tanggal.....................................................

Petunjuk Kerja

  1. Bacalah setiap soal cerita berikut dengan cermat secara bersama-sama dalam kelompok.
  2. Berilah garis bawah pada KATA KUNCI yang kalian temukan di dalam soal.
  3. Tentukan apakah soal tersebut diselesaikan menggunakan konsep KPK atau FPB.
  4. Pilih strategi yang paling disukai kelompokmu (Pohon Faktor atau Tabel Pembagian).
  5. Tuliskan langkah penyelesaian dan kalimat kesimpulannya secara jelas!

Lembar Permasalahan

Masalah 1 (KPK - Konteks Pasaran Jawa)

Pak Wagiman dan Pak Kasto adalah dua peternak sapi di Desa Wringin Anom. Pak Wagiman menjual susu perah ke Kota setiap 6 hari sekali pada hari pasaran Wage. Pak Kasto menjual susu perah setiap 8 hari sekali pada hari pasaran Wage. Apabila hari ini mereka bersama-sama menjual susu pada hari pasaran Wage, berapa hari lagikah mereka akan menjual susu secara bersama-sama lagi pada hari yang sama?

  • Kata Kunci yang Ditemukan: ........................................................................
  • Konsep yang Digunakan (KPK / FPB): ........................................................................
  • Penyelesaian (Pilih Pohon Faktor atau Tabel):
  • Kesimpulan Jawab: ....................................................................................

Masalah 2 (FPB - Konteks Tradisi Bersih Desa)

Dalam rangka peringatan Bersih Desa Wringin Anom, panitia menerima sumbangan 45 bungkus nasi jago dan 60 bungkus krupuk rambak. Panitia akan membagikan makanan tersebut ke dalam beberapa meja konsumsi panitia sama banyak tanpa sisa.

a. Berapa jumlah meja konsumsi paling banyak yang dapat menerima paket makanan tersebut?

b. Berapa jumlah nasi jago dan krupuk rambak pada setiap meja konsumsi?

  • Kata Kunci yang Ditemukan: ........................................................................
  • Konsep yang Digunakan (KPK / FPB): ........................................................................
  • Penyelesaian (Pilih Pohon Faktor atau Tabel):
  • Kesimpulan Jawab: ....................................................................................

REMEDIAL

Bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP) setelah asesmen sumatif:

  1. Pembimbingan Individu/Tutor Sebaya: Menjelaskan kembali konsep dasar bilangan prima dan pembagian dasar secara visual menggunakan benda konkret (seperti kelereng/kartu angka).
  2. Penugasan Terstruktur: Memberikan 2 soal cerita sederhana dengan kata kunci yang diperjelas menggunakan penanda warna merah pada bagian instruksi (fokus pada membedakan ciri kejadian berulang dan membagi merata).

PENGAYAAN

Bagi peserta didik yang telah melampaui kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP):

  1. Penugasan berbasis HOTS: Menyelesaikan soal cerita kombinasi 3 bilangan bertingkat yang mengintegrasikan penanggalan masehi dan siklus 5 pasaran Jawa.
  • Contoh Soal: "Jadwal posyandu balita diadakan 12 hari sekali, jadwal posyandu lansia 15 hari sekali, dan pemuda karang taruna 20 hari sekali. Jika ketiga kegiatan tersebut berlangsung bersamaan pada hari Jumat Kliwon, tanggal berapa dan hari pasaran apa kegiatan tersebut akan berlangsung bersamaan kembali?"

REFLEKSI GURU

NoPertanyaan RefleksiJawaban Guru / Catatan Evaluasi
1Apakah integrasi kearifan lokal pasaran Jawa memudahkan peserta didik memahami konsep KPK dan FPB?Peserta didik menjadi sangat antusias karena konteks dekat dengan kehidupan orang tua mereka, serta visualisasiSmart TV mempermudah pemahaman.
2Apakah pembagian diferensiasi proses (pilihan Pohon Faktor vs Tabel) berjalan efektif dalam kelompok?Sangat efektif. Kelompok visual cenderung memilih pohon faktor berwarna, sedangkan kelompok yang menyukai efisiensi memilih tabel pembagian.
3Berapa persentase peserta didik yang mampu mengidentifikasi kata kunci soal cerita dengan benar?Sekitar 85% peserta didik berhasil membedakan konsep KPK dan FPB melalui analisis kata kunci secara mandiri.
4Kendala apa yang paling dominan dirasakan selama proses pembelajaran berorientasi Deep Learning ini?Masih terdapat 3-4 peserta didik yang lambat dalam perhitungan dasar pembagian bilangan prima, sehingga memerlukan waktu tambahan.
5Apa langkah perbaikan yang akan dilakukan untuk pertemuan pembelajaran berikutnya?Memperkuat pemahaman perkalian dan pembagian dasar (drill warm-up) selama 5 menit di awal pendahuluan pada materi selanjutnya.

REFLEKSI PESERTA DIDIK

NoPertanyaan RefleksiTanggapan Peserta Didik
1Bagian mana dari pembelajaran hari ini yang paling kamu sukai?[ ] Menonton tayangan Smart TV
[ ] Berdiskusi kelompok dengan teman
[ ] Menghitung hari pasaran Jawa
[ ] Mempresentasikan hasil poster di depan kelas
2Apakah kamu sudah bisa membedakan kapan harus menggunakan KPK dan kapan harus menggunakan FPB?[ ] Sudah paham sekali
[ ] Cukup paham, tapi kadang masih ragu
[ ] Belum paham, masih sering tertukar
3Metode mana yang paling kamu sukai untuk menyelesaikan soal KPK dan FPB?[ ] Metode Pohon Faktor (Faktorisasi Prima)
[ ] Metode Pembagian Berulang (Tabel/Sengkedan)
4Bagaimana perasaanmu selama mengikuti pembelajaran matematika hari ini?[ ] Senang dan bersemangat
[ ] Biasa saja
[ ] Bingung dan lelah

BAHAN BACAAN

Bahan Bacaan Guru

  • Trianto. (2011). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana.
  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Buku Panduan Guru Matematika untuk SD/MI Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
  • Suprijono, A. (2015). Constructivism Learning Model & CRT Implementation in Primary School Mathematics. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bahan Bacaan Peserta Didik

  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Buku Siswa Matematika untuk SD/MI Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
  • Modul Visual Matematika Kontekstual: "Belajar KPK & FPB Bersama Pasaran Jawa" (Bahan Ajar Buatan Guru).

GLOSARIUM

  1. Faktorisasi Prima: Menguraikan suatu bilangan menjadi bentuk perkalian bilangan-bilangan prima saja.
  2. Bilangan Prima: Bilangan asli yang lebih besar dari 1 yang faktor pembaginya hanya 1 dan bilangan itu sendiri (misal: 2, 3, 5, 7, 11,...).
  3. Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK): Bilangan kelipatan terkecil yang sama dari dua bilangan atau lebih.
  4. Faktor Persekutuan Terbesar (FPB): Bilangan faktor terbesar yang sama dari dua bilangan atau lebih.
  5. Pasaran Jawa: Sistem penanggalan tradisional masyarakat Jawa yang terdiri dari 5 hari siklus: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
  6. Tabel Sengkedan: Metode pembagian berulang secara mendatar untuk mencari nilai FPB dan KPK dari beberapa bilangan sekaligus.

DAFTAR PUSTAKA

Hobri, dkk. (2022). Matematika untuk SD/MI Kelas V. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Mustaqim, B., & Ary, A. (2008). Ayo Belajar Matematika untuk SD/MI Kelas V. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Rahayu, S. (2021). Etnomatematika: Penerapan Konsep Matematika dalam Pembudayaan Kalender Pasaran Jawa. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, 8(2), 112-125.

Sugiman. (2020). Strategi Pemecahan Masalah Matematika Kontekstual pada Sekolah Dasar. Yogyakarta: UNY Press.

LAMPIRAN

Lembar Observasi Profil Pelajar Pancasila & Keterampilan

NoAspek yang DinilaiKriteria SkorSkor
1Bernalar Kritis (Mengidentifikasi Masalah)Skor 4: Peserta didik sangat terampil menganalisis data soal, memisahkan fakta penting, dan menentukan rumus KPK/FPB secara mandiri tanpa kesalahan.
Skor 3: Peserta didik mampu menganalisis soal dan menentukan rumus dengan sedikit arahan dari guru.
Skor 2: Peserta didik sering keliru membedakan soal KPK dan FPB, membutuhkan petunjuk berulang.
Skor 1: Peserta didik tidak mampu menganalisis soal dan tidak memahami perbedaan KPK/FPB.
2Gotong Royong (Kerja Sama Kelompok)Skor 4: Peserta didik aktif mengambil peran dalam kelompok, membantu teman yang kesulitan, dan menghargai semua saran.
Skor 3: Peserta didik bersedia bekerja sama dan menyelesaikan tugas bagiannya dengan baik.
Skor 2: Peserta didik acuh tak acuh, hanya bekerja jika ditegur atau diminta oleh ketua kelompok.
Skor 1: Peserta didik menolak bekerja sama dan mengganggu jalannya kerja kelompok.
3Berkebinekaan Global (Apresiasi Kearifan Lokal)Skor 4: Peserta didik menunjukkan rasa antusias tinggi dan menghargai integrasi konteks pasaran Jawa dalam matematika.
Skor 3: Peserta didik menerima dan mengikuti aktivitas berbasis konteks pasaran Jawa dengan baik.
Skor 2: Peserta didik kurang tertarik dengan konteks budaya lokal yang disajikan.
Skor 1: Peserta didik menolak atau mengacuhkan pembahasan budaya lokal dalam pembelajaran.
4Keterampilan Komunikasi (Presentasi)Skor 4: Peserta didik menyampaikan argumentasi matematika secara sistematis, menggunakan bahasa yang santun, serta vokal yang sangat jelas.
Skor 3: Peserta didik menyampaikan hasil kerja dengan baik walau sistemik penulisan/penyampaian sedikit kurang rapi.
Skor 2: Peserta didik menyampaikan materi dengan malu-malu dan kalimat sulit dipahami.
Skor 1: Peserta didik diam dan tidak mampu menyampaikan hasil kerja kelompoknya.
 
Mengetahui,
Kepala Sekolah,
Sri Anggriyani, S.Pd.
NIP. 198004152008012016
 
Situbondo, ___________2026
Guru Kelas,
Didik Sadi, S.Pd.
NIP. 198406162025211130